
"Selamat Sekar, Michael, atas pernikahan kalian, aku turut bahagia." Melani menjabat tangan Sekar dan Michael secara bergantian.
Selang beberapa minggu, setelah proses lamaran di pantai, Michael dan Sekar melangsungkan pernikahan di hotel. Kini keduanya sudah sah sebagai suami dan istri. Setelah selesai melangsungkan akad nikah tadi pagi, pengantin baru itu langsung melanjutkan resepsi.
Pesta pernikahan diselenggarakan begitu meriah dan penuh bahagia. Terlihat sanak saudara dan keluarga serta teman dekat Michael dan Sekar menghadiri acara pernikahan, Andre pula turut menghadiri. Sedari tadi dia mengemong Rena sambil memperhatikan ke depan sana, melihat pengantin baru itu, menyambut para tamu undangan berdatangan.
Termasuk Melani, juga di undang oleh Sekar sendiri. Wanita itu sudah bisa menerima apa yang telah terjadi pada hidupnya dan mencoba menata kembali hidupnya. Saat ini Melani tengah menjalani pengobatan HIV/AIDS dengan minum obat ARV secara rutin. Meskipun dia tahu penyakit yang ia derita susah sembuhnya tapi Melani akan tetap berusaha bertahan hidup sampai Allah menjemputnya suatu saat nanti.
"Terima kasih Mel, bergabunglah bersama Ibuku Mel, lihat dia di sana menjadi menjaga Reni," sahut Sekar.
"Tentu saja Sekar, aku ke sana dulu ya, sudah lama aku tidak bertemu Reni, bye Michael." Sebelum menggerakkan kaki, Melani melemparkan senyuman ke arah Michael dan Sekar.
"Sebaiknya kamu duduk saja, Sekar," ucap Michael saat melihat wajah Sekar yang terlihat lelah.
Sekar mengulum senyum tipis. "Tak usah, kamu lihat itu di depan ada tamu lagi."
"Oke deh, kalau capek, lambaikan tangan ya, aku nggak mau kamu kecapean ladenin aku nanti malam,"kelakar Michael sambil mengedikan sebelah mata.
Sekar menyenggol lengan Michael seketika. "Michael!" sahutnya sambil melototkan matanya.
Michael malah terkekeh-kekeh sejenak.
Tepat pukul tujuh sembilan malam, para tamu undangan berangsur-angsur pulang. Andre melangkah cepat, mendekati Sekar dan Michael.
"Sekar, Michael, sekali lagi selamat ya, aku harus pulang, aku lupa minum obatku hari ini," sahutnya dengan muka pucat.
__ADS_1
"Astaga, Andre." Sekar sampai membekap mulutnya sendiri.
"Ya sudah cepatlah pulang, Andre. terima kasih sudah mau menjaga Rena tadi," sahut Michael seketika.
Andre mengangguk. "Iya, oh ya mereka sudah aku tidurkan di sebelah kamar kalian."
"Baiklah," sahut Michael.
"Iya, hati-hati Andre." Sekar menimpali.
Selepas kepergian Andre, keduanya saling melemparkan pandangan sejenak.
"Tenanglah Sekar, aku akan menyuruh Flores untuk menguntit Andre dan memastikan Andre sampai dengan selamat," ucap Michael sambil menggelus punggung Sekar.
Michael menarik napas panjang. Tentu saja selama ini ia menahan cemburu, saat mendengar Andre berada di dekat Sekar, meski hanya sekadar bersilaturahmi bersama Rena dan Reni. Tapi, Michael tak mau egois, walau bagaimanapun Andre adalah Ayah biologis Rena dan Reni.
"Tentu saja aku cemburu, apalagi sekarang kamu terlihat panik," ucap Michael.
"Maaf, aku panik karena tak mau melihat Rena sedih, Rena anaknya sensitif."
"Hm, iya, Sekar. Aku memakluminya, tapi mulai dari sekarang, jadi jika Andre mau bertemu Rena dan Reni, minta izinlah padaku, karena aku adalah imammu sekarang."
Sekar mengangguk, terkagum-kagum sejenak dengan sikap dewasa Michael.
"Iya, pasti itu, terima kasih karena sudah mengerti, Michael."
__ADS_1
"Sama-sama Sayang." Michael menarik pinggang Sekar seketika, mengabaikan tatapan Miranda dan Karl, tengah menggelengkan kepala, melihat kelakuan putra bungsu mereka.
Sekar terkesiap.
"Sudah siap belum, malam ini kamu tak akan aku biarkan tidur," desis Michael pelan di telinga Sekar tiba-tiba.
"Michael!" Sekar langsung menabok pundak Michael sambil menundukkan muka, menahan malu karena mendengar perkataan Michael barusan.
Selang beberapa menit, Michael mengajak Sekar untuk ke kamar. Saat di lift hotel, dia langsung menggendong Sekar ala bridal style.
"Michael, turunkan aku, malu tahu." Sekar menyembunyikan wajahnya di dada bidang Michael.
"Shft, diamlah Sayang, kapan lagi coba di gendong kan." Michael tersenyum lebar.
Lima menit kemudian, Michael langsung membuka pintu kamar, namun baru saja masuk ke dalam, raut wajahnya berubah muram.
"Shakila! Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Michael tanpa berniat menurunkan Sekar.
"Shakila mau lihat Daddy sama Mommy bikin bayi, hoammm, kata teman Shakila nggak lama, tuh Shakila udah bawa tanah liatnya," Dengan muka tanpa dosa Shakila berkata.
Sekar terkekeh melihat muka Shakila yang lucu, menurutnya.
Michael mendengus kasar.
Si4l! Hancur sudah malam pertamaku! Argh! Anak tenggil ini harus di kirim ke planet lain.
__ADS_1