Ketika Perselingkuhanku Terkuak

Ketika Perselingkuhanku Terkuak
Keputusan


__ADS_3

"Maaf, aku terlambat, Michael, tadi aku ke panti asuhan dulu menitipkan Rena dan Reni kepada Ibu," kata Sekar kemudian.


"Tidak apa-apa, ayo duduklah dulu." Setelah mendengarkan alasan Sekar, Andre bernapas lega, secepat kilat ia menarik kursi, mempersilakan Sekar untuk duduk di hadapannya.


Sekar mengangguk dan tersenyum tipis kemudian menjatuhkan bokong di kursi.


"Apa kamu sudah memesan makanan?" tanya Sekar setelah menaruh tas clutch-nya di paha.


"Belum, aku sengaja menunggumu." Michael melemparkan senyum tipis sejenak. "Tunggu sebentar," ucapnya sambil menjentikan tangan ke udara, memberi kode pada waiters untuk datang ke meja.


Setelah memesan makanan dan minuman, kecanggungan melanda Sekar dan Michael tiba-tiba. Untuk semenit, keduanya terdiam membisu, tengah kebingungan satu sama lain sekarang.


"Hm, Sekar, bagaimana keadaan Andre?" Mau tak mau, Michael menggunakan nama Andre untuk memulai pembicaraan.


Mendengar nama Andre di sebut, wajah Sekar seketika murung. Wanita itu tak langsung menjawab. Kedua matanya bergerak ke segala arah.


"Apa ada masalah, Sekar?" tanya Michael dengan alis bertautan. Saat ini, pria blasteran tersebut sangat penasaran, mengapa raut wajah Sekar berubah drastis.


"Iya, ada masalah, ini terkait dengan Andre dan anakku, tadi sore Rena merengek ingin bertemu Ayahnya. Walaupun Andre bukan suami yang baik, tapi selama ini dia dekat dengan Rena. Dan sekarang Andre susah di hubungi dan sulit ditemui, tadi kami ke rumahnya, tidak orang di sana, sepi dan berantakan, aku sudah bertanya kepada para tetangga, kata mereka Andre sudah tak terlihat seminggu yang lalu, terakhir kali mereka melihat Andre mengejar Melani dan tak tahu pergi kemana. Lalu ada desas-desus yang beredar kalau Melani masuk rumah sakit karena kecelakaan, aku sudah mencari informasi di mana Melani di rawat tapi aku tak menemukan keberadaannya, siapa tahu saja Melani tahu di mana Andre," jelas Sekar. Dia amat penasaran, mengapa Andre tak pernah lagi menghubungi Rena. Sekar sedih karena akhir-akhir ini sering sekali melihat Rena murung.


"Kecelakaan? Apa kamu sudah mencoba menelepon keluarga Melani atau keluarga Andre?" Entah mengapa pembahasan Andre dan Melani, membuat Michael penasaran juga sekarang.


"Orangtua Melani sudah tidak lagi mengakui anaknya, kalau Andre, setahuku Mamanya tidak memiliki saudara."

__ADS_1


"Hmm, aku akan membantumu nanti, sekarang kita makan dulu," sahut Michael kala melihat pramusaji datang kemudian meletakkan dua piring di atas meja.


Sekar menganggukkan kepala.


Selang beberapa menit, setelah menghabiskan hidangan utama, dan melanjutkan dengan makanan pencuci mulut yaitu caramel apple slices, Michael melirik-lirik Sekar sekilas. Dia tengah merangkai kata-kata dibenaknya untuk menanyakan perasaan Sekar terhadapnya.


"Sekar," panggil Michael seketika.


Sekar menoleh kemudian berkata,"Iya."


"Hmm." Michael berdeham rendah, mengatasi kegugupan yang menerpanya sekarang. Takut jika cintanya di tolak. Sebelum berkata pria itu menarik napas dalam. "Bagaimana Sekar? Apa kamu menerima pernyataan cintaku kemarin?"


Sekar meletakan sendok mini tersebut dan menatap lekat-lekat pria yang berhasil menembus hatinya ini. "Untuk saat ini, aku akan menerimamu sebagai pacar, aku tak mau langsung menikah, Michael. Biarlah kita saling mengenali karakter masing-masing terlebih dahulu, kau tahu sendiri kan aku pernah gagal di dalam pernikahan, dulu aku pernah mencintai dan mendedikasikan hidupku untuk mantan suamiku, dia juga dulu pernah mengatakan cinta tapi nyatanya cintanya hanya di bibir saja, aku ingin bukti bukan janji, Michael, bagaimana apa kamu setuju kalau kita berpacaran dulu?"


Kebahagian menjalar di palung hati Michael seketika. Dia memaklumi perasaan Sekar saat ini, apalagi dia juga pernah mengalami kegagalan dalam berumahtangga. Mungkin dirinya terlalu terburu-buru mengatakan ingin mempersunting Sekar, menjadi istrinya kemarin.


Sekar mengangguk pelan sambil menahan tawanya sekarang, melihat wajah Michael, yang menurutnya lucu.


"Jadi, panggilan kita apa?" Michael langsung bertanya, panggilan kesayangan mereka nantinya apa, seperti pasangan pada umumnya.


"Ha? Maksudnya?" tanya Sekar dengan kening berkerut kuat.


Melihat mimik muka Sekar, Michael berkata sambil tersenyum kaku."Hm, tidak, lidahku keseleo tadi, sepertinya Shakila tengah membicarakan aku sekarang, huh dasar anak tenggil itu, hehe, ayo kita habiskan makanan, aku tak mau kamu pulang kemalaman."

__ADS_1


Sekar hanya beroh ria saja.


Selang beberapa menit, keduanya sudah berada di parkiran mobil.


"Hati-hati, jangan laju-laju bawa mobilnya, kabari aku kalau sudah sampai di panti asuhan, dan sebaiknya kamu menginap di sana saja dulu, hari sudah semakin malam," sahut Michael, melihat Sekar di kursi depan tengah menyalakan mobil.


"Iya, terima kasih, Michael. Aku akan mengabarimu nanti, aku pergi dulu." Sekar tersenyum tipis lalu mengemudikan kendaraannya, setelah melihat Michael menganggukan kepala.


Melihat mobil Sekar menjauh, secepat kilat Michael berlarian mendekati mobilnya, hendak mengikuti Sekar, ingin mengetahui tambatan hatinya itu sampai dengan selamat ke panti asuhan. Namun, bunyi kegaduhan di bagasi belakang mobil, lantas menghentikan gerakan tubuhnya. Michael penasaran lalu membuka cepat bagasi mobil.


"Shakila!" Dan betapa terkejutnya Michael melihat Shakila tengah berbaring sambil memakan coklat. Keadaan bagasinya saat ini berantakan dan terdapat bungkus-bungkus chiki berserakan. Michael tak mampu berkata apa-apa lagi sekarang.


Shakila malah menyengir kuda lalu merubah posisi badannya menjadi duduk. "Suprise! Jadi, bagaimana Daddy, apa Daddy di terima atau tidak? Feeling Shakila sih, Daddy di tolak, karena Daddy tak setampan dulu," sahutnya dengan bibirnya yang belepotan coklat.


"Oh my! Apa yang kamu lakukan di sini Shakila, bagaimana bisa!? Di mana Uncle Flo?" Michael menyugar rambutnya ke atas sambil menghela napas kasar.


"Tuh." Shakila menunjuk dengan bibir munggilnya, memperlihatkan Flores dengan jarak beberapa meter memperhatikan ayah dan anaknya itu sedari tadi.


Michael menoleh lalu mengurut-urut pelipisnya sejenak.


"Maafkan saya Mister, Nona Shakila memaksa saya tadi!" sahut Flores setengah berteriak.


Michael tak mengubris, malah mengalihkan pandangan ke arah Shakila. "Shakila, uang jajanmu akan Daddy kurangi," ucapnya sambil berkacak pinggang dan geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"What?" Shakila begitu terkejut, dengan muka cemberut ia berkata,"Salah Shakila apa Daddy? Ini tidak adil."


"Sudahlah,jangan banyak membantah, sekarang masuk ke dalam."Michael segera mengangkat tubuh Shakila seperti karung beras, mengabaikan teriakan cempreng anaknya yang terdengar di parkiran.


__ADS_2