
Michael hanya mampu menghela napas kasar, Shakila benar-benar merusak suasana hatinya sekarang. Bagaimana tidak'putrinya itu malah meminta tidur bersama Sekar.
"Yuhu, Shakila boboknya di samping Mommy ya," sahut Shakila sambil menahan kantuk.
Sekar sudah diturunkan Michael. Kini wanita itu tengah mengulum senyum tipis. "Iya Sayang, Mommy ganti baju dulu, Shakila baring aja di kasur."
"Nggak ah, banyak bunganya, Mom. Mommy ikut Shakila ke kamar sebelah ya, tidur sama Rena dan Reni juga hoammm."
"Shakila! Di sini saja," bentak Michael seketika sambil melototkan mata. Dia tengah mencari cara agar dia dapat menikmati waktu berduanya saja.
Mendengar bentakan Daddynya, Shakila menangis kuat tiba-tiba. "Hiks hikss... Daddy jahat."
Michael terhenyak, terlalu emosi, membuat ia kehilangan akal dan tanpa sadar menaikkan nada suaranya.
"Michael, jangan kasar sama Shakila!" Sekar menggeleng pelan lalu menghampiri Shakila dan memeluk putri sambungnya itu.
Sementara, Michael bergeming di tempat, memperhatikan Sekar tengah menenangkan putri kandungnya.
Lima menit kemudian, tangis Shakila sudah mereda. Saat ini gadis munggil itu tengah di gendong Sekar. Kedua mata bulatnya nampak tertutup sempurna, sepertinya Shakila mulai masuk ke ruang mimpi.
"Michael, aku antar Shakila ke kamar dulu, kamu tunggu sebentar ya," kata Sekar pelan.
"Kok sebentar, Shakila maunya tidur sama Mommy," Dengan mata terpejam Shakila berkata, tampaknya anak kecil tersebut belum tertidur pulas.
Wajah Michael semakin muram. Dia hanya mampu mengangguk pelan dan berharap Sekar dapat mengetahui kegundahannya.
__ADS_1
Selepas kepergian Sekar, Michael memutuskan pergi ke kamar mandi hendak membersihkan diri.
Selang beberapa menit, Michael sudah berganti pakaian tidur, saat menyisir rambutnya di depan cermin, terdengar getaran ponselnya di atas nakas. Secepat kilat ia mengambil benda pipih tersebut, lalu mengerutkan dahi kala melihat kontak nama Andre menghiasi layar ponselnya.
"Hallo, Andre, ada apa?"
"Hallo, maaf mengganggu waktumu Michael, aku minta maaf karena pulang lebih awal tadi."
"Iya tak apa-apa Andre, lagipula kamu memang harus beristirahat, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Michael berbasa-basi.
"Baik, sangat baik." Di ujung sana Andre tersenyum getir, bibirnya mengatakan baik-baik saja, namun kenyataannya darah mengalir dari hidungnya saat ini. Sedari tadi Andre menahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Syukurlah."
"Kalau begitu aku tutup dulu, selamat malam pertama Michael, aku berharap kamu bisa menjaga Sekar jika aku pergi nanti..." lirih Andre sambil menutup hidungnya agar darah berhenti menetes. Dia menarik napas panjang sejenak, menahan kepedihan yang semakin terasa sekarang.
Michael tak langsung menjawab, keheranan karena mendengar suara Andre yang begitu lemah.
"Hm, iya Andre, terima kasih."
Setelah memutus sambungan, Michael pergi ke kamar sebelah. Dia tak mau malam pertamanya berakhir sia-sia.
Kamar sebelah.
Sekar tersenyum simpul, melihat ketiga anak-anaknya terlelap di atas tempat tidur. Perhatian Sekar tiba-tiba teralihkan saat mendengar bunyi pintu terbuka.
__ADS_1
"Michael," desis Sekar.
Melihat Shakila, Rena dan Reni sudah tergolek di ranjang. Michael melemparkan senyum penuh arti ke arah Sekar. Tanpa mengucap satu patah katapun, dia melangkah cepat, mendekati Sekar kemudian menarik langsung tangan sang istri dan keluar dari kamar.
Sekar terheran-heran dibuatnya.
Sesampainya di luar, Sekar berkata," Ada apa?"
Bukannya menjawab pertanyaan, Michael malah mengangkat tubuh Sekar seketika hingga Sekar hampir saja berteriak.
"Shftt, diamlah Sayang, kamu pikir bisa lolos dariku malam ini." Michael berbisik pelan di telinga Sekar sembari melangkah cepat menuju kamar mereka.
Sekar panik bukan main kala Michael saat ini merebahkan tubuhnya ke atas kasur.
"Michael, aku—"
Belum sempat Sekar mengeluarkan pendapat, Michael membungkam bibirnya seketika. Sekar menengang, meskipun ini bukan yang pertama baginya, akan tetapi, karena sudah tak lama bermain kuda lumping, Sekar jadi takut, terlebih lagi Michael memiliki postur tubuh seperti bule-bule pada umumnya yang tinggi dan besar.
Malam ini, adalah malam yang hangat bagi pengantin baru tersebut. Michael membawa Sekar mengarungi samudra kenikmatan. Pria itu menghujam inti tubuh Sekar bertubi-tubi hingga Sekar memekik nikmat. Kebahagiaan menyelimuti hati Michael karena pada akhirnya dapat menikmati malam bersama wanita yang ia cintai.
Berbeda dengan Andre, di rumahnya, dia tengah menahan kepedihan akibat penyakit yang ia derita saat ini.
"Sekar... Maafkan aku... Pria tak berguna ini selama ini menyakitimu... Semoga kamu selalu bahagia, aku mencintaimu Sekar...."
Tanpa permisi cairan bening mengalir dari pelupuk mata Andre. Dia menatap nanar foto pernikahan antara ia dan Sekar yang masih terpajang rapi di galeri ponsel.
__ADS_1