Ketika Perselingkuhanku Terkuak

Ketika Perselingkuhanku Terkuak
Gelisah


__ADS_3

Sementara itu di sisi lain, di sebuah villa bergaya vintage tepatnya di sebrang rumah Sekar. Michael pun melakukan hal yang serupa. Hampir setiap hari pria itu mengintip melalui celah-celah jendela, memperhatikan Sekar dari kejauhan.


Setelah menyampaikan perasaannya kala itu, Michael sengaja untuk tidak menghubungi Sekar ataupun menampakkan batang hidungnya. Bermaksud ingin mengetahui apakah Sekar juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Walau batinnya tersiksa karena tak bisa melihat wajah pujaan hatinya. Michael tetap kekeh pada pendiriannya. Namun, sudah seminggu tak ada tanda-tanda Sekar akan menghubungi, sekadar menanyakan kabar padanya. Kegalauan melanda Michael seketika.


"Daddy, ayo ngapain tuh!"


Michael tersentak kala Shakila menyelenong masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Membalikkan badan dengan cepat lalu berkata seolah-olah tak terjadi apa-apa,"Ngapain ke sini Sweety?"


Bukannya menanggapi perkataannya, Michael malah balik bertanya. Menjadikan bibir Shakila mengerucut tajam. Bocah munggil itu sedang menahan sebal.


"Ish! Daddy nggak asik ah, kalau kangen kesamperin dong ke rumahnya." Dalam hitungan detik, raut wajah Shakila berubah drastis. Saat ini, ia tengah mengedipkan mata centil hendak menggoda Daddynya.


Michael malah berdeham kuat lalu menghempas bokongnya di tepi ranjang. "Shftt, Sweety, kamu masih kecil, udah, tidur siang gih sana," ucapnya sambil menyambar sebotol wine di atas meja kemudian menuangkan air berwarna merah pekat itu ke dalam gelas.


"Nggak usah sok jual mahal deh, Daddy pikir Shakila nggak tahu, kalau Daddy jemput Shakila ke sekolah sekalian mau caper sama Bundanya Rena, kan hehe, biasanya Uncle Flo yang jemput Shakila, hihi, ayo ngaku." Shakila tetap tak gentar, ingin mencampuri urusan Daddynya. Selama ini bocah munggil berpipi tembab itu secara diam-diam mengamati gerak-gerik Michael.

__ADS_1


Byur!


Mendengar hal itu, Michael menyemburkan air anggur seketika. Lelaki berwajah tampan itu menatap heran putri kandungnya sejenak dan berkata tegas,"Shakila, masuk ke kamarmu!"


Melihat respon Daddynya, Shakila semakin bertambah kesal. Dia menghentak-hentakkan kakinya ke lantai sejenak dan tanpa mengeluarkan satu katapun berlarian keluar kamar Daddynya.


"Ada apa dengannya? Fiuh, bagaimana dia bisa tahu," gumam Michael kemudian menekan bel di kamar hendak memberitahu asisten di vila untuk membersihkan bekasan air anggur tadi' yang mengotori karpet di kamarnya.


"Mommy Sekar!!! Daddyku bilang sehari tidak melihat wajah Mommy yang sangat cantik itu! Dia tak sanggup untuk hidup! Dia merindukanmu, Mom!"


Kedua mata Michael tiba-tiba melebar saat mendengar suara Shakila berteriak sangat nyaring di luar dan gadis munggil itu sepertinya menggunakan toa. Michael panik bukan main. Dia bergegas melangkah keluar kamar menuju sumber suara.


"Daddyku sangat merindukan Mommy. Kata Daddy, Mommy Sekar itu seperti malaikat, hihi. Mommy Sekarrr!! Dengar kan? Hallo, hallo, hallo, cek,cek,cek, 1 2 3 4 5 6 7, del-hmmmm!!!" Shakila terkejut saat seseorang membekap mulutnya dari belakang dan mengangkat tubuhnya. Secepat kilat ia menoleh, memutar mata malas karena ternyata Daddnya lah pelakunya.


"Shakila, what are you doing?" tanya Michael dengan wajah panik.

__ADS_1


"Hmmmm, hmmm." Shakila berdeham seperti Nissa Sabyan. Dia tengah memberikan kode pada Michael agar mau melepaskan dirinya dan menurunkan bekapan.


Michael mengerti lalu menurunkan anaknya seketika.


"Shakila mau membantu Daddy untuk memikat hati Mommy Sekar, so what? Ada masalah?" tanya Shakila sambil melipat tangan di dada.


Michael menghela napas kasar. "Jangan Shakila, kamu masih kecil, sudah ayo masuk ke kamar sekarang."


"Big no!" ucapnya cepat sambil mengarahkan toa dekat bibirnya kemudian berteriak nyaring kembali. "Mommy Sekar, Daddy bilang i lap yu, Mom-Hmmfff!!"


Michael membekap lagi mulut Shakila.


"Iya, Shakila, ada apa?"


Tubuh Michael seketika menegang saat mendengar suara Sekar terdengar dari ujung sana. Tanpa berniat menurunkan tangannya, dia menoleh ke depan, melihat Sekar tengah berdiri di teras rumah sambil memegang toa.

__ADS_1


Aduh, bagaimana ini? Hancur sudah rencanaku, dasar anak tenggil!


__ADS_2