
Setelah mengganti pakaian, Andre bergegas keluar dari rumah milik Mamanya. Setelah Mamanya mendekam di penjara, rumah tersebut benar-benar tak terurus. Andre tak peduli, karena selama ini hanya bisa terbaring lemah di atas tempat tidur, akibat hantaman dan pukulan Michael tempo lalu, Andre mendapatkan luka parah di beberapa tempat.
Sesampainya di rumah dia dan Sekar. Andre keheranan mengapa rumah terlihat sepi sama sekali seperti tak berpenghuni. Padahal hari ini adalah hari weekend. Dia pun melangkah cepat masuk ke dalam, hendak memeriksa keadaan rumah. Selang beberapa menit, saat tak melihat Sekar dan Rena berada di rumah, Andre memutuskan pergi ke butik istrinya itu.
"Di mana Sekar?" tanya Andre kepada salah satu karyawan di butik.
"Di ruang pribadi Nyonya Pak," sahutnya cepat.
Tanpa banyak kata, Andre naik ke lantai dua sambil membawa surat cerai yang diberikan Sekar.
"Sekar!" Begitu pintu dibuka, Andre terpaku sejenak, menatap heran karena Rena memundurkan langkah kakinya seperti orang ketakutan saat melihat kedatangannya.
"Rena, turunlah ke bawah dulu ya, Nak. Bunda sama Ayah mau ngomong sebentar," ucap Sekar kemudian.
Rena mengangguk pelan lalu berjalan cepat melewati Ayahnya.
"Aku sudah menduga kamu akan datang ke sini, apa ada yang mau kamu tanyakan Mas?" Tanpa berniat beranjak dari kursi, Sekar menatap ke arah Andre sembari menyilangkan tangan di dada.
__ADS_1
Andre mendekati Sekar lalu melempar surat gugatan di atas meja Sekar. "Apa-apain ini Sekar?! Kenapa kamu mengugat cerai aku! Aku tidak mau berpisah denganmu! Aku mencintaimu, Sekar! Aku tidak sanggup hidup tanpamu!"
Sekar bangkit berdiri lalu berjalan pelan, menghadap ke arah kaca raksasa di ruangan pribadinya.
"Cinta? Apa aku tidak salah mendengar? Kamu pikir aku tidak tahu, kemarin kamu menikah siri dengan Melani kan?" tanya Sekar sembari membalikan badan seketika, menatap penuh kecewa pada Andre.
Andre tergugu. Tak menyangka Sekar mengetahui pernikahan sirinya dengan Melani. "Sekar, aku bisa menjelaskannya–
"Sudahlah Mas, kamu tidak perlu menjelaskannya, aku sudah tahu semuanya, bahkan aku tahu selama sepuluh tahun ini kamu pernah tidur dengan sahabatku dulu, mantan-mantan kamu, karyawan pijat plus-plus dan teman-teman kantormu juga."
"Kalau kamu memang mencintaiku, kamu tidak akan menduakanku, tapi nyatanya perkataanmu hanyalah semu belaka. Selama sepuluh tahun ini aku dibohongimu, selama sepuluh tahun aku seperti orang dungu dan selama sepuluh tahun ini kamu tidur dengan banyak wanita di luar sana. Hampir setiap hari aku memikirkan kamu apa sudah makan atau belum di kantor, apa kamu baik-baik saja saat berkerja, tapi kamu malah menikamku dari belakang, Mas. Sebenarnya aku kurang apa Mas?"
Sekali lagi Sekar bertanya sambil menahan diri untuk tidak menangis di hadapan Andre sekarang. Bohong, jika dia tak tersiksa dengan nasib rumahtangganya. Sekar amat tahu Sang Pencipta tak menyukai adanya perpisahan tapi apa boleh buat, dia tak sanggup melanjutkan kembali hubungan bersama Andre, setelah dikhianati berulang kali.
Tak ada sahutan, Andre terdiam membisu.
"Lebih baik kita sudahi saja hubungan ini," ucap Sekar kemudian.
__ADS_1
"Tapi bagaimana dengan anak-anak kita, mereka masih kecil Sekar, pikirkan lah lagi Sekar. Mari kita perbaiki lagi hubungan ini bersama-sama. Aku mohon." Andre melangkah cepat, menghampiri Sekar.
"Tidak bisa, aku yakin kalau Rena dan Reni kalau sudah besar nanti pasti akan mengerti, sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar Mas. Aku sudah cukup memberimu waktu untuk memperbaiki sikapmu. Tapi kamu sama sekali tak bisa berubah, tenanglah aku tidak akan menghalangimu bertemu dengan mereka, walau bagaimanapun kamu tetap ayah biologis mereka."
Untuk sesaat Andre tak mampu berkata-kata lagi sekarang. "Sekar, aku mencintaimu..." lirihnya dengan menitihkan air mata seketika. "Aku minta maaf Sekar, aku hanyalah pria bodoh yang tidak pernah bersyukur memiliki istri sepertimu, aku menyesal, aku sangat menyesal, Sekar. Karena tak mampu menahan diri selama ini, berikan aku satu kesempatan lagi, Sekar, aku mohon...." Andre langsung menarik tangan Sekar dan membawanya ke dalam pelukan. Dia baru menyadari bahwa dirinya yang menjadi penyebab kandasnya mahligai rumahtangga mereka.
Sekar sama sekali tak menolak. Dadanya pun terasa sesak ketika mendengar suara tangisan Andre saat ini.
"Sekar, kembalilah padaku, aku minta maaf, aku sungguh minta maaf...." Dengan mata terpejam Andre berkata, berharap Sekar mau mendengarkan permintaannya. Seandainya waktu dapat diputar, Andre ingin sekali merubah segalanya.
"Maaf." Sekar mendorong pelan dada Andre lalu menatap sendu pria yang masih menjadi suaminya itu. "Jangan menangis Andre, aku berharap setelah kita bercerai, kamu dapat berubah menjadi lebih baik lagi," ucapnya sambil mengusap air mata Andre.
Andre nampak sesenggukan. "Tapi Sekar, aku nggak bisa hidup tanpamu, aku nggak sanggup..."
Sekar mengulas senyum tipis meski hatinya juga ikut teriris sekarang. "Pasti bisa, aku yakin kamu bisa hidup tanpa aku, setidaknya kita bisa menjadi teman, sekarang aku harus pergi, aku harus mengambil Reni di panti asuhan." Sekar menurunkan tangan seketika kemudian melangkah cepat keluar dari ruangan.
Cairan bening yang mengalir dari sudut mata Andre semakin turun deras. "Sekar, maafkan aku, maafkan aku... Aku mencintaimu Sekar...." Andre memukul dadanya sendiri sambil terisak kuat di ruangan pribadi Sekar.
__ADS_1