
"Ma, bagaimana ini? Kenapa teleponku tidak di angkat Papaku ya?" tanya Melani.
Setelah membuat kegaduhan barusan, Melani akhirnya terduduk lemas di dalam jeruji besi tersebut. Sebab untuk kesekian kalinya, panggilannya tak di angkat oleh Papa ataupun Mamanya.
Rika menarik napas kasar, mendekati menantunya itu sambil melayangkan tatapan nanar. "Kamu yakin Mel, coba di telepon lagi. Kamu tahu sendiri kan keluarga Mama nggak akan mungkin menolong Mama, suami Mama pasti sibuk dengan istri pertamanya itu," ucapnya karena selama ini suami Rika tak pernah peduli akan kehidupannya dan memang jarang sekali berkunjung ke rumah.
"Ish! Mama mah, kan aku udah bilang nggak bisa! Gimana sih!" bentak Melani sambil mendengkus kesal.
Mendengar suara Melani yang meninggi, Rika amat terkejut sebab sikap Melani seakan tak menghormatinya sebagai orang yang lebih tua.
"Mel, kok kamu malah bentak Mama sih?" tanya Rika mencoba berpikir positif, mungkin saja faktor hamil, Melani menjadi uring-uringan.
"Apaan sih! Biasa aja tuh, udah ah Ma, jangan dekat-dekat aku, gerah banget di penjara!" seru Melani sambil mendorong pundak Rika.
Untuk sejenak Rika terpaku di tempat, menatap tak percaya pada sosok menantu idamannya itu sekarang.
__ADS_1
"Papa!" teriak Melani saat melihat di luar jeruji ada Papa dan Mamanya baru saja datang.
Rika menoleh ke depan. Memperhatikan dengan seksama raut wajah kedua orangtua Melani yang tak enak di pandang saat ini.
Salah seorang petugas keamanan membuka sel tahanan kemudian mengeluarkan Melani dan Rika dari dalam.
Melani amat senang karena akhirnya dapat terbebas dan menghirup udara segar. Namun, baru saja beberapa langkah ia tersentak kala Papanya melayangkan tamparan kuat di pipinya tiba-tiba.
Plak! Plak!!!
"Papa!" teriak Mama Melani saat melihat putrinya di tampar suaminya barusan.
"Diam kamu! Ini semua gara-gara kamu karena manjain dia selama ini! Aku malu memiliki putri seperti dia, berani-beraninya dia menikah siri, hamil di luar nikah dan sekarang malah menjadi seorang pembunuh! Dasar wanita mur4han! Papa capek-capek kerja untuk kuliahin kamu sampai keluar negeri! Tapi ini balasan kamu ha! Dasar anak nggak tahu di untung kamu! Mulai detik ini kamu bukan anakku!!!" teriak Papa Melani menggelegar sampai-sampai urat di seluruh lehernya menyembul keluar.
Melani membeku di tempat, bibirnya amat sulit untuk digerakkan sekarang. Dunianya seperti berhenti berputar.
__ADS_1
"Pa! Jangan!" teriak Mama Melani sambil menitihkan air mata.
"Diam kamu! Atau kamu mau aku buang juga! Biarkan dia membusuk di penjara, aku nggak peduli!" seru Papa Melani. Membuat air mata Mama Melani semakin mengalir deras. Lalu pria berperawakan tinggi dan besar itu mengalihkan pandangan ke arah Rika. "Dan kamu! Gara-gara kamu anakku menjadi liar, seharusnya aku harus lebih berhati-hati dengan wanita simpanan sepertimu! Das4r wanita ular!"
"Jaga ucapan anda!" Rika membela diri. Tak terima akan tuduhan Papa Melani.
"Cih! Memalukan! Untuk apa aku menjaga ucapanku!" ucap Papa Melani sambil menatap remeh. "Ayo kita pulang, aku tidak mau berlama-lama di sini." Papa Melani menarik tangan Mama Melani seketika, menuntunnya keluar dari penjara.
Melani hanya diam saja, melihat kepergian Papa dan Mamanya. Dalam hitungan detik, dia dan Rika di seret lagi oleh seorang polisi masuk ke jeruji sel.
Melani menangis histeris saat dirinya tak bisa keluar dari penjara dan sepertinya akan mendekam di penjara. Begitupula dengan Rika. Dia sangat sedih karena tak bisa menghirup udara bebas dalam beberapa waktu ke depan.
Keesokan harinya, Melani dan Rika harus kembali menangis saat pengadilan memberi keputusan bahwa Rika akan mendekam di penjara selama dua tahun atas pembunuhan berencana. Sementara, Melani diberikan pengurangan masa tahanan selama beberapa bulan saja, karena kondisinya tengah hamil, di tambah lagi Melani bisa membayar denda dengan bantuan Mamanya sendiri.
Sudah seminggu, Melani dan Rika mendekam di penjara. Setiap harinya, keduanya hanya mampu meratapi nasib mereka dengan menangis.
__ADS_1
Sedangkan Andre, setelah sembuh total kemarin. Dia begitu terkejut ketika mendapatkan surat gugatan cerai dari Sekar.
"Ahk! Tidak! Ini tidak mungkin!" Dengan tertatih-tatih Andre turun dari atas ranjang hendak pergi keluar rumah' menemui Sekar.