
Kabar tentang penyakit Andre akhirnya diketahui Sekar pula. Dia begitu ketakutan, tanpa pikir panjang ia memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Tak hanya itu Rena dan Reni pun ikut diperiksa.
Sembari menunggu hasil laboratorium keluar. Sekar duduk di ruang tunggu bersama Rena dan Reni.
"Bunda, kenapa diam?" Rena menyentuh kedua pipi Sekar yang dari tadi termenung di hadapannya. Tentu saja ia keheranan, melihat tingkah ibunya itu
Sekar menggeleng cepat lalu tersenyum hambar. "Maaf Sayang, Bunda lagi mikirin Reni kok tambah lucu," sahutnya sambil mengelus bayi munggil yang tertidur pulas di gendongannya dari tadi.
Rena nampak manggut-manggut. "Oh gitu, Bunda jangan sering ngelamun."
Seulas senyum tipis terukir di wajah Sekar. "Iya Sayang."
"Sekar." Dari samping, Michael memanggilnya. Dia baru saja sampai bersama Shakila.
Sekar menoleh, begitu terkejut melihat kedatangan Michael ke rumah sakit. Pasalnya beberapa menit yang lalu, Michael menanyakan keberadaannya. Dia pun mengatakan sedang berumah sakit hendak melakukan pemeriksaan terkait kabar Andre yang mengidap HIV/AIDS.
"Sekar, bagaimana hasilnya?" Michael mendekati Sekar seketika, dengan napas yang terengah-engah dia bertanya.
"Bu Sekar."
Belum juga Sekar membuka bibir, perawat menyembul keluar dari ruangan. Sekar mengalihkan pandangan ke arah tenaga medis tersebut. "Iya?"
__ADS_1
"Hasilnya sudah keluar," ucap perawat.
"Baik, saya akan masuk."
Sekar hendak melangkah masuk, namun Michael menahannya seketika kala melihat Sekar sedikit kesusahan karena Reni masih terlelap di gendongannya. Tanpa membantah sama sekali, Sekar mengiyakan dan menyodorkan anaknya ke tangan Michael.
Lima menit kemudian, Sekar sudah di ruangan dokter. Sementara, Michael, Reni, Rena dan Shakila berada di luar ruangan.
"Jadi bagaimana Dok?" Sekar sangat tak sabaran. Perasaannya was-was, takut jikalau ia ataupun kedua anaknya terkena penyakit mematikan tersebut. Walaupun perselingkuhan Andre terungkap saat kehamilan Reni tapi tidak menutup kemungkinan Rena juga terkena, sebab Andre sudah lama berselingkuh darinya.
Dokter mengulas senyum tipis. "Semuanya aman."
Dokter mengangguk cepat.
"Alhamdulillah," sahut Sekar kemudian. Dia bersyukur karena ia dan anak-anaknya tak terkena dampak dari penyakit Andre. Meskipun begitu, Sekar bertanya-tanya Andre tertular dari siapa? Entahlah, sebab mantan suaminya itu bermain dengan banyak wanita dan tak terhitung jumlahnya.
Setelah mendengarkan penjelasan dari Dokter, Sekar pamit undur diri ruangan.
"Semoga saja Pingkan tidak tertular, aku harus memberitahunya sekarang," gumamnya pelan di depan pintu ruangan. Sekar langsung mengambil ponsel di dalam tas hendak menghubungi Pingkan. Dengan sabar Sekar menunggu Pingkan mengangkat teleponnya saat ini.
Sambil melangkah kakinya ke depan, Sekar mengedarkan pandangan mencari keberadaan Michael dan anak-anaknya. Sekar tersenyum lebar, saat melihat di ujung lorong Michael sedang bermain bersama anak-anaknya.
__ADS_1
"Hallo?"
Terdengar suara Pingkan dari sebrang sana. Tanpa basa-basi Sekar langsung memberitahu Pingkan mengenai penyakit Andre. Pingkan begitu terkejut mendengar perkataan Sekar. Dan tanpa pikir panjang akan periksa ke rumah sakit juga. Selesai berbincang-bincang Sekar mendekati Michael.
"Bunda! Mommy!" Melihat kedatangan Sekar, Rena dan Shakila berseru serempak.
Sekar tersenyum tipis. Sejak tempo lalu Shakila selalu memanggilnya dengan sebutan Mommy, Sekar sama sekali tak mempermasalahkannya.
"Ish! Itu Bunda Rena tahu!" Rena mengerucutkan bibir seketika.
Shakila malah menyengir kuda.
Sekar dan Michael terkekeh pelan, melihat tingkah kedua anaknya sesaat.
"Bagaimana? Apa kata Dokter?" tanya Michael.
"Aman Michael."
"Syukurlah, aku senang mendengarnya, ayo kita pulang, aku akan mengantarkanmu pulang," sahut Michael sambil menyambar tangan Sekar tiba-tiba.
Secepat kilat Sekar menarik tangannya. Dia dapat merasakan jantungnya berdegup cepat sekarang. Sekali lagi Sekar kebingungan, mengapa akhir-akhir ini setiap kali berdekatan dengan Michael, perasaanya tak karuan.
__ADS_1