Kidung Bumi Wengker

Kidung Bumi Wengker
Rencana Penyerangan Padepokan Macan Gembong


__ADS_3

"Sekar apakah kamu punya pemikiran lain?" tanya Nyai Selasih.


"Sementara tidak punya. Aku akan ikut dengan Nyai Selasih saja," Jawab Sekar Wangi.


Nyai Selasih menatap pada Sekar Wangi. Kemudian dia tertawa terkekeh kekeh.


"Kalau begitu tunggu apa lagi? Mari kita berangkat sekarang," ujar Nyai Selasih.


Keduanya lalu bangkit dari duduk. Kemudian meninggal kan tempat tersebut menuju ke Padepokan Lowo Abang.


"Westttt...."


"Wush........"


Di Lembah ke dua Gunung Ngijo tinggal kepulan debu yang ditinggalkan. Selain sebuah padepokan atau gubuk yang menjadi saran pertemuan dari mereka.


Sementara itu di tempat lain, Lowo Abang sedang melihat para siswanya berlatih. Beberapa siswa di halaman padepokan tempat Ki Lowo Abang, sama berlatih olah Kanuragan.


Di Padepokan tersebut Lowo Abang merupakan pimpinan Padepokan Ilmu Kanuragan. Ia melatih para siswanya dari pencak silat dasar hingga berlatih memainkan senjata.


Saat sedang enak enaknya mereka berlatih, Nyai Selasih tertawa terkekeh kekeh, tiba tiba muncul di depan Lowo Abang bersama dengan Sekar Wangi.


"Apa Kabar, Lowo Abang?" tanya Nyai Selasih setelah menghentikan tawanya.


"Nyai Selasih dan Nyai Sekar Wangi. Kabar baik yang ada pada Padepokan Lowo Abang. Kelihatannya Nyai Selasih dan Nyai Sekar Wangi ada hal yang penting untuk di bahas," ujar Lowo Abang sambil menyilakan kedua tamunya untuk masuk pada Padepokan.


"Lowo Abang, bagaimana pendapatmu jika mereka dari golongan bisa mendapatkan Tombak Ageng Mataram?" tanya Nyai Selasih.


"Golongan Putih?" Lowo Abang terkejut. Lalu ia bertanya, "Siapa Nyai yang membawa Tombak Ageng Mataram?"


"Saya hanya bertanya, tentang pendapatmu?" tanya Nyai Selasih.


"Hahaha....hahaha..." Lowo Abang tertawa ngakak. Karena ia kira Nyai Selasih akan menjelaskan bahwa Tombak Ageng Mataram sudah berada di tangan orang lain.


"Nyai Sekar, apakah sudah ada kabar tentang keberadaan Tombak Ageng Mataram?" tanya Lowo Abang.


" Saya juga belum mendengar selain kabar dari Nyai Selasih. Kalau Tombak tersebut ada di Macan Gembong," terang Sekar Wangi.

__ADS_1


"Makanya kami kesini. Sebab kami ingin kita akan memancing orang orang Padepokan Macan Gembong keluar, sehingga kita mudah mendapatkan Tombak Ageng Mataram?" terang Nyai Selasih.


"Maksud Nyai?" tanya Lowo Abang.


"Kita ajak para perampok untuk merampok di Pedukuhan wilayah Macan Gembong. dengan begitu orang orang Macan Gembong akan keluar menyelamatkan pedukuhan," ujar Nyai Selasih.


"Pemikiran yang cerdas. Aku yang akan mengerahkan beberapa perampok ke sana," ujar Lowo Abang.


"Itu yang aku harapkan. Sehingga saat Kelompok dari Lowo Abang keluar, aku akan mencari Pedang Mataram di Padepokan Macan Gembong," ujar Nyai Selasih.


"Aku akan mengawasi dari jauh, jangan sampai orang orang Macan Gembong masuk, sebelum Nyai Selasih berhasil," ujar Nyai Sekar Wangi.


"Benar, kita bekerja sama. Sebab penguasa rimba persilatan ini harus pada kelompok kita,. jangan sampai jatuh pada kelompok mereka.... hahahaha," ujar Lowo Abang.


"Lantas kapan aksi ini kita mulai? tanya Lowo Abang.


"Kau ajak Banas dan teman lain. Besok setelah purnama lebih sehari, kita akan mulai bergerak. Jadi Purnama bulan ini kita berkumpul di tempat biasa," ujar Nyai Selasih.


Perbicangan mereka memakan waktu agak lama. Bahkan hampir Senja mereka baru menyudahi pertemuan tersebut.


******


Untung saja di situ ada beberapa siswa padepokan Lowo Abang yang melihat. Kemudian Ki Paneluh di papan untuk masuk rumah Ki Lowo Abang.


Betapa terkejutnya Ki Lowo Abang, saat ia melihat Ki Paneluh terluka dalam. Ia kemudian menjemput kedatangannya, dan menidurkan di atas dipan rumahnya.


"Ki Paneluh. Siapa yang berbuat hingga kau terluka begini?" tanya Lowo Abang.


Ki Paneluh menata tidurnya. Kemudian matanya menatap pada Lowo Abang.


"Aku terkena jurus dari Pendekar Jubah Biru," ujar Ki Paneluh.


"Jubah Biru?" Lowo Abang terkejut. Sebab yang ia tahu Jubah Biru sudah lama tidak malang melintang kembali pada rimba persilatan.


"Dia mengeluarkan Jurusnya. Aku terluka. Ada kilatan yang nampak dan tidak nampak seperti angin dingin memukulku," kata Ki Paneluh.


"Bertahanlah, aku akan menyembuhkan mu," ujar Lowo Abang.

__ADS_1


Lowo Abang kemudian menggerakkan tangannya. Ia mengambil nafas untuk menyalurkan energi positif dari dalam dirinya.


Ki Paneluh yang menerima energi bergerak menahan sakit. Ia kadang bergerak cepat.


"Waduh, sakit.." teriaknya.


Lowo Abang dengan terengah engah menyudahi penyaluran energi murni untuk Ki Paneluh.


Setelah dirasakan agak ringan sakitnya Ki Paneluh menguatkan dirinya untuk duduk. Namun hal itu di tahan oleh Ki Lowo Abang.


"Jangan memaksa bergerak dulu. Biarkan pulih," ujar Lowo Abang sambil mengambilkan minum Ki Paneluh.


Ki Paneluh menerima air dari Ki Lowo Abang. Kemudian ia meminumnya sambil setengah duduk.


Ki Paneluh menceritakan kejadian awal hingga akhir ia bertemu dengan Pendekar Jubah Biru. Ia juga menjelaskan adanya pemuda yang mendampingi Pendekar Jubah Biru.


"Pendekar Muda itu, pakaiannya berwarna hitam. Tapi ikat kepalannya seperti hijau tua. Ia memiliki jurus yang hebat. Kelihatannya dia juga murid dari Ki Pasinggahan," ujar Ki Paneluh.


Lowo Abang mendengarkan penuturan dari Ki Paneluh. Kemudian ia mencoba menerka tentang munculnya Pendekar muda yang di ceritakan sahabat karibnya.


"Kalau dia murid Pasinggahan siapa dia. Sebab Pasinggahan sudah lama tidak menerima murid," ujar Ki Lowo Abang.


"Tapi jurus jurusnya hampir mirip. Mungkinkah dia anak dari Pendekar Jubah Biru. Atau Murid dari Jubah Biru?" ujar Ki Paneluh.


"Itu yang kita pikirkan. Sebab kalau ini memang benar anak atau murid Jubah Biru adalah sebuah kekuatan dari mereka, Ki?" ujar Ki Lowo Abang.


Kemudian Lowo Abang menceritakan kedatangan Nyai Selasih yang ditemani Sekar Wangi. Tentang dugaan hilangnya Tombak Ageng Mataram dari Gedung Pusaka Prabu Janaka.


Kedua Pendekar hitam itu menduga tentang keberadaan Tombak Ageng Mataram ada pada Padepokan Macan Gembong. Sebab menurut Nyai Selasih, Tombak itu tidak mungkin hilang, tapi akan di tambah energi oleh Ki Macan Gembong.


"Selasih sangat gila. Seharusnya juga ada perhitungan tentang keberadaan Ki Pasinggahan yang tempatnya tidak jauh dari Padepokan Macan Gembong. Bangkitnya kembali Pendekar Jubah Biru, adalah tanda bahwa Ki Pasinggahan masih membangun kekuatan," ujar Ki Paneluh yang sudah mulai bisa duduk.


"Tadi tidak ada pemikiran sampai ke arah itu, Ki Paneluh," ujar Ki Lowo Abang.


"Makanya inibharus kita pikirkan. Sebab Meski bagaimana pun Ki Pasinggahan bukan lawan kita. Sebab mereka memiliki kekuatan yang sempurna," ujar Ki Paneluh.


Paneluh juga ingat, sebelum kematian gurunya pada waktu itu. Gurunya yang ahli dalam tenung, mencoba menyerang Pasinggahan dengan berbagai kekuatan tenung dan teluh saja harus kalah.

__ADS_1


"Jangan melawan Pasinggahan, kita pasti kalah?" ujar gurunya.


*****


__ADS_2