
Bebatuan yang serba besar, secara tak alami tersusun menjadi sebuah Gowa kecil, yang hanya satu ruang. Di situlah Nyai Selasih tinggal. Sebagai seorang Pendekar perempuan yang berasal dari golongan hitam, Nyai Selasih banyak berpengalaman dan penuh keberanian untuk menempati lokasi tersebut
Nyai Selasih di lokasi tersebut mengolah diri menempanya menjadi Pendekar yang tangguh. Pernah Nyai Selasih, di ajak bergabung dengan Prabu Janaka, agar mau mendukung kokohnya Kerajaan Mataram. Terlebih pada masa itu Kerajaan Mataram baru saja menata pusat pemerintahan, karena peristiwa letusan dari Gunung Merapi.
Tapi Nyai Selasih, tokoh yang selalu keras kepala, dengan memiliki berbagai macam tehnik beladiri dan banyak ajian itu tetap tidak mau. Sebenarnya Nyai Selasih menolak tidak di sebabkan apa apa, tapi nampak sekali karena Ki Pasinggahan dan Ki Paringan ada di antara pendukung kembalinya Kejayaan Mataram.
Sudah di ketahui, bahwa Ki Pasinggahan dan Ki Paringan adalah tokoh yang selalu di musuhi oleh para tokoh tokoh golongan hitam.
Kini nampak Nyai Selasih sedang mengolah Samadi di atas batu yang berbentuk persegi di antara hamparan bebatuan tersebut. Namun saat nafasnya mau ditarik kembali, ia urungkan, sebab dia melihat satu bayangan yang mengintainya
"Sekar Wangi, kalau tidak salah itu adalah gerakan dari Sekar Wangi. Ada apa, kau berdiam di situ, Sekar Wangi," ujar Nyai Selasih.
"Maafkan kami Nyai, kedatangan kami mengganggu Nyai yang sedang berlatih," ujar Sekar Wangi sopan.
"Mari masuk kedalam Goa itu, Sekar Wangi dan Ki Paneluh," Ajak Nyai Sekar Wangi kepada tamunya
Maka ketiga tokoh Pendekar ilmu hitam yang sangat di takuti karena ilmu ilmu kesaktiannya, masuk kedalam goa.
"Ada apa sebetulnya, kalian datang ketempat ku," tanya Nyai Selasih.
"Maafkan kedatangan kami. Kami baru saja bertarung dengan kelompok harimau Siluman putih," terang Ki Paneluh.
Ki Paneluh kemudian menceritakan pertarungan mereka dan juga Lowo Abang dalam melawan siluman harimau putih. Juga pada saat ketiganya menyembuhkan dirinya hingga hilangnya Lowo Abang.
Nyai Selasih tertawa terkekeh. Ia mengerti bagaimana kalau mereka nekat melawan siluman harimau putih.
"Untung anda segera meninggalkan pertarungan. Bila tidak, bisa bisa kalian tinggal nyawa," kata Nyai Selasih dengan terus tertawa lebar
__ADS_1
"Kok bisa begitu, Nyai. Apa memang mereka sangat tangguh?" tanya Sekar Wangi Penasaran.
"Lawanmu adalah Siluman yang berilmu dan sangat digdaya. Dia adalah Satriya Menggala. Dia merupakan Senopati Perang yang tangguh dari bangsa siluman. Ilmunya tak ada yang mampu menandingi. Ada yang berkata, dia mendapatkan ilmu dari atas Kahyangan. Berkali kali Pendekar Hitam mencoba mengalahkannya, tapi tak satupun yang mampu mengalahkan," terang Nyai Selasih.
"Apa saja saya kekuatan dari kesaktiannya, Nyai?" tanya Sekar Wangi
"Saya tidak mengerti lebih dalam. Namun saya berusaha menghindar kalau berhadapan dengan siluman harimau tersebut. Dan 10 siluman dengan wajah sama, itu adalah saudara dari Satriya Menggala. Ada yang bercerita, itu adalah hawa nafsu Satriya Menggala yang di pecah menjadi sepuluh. Tapi entah benar dan salahnya!" terang Nyai Selasih.
"Nyai, saya mohon dengan sangat untuk diterawang keberadaan Lowo Abang," pinta Ki Paneluh. Dia segera memotong pembicaraan Nyai Selasih dan Sekar Wangi. Sebab bila tidak segera di haturkan pada Nyai Selasih, Ki Paneluh takut kalau Sekar Wangi lupa mengatakan tujuan yang sebenarnya.
"O, jadi demikian keinginanmu, Ki Paneluh?" tanya Nyai Selasih.
"Benar, Nyai. Nyai tahu bahwa Lowo Abang selalu membantu perjuangan kita. Saya takut bila Lowo Abang terjadi apa apa,' kata Ki Paneluh.
"Bagaimana, Sekar Wangi?" tanya Nyai Selasih pada Sekar Wangi.
Sekar Wangi menganggukkan kepalanya tanda setuju pada keputusan Lowo Abang.
Tempat yang dituju oleh Nyai Selasih ternyata ada di sebuah bukit kecil. Di atas bukit tersebut tidak nampak adanya tumbuhan, blseperti kayu kayuan. Yang ada hanyalah rumput yang tumbuh di tempat itu.
Di tengah puncak lembah tersebut, ada sebuah batu yang seperti sengaja di pendam. Nyai Selasih mengangkat tangannya ke atas. Bibirnya komat Kamit seperti membaca mantra. setelah usai dalam membaca mantra tongkat Nyai Selasih dipukulkan ringan pada batu itu.
Ajaib, batu bimesar itu bergeser sendiri. Melihat yang demikian, Sekar Wangi dan Ki Paneluh hanya saling beradu pandang, sebagai bukti bahwa mereka percaya akan kesaktian dari Nyai Selasih.
Setelah batu itu bergeser lebih setengah tombak, mereka mengerti bahwa batu itu hanya sebuah pintu rahasia. Sebab di dalamnya ada sebuah Gentong batu.
Dalam gentong itu nampak berisi air yang jernih dan juga bunga bunga yang ditaburkan.
__ADS_1
"Wahai Gentong Waseso, tunjukkan di mana Ki Lowo Abang!" demikian Nyai Selasih berucap pada gentongnya.
Tangannya diangkat tinggi, kemudian ia hentakkan telapak tangan dengan jarak agak tinggi. Hentakan tersebut membuat angin yang menyibak bunga bunga itu berada di tepian gentong.
Nyai Selasih kemudian mempersilakan Sekar Wangi dan Ki Paneluh untuk menyaksikan air yang berada pada gentong itu.
Tak lama air gentong itu bergerak pelan. Muncul gambar panah lengkap dengan busurnya.. Awalnya anak panah itu mengarah pada tepi gentong, tiba tiba berbalik menuju pada wajah mereka satu persatu.
"Hahaha.... hahaha, rupanya gentong itu masih menjadi pusaka andalan untuk menyaksikan keberadaan seseorang. Hahahaha, kalau kau ingin mengambil Lowo Abang, lewat mana kalian bisa," ucap suara panah itu.
"Keparat, siapa kau orang tua kurang Ajar!" tanya Nyai Selasih setengah murka.
"Saya hanya bertanya padamu, wahai Nyai Selasih. Lewat mana kau akan mengambilnya," tanya suara tua tersebut denga anak panah yang mengarah pada ketiga Pendekar golongan hitam tersebut.
"Bangsat!!! Beraninya hanya memamerkan senjatamu. Tunjukkan wajahmu, kalau kau memang berani!" bentak Sekar Wangi.
" Sekar Wangi. Jangan terlalu sombong. Melawan Satriya Menggala saja kau tidak mampu, bukan?" tanya suara tua.
"Siapa kau sebenarnya wahai orang tua. Jangan.mencari masalah dengan kami!" bentak Nyai Selasih.
"Hahaha, Nyai Selasih, berapa kali kau kalah melawan Pendekar Putih? Masihkah kau akan mengulangi kekalahan yang sama. Apa kau tak malu, hahahahaha," tanya suara tersebut.
Mendengar pernyataan suara tua tersebut, Nyaii Selasih murka. Ia kemudia meloncat memasang jurus. Tapi gerakan itu gagal dalam konsentrasi, sebab dengan tiba tiba, air dalam gentong itu bergerak keatas mengenai wajah ketiganya.
"Hahahaha.... hahaha.... hahahaha, memang benar bisa menggunakan jurusmu mengalahkan ku, hahahaha," ujar Suara tua dari dalam gentong Waseso.
"Bedebah, keparat....!!!!" ungkap Nyai Selasih.
__ADS_1
Sementara yang di dalam gentong anak panah telah bergerak mengarah pada ketiganya. Maka ketiga Pendekar itu bersiap untuk menggabungkan kekuatannya.
Bersambung