
Sehingga terkaman harimau jelmaan Macan Gembong harus menerkam ruang kosong.
Kembali Nyai Selasih menancapkan tongkat saktinya pada tanah. Ia memposisikan diri dengan sigap. Tangan kanannya di depan dada, sedangkan tangan kirinya diangkat keatas, dan pelan pelan ia tempelkan sejajar dengan tangan kanan di depan dada.
"Ajian Bledek sayuta.... " batin Macan Gembong.
Macan Gembong mengaum keras, "Auggggh..."
Auman itu membahana pada seluruh angkasa raya. Seolah membuat gempa pada sekitar lokasi perkelahian tersebut.
"Ini adalah Ajian Gelap Ngampar," ujar Sekar Wangi yang telah bangkit dengan menahan sakit. Ia mencari tempat untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Sebab dia tahu bahwa adu daya ajian keduanya tentu akan berakibat pada alam sekitar .
Angin berhembus kencang, Mendung dan petir di angkasa bergulung saling bersahutan. Seolah memberi pertanda pada makhluk lain di bumi tentang adanya dua Pendekar yang saling beradu ajian.
Lowo Abang yang tetap menjaga anak buahnya dalam pertarungan, mengomando pada perampok yang dipimpinnya agar kembali ke Padepokan Lowo Abang. Setelah memastikan bahwa anak buahnya menuju tempat di Padepokan yang di pimpinya, ia mendekat ke lokasi pertarungan dua tokoh rimba persilatan.
Empu Plongko Sari yang menggiring para Siswa siswa Macan Gembong untuk meyaksikan pertarungan gurunya tersebut. Sedang yang terluka di papah oleh siswa lain menuju padepokan untuk segera mendapatkan perawatan.
Sesampai di lokasi pertarungan, Plongko Sari mengomando para siswa yang mengikutinya agar agak menjauh dari pertarungan gurunya.
"Ini adu ilmu ajian, kita harus menjauh. Mereka beradu konsentrasi, beradu nafas dan beradu saya tenaga dalam. Tentu nanti akan ada hal hal yang berakibat pada sekitar," ujar Plongko Sari
Angin panas berhembus berputar di sekitar Nyai Selasih. Pendekar perempuan tua itu sudah mengolah semua kekuatannya.
Nampak sekali, karena angin panas itu menyatu dan bergulung gulung menuju pada Macan Gembong.
Demikian juga Macan Gembong, ia tak kalah kuat dengan Nyai Selasih. Angin dan awan di sertai petir terus bergerak cepat menuju pada Nyai Selasih.
Kedua kekuatan yang di olah oleh dua Pendekar itu bertemu," Glar........gliaaaar...... Dugh....Dar...", demikian suara akibat pertemuan daya sakti keduanya.
__ADS_1
Nyai Selasih terpental dan terjatuh lebih dari dua tombak ke belakang. Sedang Macan Gembong harus mundur beberapa langkah.
Macan Gembong mengaum kembali, Auman yang panjang dan mengakibatkan angin serta suara membahana di tempat pertarungan tersebut.
Nyai Selasih bersama dengan Lowo Abang dan Nyai Sekar Wangi berusaha untuk menggabungkan kekuatannya. Melihat hal itu Empu Plongko Sari Salto di udara, mendekat pada Macan Gembong.
Namun saat mereka bersiap siap, di angkasa terdengar suara tawa terkekeh kekeh perempuan tua dan laki laki tua. Tawa itu saling bersahutan. Semua membatalkan konsentrasinya.
Sebab tawa laki laki dan perempuan tua itu semakin lama semakin keras, semakin membahana, seolah memekakkan telinga bagi yang mendengarnya.
"Ayo kita segera pergi, Nyai Selasih dan Ki Lowo Abang. Aku tak mau berurusan dengan Pendekar Tua," Ajak Nyai Sekar Wangi.
"Wesssss...."
Nyai Sekar Wangi diikuti Lowo Abang bergerak menghilang dari tempat itu. Tak lama Nyai Selasih menyusul kedua temannya.
Setelah Pendekar dari golongan hitam itu meninggalkan tempat, tawa bersahutan itu mereda. Nampak dua Pendekar tua di hadapan Ki Macan Gembong dan Ki Plongko Sari.
"Sungkem Kami...." Ki Plongko Sari memberikan hormat juga. Demikian juga di ikuti oleh para siswa dari Padepokan Macan Gembong.
"Panjang Umur, wahai sedulurku semua...." Jawab kedua Pendekar tua.
*Ada apa, Macan Gembong. Gelap Ngamparmu mengundang kami untuk menyaksikan pertarungan, haha... haha... haha," ujar Pendekar Wanita sambil tertawa. Yang tak lain adalah Nyai Pandan Sari.
"Iya, tentunya kalau di lanjutkan aku akan bisa melihatnya dengan enak. hahaha...", ujar Pendekar laki laki tua yang tak lain adalah Ki Penjalin.
"Mohon Maaf, saya hanya mempertahankan keberadaan Padepokan Macan Gembong dan juga Padukuhan yang di rampas oleh ketiga kawanan Pendekar tersebut," ujar Macan Gembong.
"Iya, Ki Penjalin dan Nyai Pandan Sari. Mereka telah berbuat memulai dengan perampokan pada Padukuhan di bawah bukit ini," terang Plongko Sari.
__ADS_1
"Haha... hahaha.., Tapi apakah Bledeg Sayuto yang kuat, harus di hadapi dengan Gelap Ngampar. Dan tentunya Macan Gembong mengetahui apa akibat yang timbul dari Ajian Gelap Ngampar. Alam akan kehilangan keseimbangan," ujar Nyai Pandan Sari.
"Maafkan kami, Nyai Pandan Sari. Kami hanya mempertahankan diri," ujar Macan Gembong.
"Hahaha.... Macan Gembong. Kembalilah merubah wujudmu dulu. Nanti aku beri tahu apa tujuan mereka menyerang Padepokan," ujar Ki Penjalin.
Macan Gembong kemudian merubah dirinya menjadi manusia kembali. Saya sakti yang demikian di peroleh dari seorang Hajar Sakti saat dirinya bertapa di alas Wilis.
"Nah begitu akan lebih baik, Iya, Kan?" Ujar Ki Penjalin.
"Hehehe.... ", Pandan Wangi hanya tertawa terkekeh.
" Ki Macan Gembong dan Ki Plongko Sari, ketahuilah ini semuanya di mulai dari peralihan Wangsa yang di tandai dengan letusan Gunung Merapi. Sekar Wangi lupa, bahwa setiap prahara yang melanda merubah Wangsa dan kekuasaan jagad. Ia dan sekutunya tetap ingin mempertahankan Tahta kehormatan. Jadi saat peristiwa kehancuran Mataram dan bergesernya Mataram ke Wilayah timur Merapi. Dirinya masih ingin mempertahankan kekuasaan Rimba Persilatan yang hancur pada masa itu. Mereka kini bersekutu dengan salah satu kelompok pemuja Kajiman, ilmu dari bangsa Jin," ujar Ki Penjalin.
"Di mana itu, Ki?" tanya Plongko Sari.
"Kelak kita akan mengetahui secara gamblang. Barangkali sampai saat ini kita belum di beri petunjuk alam. Sebab saat saya dan Adhi saya Pandan Sari, mencoba menembus area tersebut, adanya hanya kabut," ujar Ki Penjalin.
"Yang pasti, Ki Paneluh dan Ki Lowo Abang, sudah menjadi pengikut setia dari Sekar Wangi. Tapi kelak kita akan mengetahui bila alam telah membuka. Dan ingat, Tahta Kekuasaan , akan berpindah pada Wangsa Wijaya, usai semua terbuka," ujar Nyai Pandan Sari.
"Wangsa Wijaya?" tanya Empu Plongko Sari.
"Iya, ini adalah alamat alam. Tapi kita tidak mengetahui kebenaran. Jadi Kekuasaan Prabu Janaka, adalah kekuasaan Peralihan. Yang bertugas menjaga keseimbangan kehidupan sebelum peralihan Wangsa ini. Peristiwa Kekuasaan Tahta belum usai. Sebab akan ada beberapa penguasa. Namun Tugas Golongan Putih, hanya menjaga keseimbangan kehidupan dan alam. Bukan sekedar membantu penguasa," tegas Ki Penjalin.
"Dan perlu kalian ketahui, bahwa Kelompok Nyai Selasih dan Nyai Sekar Wangi, beranggapan Tombak Ageng Mataram adalah sebuah simbul kekuasaan tunggal. Maka ia terus mencari keberadaan Tombak Mataram. Datangnya mereka tentu akan mencari keberadaan Tombak Mataram," lanjut Ki Penjalin.
"Tombak Mataram? Bukankah Tombak Ageng Mataram ada di Gedong Pusaka Mataram, Ki Penjalin?" ujar Macan Gembong.
"Seharusnya demikian. Tapi Kelompok mereka mendapat kabar, bahwa Tombak Ageng Mataram telah tiada di Gedong Pusaka Mataram," terang Nyai Pandan Sari.
__ADS_1
"Maka Kelompok mereka berusaha mati Matian mencari Tombak itu. Dan sasaranya kini adalah Macan Gembong, yang di perkirakan sebagai pembawa Tombak Mataram," lanjut Ki Penjalin menegaskan.