Kidung Bumi Wengker

Kidung Bumi Wengker
Hilangnya Lowo Abang


__ADS_3

Lowo Abang terus meringis kesakitan. Sementara kedua temannya juga sedang menahan rasa sakit yang bukan kepalang. Serangan dari kekuatan daya energi siluman harimau putih, terlalu kuat sehingga membuat luka dalam pada pendekar tokoh golongan hitam tersebut.


Ki Paneluh dengan bersimpuh pada meditasi ini, karena telah mengukur diri dan kemampuannya. Dia bisa memperkirakan kemampuan menyerap energi alam untuk mengobati dirinya. Kalau dengan bersila dia akan leluasa menyerap energi alam, namun apakah dia mampu menahan rasa sakit akibat penyembuhan dengan energi alam?


Maka saat rasa sakit yang luar biasa pada luka dalam yang ada pada diri Ki Paneluh, ia mencoba menahan. Namun dia tidak akan menambahkan daya kembali.


Ia memilih istirahat sejenak. Ia selonjorkan kakinya, lalu melemaskan seluruh urat uratnya.


"Sakit ... sakit ... waduhhhhh..... waduh ...," suara kesakitan yang keluar dari Lowo Abang.


Ki Paneluh dengan segala kekuatan mencoba untuk melihat sahabatnya yang mengerang kesakitan.


"Lowo Abang memilih dengan segala kekuatannya di gunakan untuk menyerap energi alam. Hem, ia tidak mengukur berapa kemampuan dirinya untuk menahan sakit," batin Ki Paneluh sambil mencoba mendekat pada Lowo Abang.


"Aduh ... aduh..... sakit.... " Lowo Abang terus mengerang.


Ki Paneluh sambil sempoyongan terus mencoba mendekati Lowo Abang. Namun saat tinggal satu tombak dari lokasi Lowo Abang mengerang, Lowo Abang lenyap dari Pandangan Ki Paneluh. Tinggal asap putih yang mengepul dari bekas Lowo Abang tergeletak.


Ki Paneluh melihat Sekar Wangi, ia tetap bersemedi untuk penyembuhan. Bahkan sedikitpun tak ada gerakan dari Sekar Wangi.


"Apa yang terjadi. Siapa yang mengambil Lowo Abang?" batin Ki Paneluh.


Setengah hati Ki Paneluh, mencoba mendekat asap yang mengepul tersebut. Siapa tahu ada tanda tanda yang di tinggalkan. Tapi setelah dekat, sedikitpun tak nampak adanya bekas atau jejak yang ditinggalkan dari Lowo Abang atau yang mengambil Lowo Abang.


"Lantas bagaimana nanti kalau saya di tanya Sekar Wangi?" batin Ki Paneluh.


Karena bila membangunkan Samadi dari Sekar Wangi tidak pantas, Maka Ki Paneluh dengan sisa tenaganya, mencoba untuk bersila dalam samadi. Siapa tahu dari jejak batin, ia mampu mengenali penculik dari Lowo Abang yang sedang sakit


"Siapa, dia. Dari pandangan batinku ia hanya nampak asap saja. Begitu kuat dia. Bahkan energi saktinya juga tidak bisa aku deteksi," batin Ki Paneluh setelah ia mencoba mengaktifkan energi batin untuk melihat siapa yang menculik Lowo Abang.

__ADS_1


"Ki Paneluh, apa yang terjadi, kok kamu nampak kebingungan?" tanya Sekar Wangi.


Ki Paneluh menceritakan kejadian apa yang dilihatnya usai dari Samadi. Ia juga menceritakan tentang hilangnya sahabat baiknya, Lowo Abang.


"Jadi kau sudah mencoba melacak dengan kekuatan batinmu?" tanya Sekar Wangi.


"Sudah, Nyai. Namun aku tak mampu mendeteksinya. Sebab yang nampak hanyalah asap putih," ujar Ki Paneluh.


"Keparat. Siapa yang ingin bermain main denganku?" emosi Sekar Wangi.


Sekar Wangi yang belum pulih benar dari sakitnya, meletakkan tangan kanannya pada dada. Ia akan mencoba mendeteksi siapa penculik Ki Lowo Abang. Pikiran ia pusatkan dari titik lokasi hilangnya Lowo Abang.


"Hem, hebat benar penculik ini?" batin Sekar Wangi.


"Tak ada sedikitpun getaran yang mampu aku tangkap. Asap tipis yang berjalan lambat keselatan, hanya itu yang bisa aku saksikan," terang Sekar Wangi.


"Benar, Nyai. Saya juga hanya mampu memandang yang demikian. Orangnya tentu sangat sakti. Sebab hawa saktinya juga tak bisa saya lacak," tegas Ki Paneluh.


"Apakah mungkin penculik Lowo Abang termasuk siluman Harimau Putih, Nyai?" tanya Ki Paneluh.


"Saya kira bukan. Sebab hawa yang timbul bukan hawa siluman," terang Sekar Wangi.


"Lantas bagaimana, Nyai?" tanya Ki Paneluh.


"Kita pulihkan tenaga kita, besok setelah pulih kita ikuti arah asap yang menculik Lowo Abang," keputusan Sekar Wangi terkait murcanya Lowo Abang pada Ki Paneluh.


Ki Paneluh menyetujui apa yang di sampaikan Sekar Wangi. Sebab mau bagaimanapun, bila kekuatan belum pulih dan ingin melawan penculik Lowo Abang yang sakti, ibarat menyerahkan diri atau mencari mati.


*****

__ADS_1


Sementara di tempat lain, pada sebuah lembah di lereng Gunung Wilis tepi Utara. Lembah tersebut banyak di tumbuhi berbagai macam pepohonan. Ada sebuah gubuk yang terbuat dari papan dan nampak, seorang tua yang duduk di serambi gubuk tersebut.


Orang tua itu berpakaian serba hitam dengan dada terbuka. Ikat kepala yang dipakainya sudah nampak agak lusuh. Tubuhnya yang kurus dengan pandangan mata yang tajam lurus menatap depan.


"Seorang yang baik sekalipun pada masa lalunya, akan menjadi jahat bila berkumpul dengan para penjahat. Terlebih bila kejahatan yang di lakukan menghasilkan nikmat keduniawian, maka kejahatan itu menjadi sebuah pekerjaan pada setiap harinya," katanya dalam hati.


Lelaki tua itu menarik nafas dalam dalam, kemudian ia keluarkan dengan perlahan.


"Perjalanan Mataram, yah ... perjalanan yang panjang. Terlebih usai pertarungan antara Diyah Tulodong dan Diyah Wawa untuk saling memperebutkan tahta. Peristiwa berdarah yang tak seharusnya terjadi, melahirkan berbagai konflik dan dendam. Tuhan lalu berkehendak lain, yaitu menumpahkan Merapi dengan dahsyatnya. Siapa yang akan mampu menahan amarah dari alam," gumamnya lelaki tua dalam hati.


Lelaki itu kemudian memutar badannya dan lenyap dari depan gubuk tersebut.


Ia telah sampai pada pinggir sebuah sungai yang airnya mengalir dengan jernih. Ia kemudian memandang kanan dan kiri, seolah menyelidiki adakah orang disekitarnya. Setelah memastikan tidak ada siapa siapa yang melihatnya, ia menceburkan diri kedalam sungai.


Sebuah keanehan terjadi, ternyata sungai yang diceburinya ada sebuah lorong ada disamping. Lorong itu menghubungkan dengan sebuah Goa yang indah. Betapa tidak, di Goa itu ada batu batu yang memiliki cahaya dengan aneka warna.


Lelaki tua itu terus berjalan, di sana ada sebuah batu panjang berwarna hijau muda. Di atas batu itu ada perabotan, seperti cangkir, ceret dan berbagai perabot dapur lain.


"Kulo Nuwun, Ki," seseorang memasuki Goa tersebut.


"Monggo, masuk saja," kata orang tua kurus dengan perawakan tinggi.


Sedangkan orang tua yang baru datang usianya sebaya dengan yang telah masuk duluan. Tapi perawakannya tidak begitu jangkung. Baju hitam ia kalungkan pada pundak kirinya. Ikat kepala yang dipakainya berwarna hijau gadung. Dia tak lain adalah Mbah Suro.


"Bagaimana keadaan Satriya Pinandita dan Simboknya," tanya orang tua jangkung.


"Sepuntene, Ki. Satriya Pinandita masih aman di tempat saya. Tapi ternyata dia juga pemilik Pusaka Putut Jangkung," terang Mbah Suro.


"Hahahaha, aku sudah memahami hal itu. Sebab Ki Ageng Sima Kembara atau Sima Kesambi, telah memberi tahu padaku," ujar Orang tua Jangkung, yang rupanya telah akrab dengan Mbah Suro.

__ADS_1


Orang tua berperawakan jangkung itu terus menuangkan air pada dua gelas batu berwarna hijau muda untuk mereka minum.


Bersambung


__ADS_2