Kidung Bumi Wengker

Kidung Bumi Wengker
Rencana Penyerangan Kampung Gajahan


__ADS_3

Matahari bergerak bersama awan yang berarak. Waktu memburu dalam lingkaran kisah manusia yang harus di jalani.


Sore itu Nyai Sekar Wangi sedang mengadakan pertemuan dengan para Pendekar dari golongan hitam. Di antaranya adalah Ki Paneluh dan juga Ki Lowo Abang. Dua pengikut setia Sekar Wangi ini merupakan punjer penggerak dari golongan hitam untuk melancarkan serangan serangan pada pendekar golongan putih atau mereka yang berpihak pada Prabu Janaka di Mataram.


*Sepertinya langkah kita akan cepat berhasil, Nyai. Terlebih usai kita adakan serangan mendadak pada kelompok Macan Gembong dan Ki Plongko Sari kemarin," kata Lowo Abang.


"Kau bisa berkata demikian apa alasanmu, Lowo Abang?!" tanya Sekar Sari.


"Kemarin ada warta dari telik sandi yang saya suruh untuk mengawasi Padepokan Macan Gembong dari jauh. Menurut keterangan telik sandi, Ki Macan Gembong dan Ki Plongko Sari keluar dari Padepokan menuju Mataram sebelum matahari terbit," terang dari Lowo Abang


Mendengar laporan dari Lowo Abang, Sekar Sari tertawa terbahak bahak. Dia merasa gembira karena misinya telah berhasil


"Hahaha..... hahaha, Semoga Prabu Janaka segera keluar dari istana. Sehingga kita bisa leluasa menghabisi kelompok Mataram," ujar Sekar Wangi.


"Yang saya heran, Nyai, misi seperti ini dan bisa berjalan baik, kok ada gurat kecewa dari Nyai Selasih?!" tanya Ki Paneluh.


'Kau harus paham, Ki Paneluh. Nyai Selasih hanya berharap pada Tombak Ageng Mataram. Sedangkan kita bergerak tidak hanya untuk misi Tombak Pusaka. Sebab kekuasaan selain di simbolkan dengan Pusaka Keraton, masih ada yang lain. Yakni Kursi kekuasaan," ujar Ki Lowo Abang.


"Benar apa yang di katakan Lowo Abang, Ki Paneluh. Namun bagaimanapun, cara cerdas dan licik dari Nyai Selasih perlu kita gunakan. Kita harus menjaring banyak Pendekar golongan hitam agar mau bersama kita termasuk Nyai Selasih," ujar Sekar Wangi.


"Iya, bagaimana kabar Ki Banas, dia sudah lama tidak bersama kita," tanya Lowo Abang mengalihkan pembicaraan.


"Jangan ragu dengan Banas. Meski tidak nampak Banas masih setia dengan pergerakan kita. Dia bila kita temui atau kita ajak melakukan penyerangan tentu saja Ki Banas akan tetap mau, Ki Lowo Abang. Hahahaha.....," ujar Sekar Wangi


Ketiga Pendekar itu tertawa terbahak bahak. Karena merasa kekuatan mereka masih besar.


"Lalu apa rencana selanjutnya, Nyai?" tanya Ki Paneluh.


"Kita adakan kerusuhan di Kampung Gajahan. Di situ adalah markas dari para pengikut Prabu Janaka," ujar Sekar Wangi.

__ADS_1


"Setuju dengan mengadakan penyerangan di Kampung Gajahan berarti Prabu Janaka akan secepatnya keluar dari Istana," ujar Ki Paneluh.


"Tapi kita harus ingat dengan pengaruh dan kekuatan dari Ki Ageng Gajahan. Ia banyak di dukung oleh para Pendekar yang mumpuni," ujar Lowo Abang.


"Maka, mulai hari ini kita harus banyak mengumpulkan para tokoh golongan hitam yang semisi dengan gerakan kita," ujar Sekar Wangi.


"Selain itu, Nyai, bagaimana kalau kita ajak Kadipaten yang memiliki dendam dengan Mataram agar mau bersama kita?!" usul Ki Paneluh.


"Siapa dia, Ki?" tanya Sekar Wangi.


"Ki Buyut Welut Putih. Kadipaten Sewelut pada awalnya adalah kekuasaan mandiri. Namun saat terjadi letusan Merapi kemarin Sewelut menjadi Kadipaten. Karena warga Sewelut banyak yang kelaparan. Sehingga Sewelut harus minta pasokan pangan dari Mataram, yang telah pindah di Timur. Maka Sewelut harus bersekutu dengan Mataram," ujar Ki Paneluh.


"Lantas siapa yang bisa mengajak Kadipaten Sewelut?" tanya Sekar Wangi.


"Ki Banas. Ki Banas sejak dulu dekat dengan Ki Buyut Welut Putih. Namun bagaimana kisahnya, tentang Kadipaten Sewelut dan Dendamnya pada Mataram, saya tidak mengetahui dengan pasti," ujar Ki Paneluh.


"Kita tidak peduli perihal dendam mereka. Yang penting mereka bisa kita ajak untuk melancarkan serangan pada Prabu Janaka dan sekutunya," ujar Ki Paneluh.


"Hahaha.... hahaha, saya setuju tentang itu semua. kita ajak serta saja Ki Buyut Welut Putih," ujar Sekar Wangi.


"Lantas bagaimana dengan Nyai Selasih?" ujar Lowo Abang.


"Iming iming Tombak Mataram tetap harus kita bawa. Sebab tanpa iming iming Pusaka Sakti, Nyai Selasih sulit untuk kita ajak bersama," ujar Ki Paneluh.


"Lantas, bagaimana caranya agar dia mau ikut dalam penyerangan Kampung Gajahan?" tanya Sekar Wangi.


"Kita pakai cerita palsu bahwa Ki Plongko Sari, membawa Pusaka di Kampung Gajahan. Atau bagaimana cerita itu kita olah, agar Nyai Selasih mau mengikuti kita," ujar Lowo Abang.


"Hahaha.... cara yang cerdas," ujar Sekar Wangi yang di sambut tawa bersama.

__ADS_1


"Kalau demikian, kita bagi tugas. Saya dan Ki Paneluh menuju Ki Banas. Dan Nyai Sekar Wangi menuju pada Nyai Selasih," ujar Lowo Abang.


Sekar Wangi nampak berfikir dengan usul yang di sampaikan Lowo Abang. Sebab dirinya merasa tidak nyaman kalau menuju pada tempat Nyai Selasih.


"Bagaimana kalau kita menuju pada tempat Ki Banas secara bersama dan setelah itu kita runding kemudian terhadap Nyai Selasih dan Ki Buyut Welut Putih.


"Nah, saya lebih sepakat. Sebab menghadap pada Ki Buyut Putih harus ada Nyai Sekar Wangi. Karena yang seimbang mengajak bersekutu dengan Kadipaten Sewelut adalah Nyai Sekar Wangi," ujar Ki Paneluh.


"Bukankah itu sudah cukup di tangan Ki Banas. Kenapa harus merepotkan Sekar Wangi?" tanya Lowo Abang.


"Ingat Lowo Abang. Kita hanya mendukung kemauan dan gerakan Nyai Sekar Wangi. Namun rencana besar dari seluruh gerakan ini adalah di tangan Nyai Sekar Wangi. Umpama saja, dengan adanya Ki Buyut Welut Putih mengikuti kita dan Kekuasaan pindah di tangan kita, apa yang kita bisa untuk mengatasi kemauan Ki Buyut. Kita jangan hanya berfikir soal Kampung Gajahan saja," ujar Ki Paneluh


"Bukankah Ki Buyut Welut Putih memiliki dendam pada Mataram. Kalau dendamnya sudah di selesaikan, apa lagi yang diinginkan!' ujar Lowo Abang.


"Lowo Abang. Ibarat Gula kekuasaan adalah manis rasanya. Ini yang harus kita pegang. Saat ini Kekuasaan Sewelut, masih memiliki rasa manis tanpa membalas dendam. Ada beberapa Kademangan dan satu atau dua Kabuyutan di bawah kekuasaan Kadipaten Sewelut. Ini perlu kita jadikan pertimbangan ke depan," ujar Ki Paneluh.


"Lantas bagaimana?" ujar Lowo Abang.


"Lantas apa, tanpa Sekar Wangi saya kira mustahil Ki Buyut Sewelut mengikuti kita," ujar Ki Paneluh.


"Iya saya mengerti maksud Ki Paneluh. Kalau begitu mari kita menuju pada kediaman Ki Banas," ujar Sekar Wangi.


Wustttttt


Westttt


Sekar Wangi diikuti oleh kedua pengikutnya menuju pada Kediaman Ki Banas. Sebab mereka tahu penyerangan pada Kampung Gajahan tidak semudah menyerang Padepokan dari Macan Gembong.


Kampung Gajahan merupakan sebuah Kampung Kecil yang banyak tokoh Pendekar putih berada di lokasi tersebut. Selain itu Kampung Gajahan merupakan Kampung yang istimewa di bawah Kekuasaan Mataram. Karena di Gajahan ada satu Padepokan yang khusus mengajarkan ilmu tata kelola, dan langkah menjadi pemimpin di Kerajaan Mataram.

__ADS_1


__ADS_2