
Melihat pekikan satu kawanan perampok yang pingsan dan satu lagi kena totok lewat lemparan krikil, Ki Banas baru sadar bahwa orang tua dan anak muda yang di hadapinya bukan orang biasa. Minimal dia memiliki kemampuan beladiri dan ilmunya sudah cukup lumayan.
Ki Banas dengan wajah yang nampak marah memandang wajah mereka. Ia hunus Pedang dan diarahkan pada Mbah Suro.
"Aki Tua, siapa sebenarnya dirimu?!' bentak Ki Banas.
"Saya hanya orang biasa dari seberang sungai, Tuan Banas?" jawab Mbah Suro.
Mata Ki Banas terus memandang penuh selidik pada keduanya. Namun hingga beberapa lama tak ada tanda tanda jawaban tentang siapa dua orang yang dicurigainya. Kedua tangan Ki Banas ia angkat tinggi, dan dimajukan, sebagai kode anak buahnya agar menyerang pada mereka.
Tiga anak buah Ki Banas meloncat hendak menyerang pada Mbah Suro. Tapi serangan mereka belum sampai dekat, telah di hadang oleh Sulasna yang berdiri menantinya. Maka serangan serangan mereka diarahkan pada Sulasna.
Sulasna meladeni perampok anak buah Ki Banas, tersebut dengan cukup menghindar. Melihat Sulasna dikeroyok tiga orang dan mampu menghindari, membuat penasaran para perampok tersebut.
Ketiga perampok penyerang itu mencabut goloknya secara bersama. Dan dengan cara bersama golok itu diarahkan pada Sulasna. Sulasna dengan tenang meloncat, dan ia pergunakan tiga golok itu untuk tumpuan kakinya. Dengan cepat, kaki kanannya menendang secara bergantian pada wajah para perampok.
"Dugh....."
"Jleng....'
"Bukk...."
Tiga kawanan perampok itu terpental jauh. Sedang Sulasna sudah kembali memasang kuda kuda. Matanya menatap tajam pada kawanan perampok yang telah ia jatuhkan.
"Westttt......."
"Wuing......"
West......"
Tiga buah senjata golok tersebut diarahkan pada Sulasna. Sulasna nampak tidak menghindari golok golok yang dilemparka padanya. Melihat kondisi semacam itu, para perampok itu tersenyum mengira Sulasna terlena.
Namun alangkah terkejutnya, ternyata saat sudah dekat dengan Sulasna, ia menangkap satu buah golok dan meloncat, kedua kakinya ia tumpukan pada golok yang diudara. Entah bagaimana, golok yang telah dinaiki Sulasna diarahkannya untuk menyerang pada kawanan perampok anak buah Ki Banas.
__ADS_1
Ki Banas melihat anak buahnya peteteran, dengan spontan mengarahkan pukulan pada Sulasna. Rupanya instink Sulasna mampu membaca serangan dari pemborongnya, yakni Ki Banas. Ia salto di udara dan membiarkan golok yang tadi dikendalikannya berjatuhan ke tanah.
sedang golok yang dipegangnya ia lemparkan cepat pada tiga anak buah Ki Banas. Golok tersebut membabat celana kombor dari tiga kawanan perampok, yang membuat mereka malu kemudian berlari terbirit birit.
Kontan kejadian itu membuat Mbah Suro tertawa terbahak bahak. Begitu juga dengan Sulasna.
"Hahahaha..... Hahahaha......"
"Hehehehe..... Hehehehe......"
Sementara Ki Banas raut wajahnya semakin memerah. Ia merasa dipermalukan oleh kedua orang yang ada di hadapannya.
"Jangan Senang dulu, wahai Aki Tua dan Anak Muda!!! Sekarang aku lawanmu. Hadapilah aku, jangan satu persatu, tapi kerubutlah.... saya tidak akan mundur Selangkah!!" tantang Ki Banas pada keduanya.
Sulasna nampak tersenyum mendengar tantangan dari Ki Banas.
"Jangan Sombong, Ki Banas, Perampok yang kondang dengan tenung Banas Pati," jawab Sulasna.
Tanpa menjawab omongan Sulasna Ki Banas mengarahkan tendangan dengan kaki kanannya pada Sulasna. Sulasna hanya memiringkan badan membuat tendangan Ki Banas mengenai angin. Sulasna membalas dengan pukulan pukulan cepat pada wajah dan dada Ki Banas. Tapi Ki Banas cukup berpengalaman. Serangan Sulasna yang kombinasi pukulan atas bawah itu bisa dihindari.
"Aku seperti pernah melihat, jurus jurus yang di gunakan anak muda ini. Tapi di mana?" batin Ki Banas
Melihat kelincahan Sulasna dalam menghindari serangan darinya, Ki Banas dengan cepat mengangkat tangannya. Ia akan menggunakan pukulan andalan secara jarak jauh pada Sulasna.
Sulasna memasang kuda kuda, ia mengepalkan tangannya untuk menahan serangan Ki Banas.
"Pukulan Sewu Banyu Segoro. Berarti dia murid Ki Pasinggahan," ujar Ki Banas dalam hati.
"Hiaaaaaat, hiat," Ki Banas melepaskan pukulan andalan dari jarak jauhnya.
"Hiaaaaaat, " Sulasna membendungnya dengan Aji Sewu Banyu Segoro.
Pukulan keduanya bertemu pada jarak sekitar dua tombak dari hadapan masing masing.
__ADS_1
"Blummmmm, Dummmm," suara pertemuan pukulan para tokoh sakti itu. Dari Pukulan yang bertemu tersebut membuat daun daun dan debu di dekat Tugu Batu itu berterbangan.
Melihat yang dirampoknya bukan orang sembarang, Ki Banas mencuri kesempatan dengan melepas pukulan pada anak buahnya yang kena totok sekaligus mengangkat anak buahnya yang pingsan.
"Westttt...." secepat angin Ki Banas telah menghilang dari kedua lawannya.
Sulasna berancang ancang akan mengejarnya. Namun Mbah Suro yang tanggap menghadang langkah jurus Sulasna.
"Biarkan mereka pergi. Yang penting mereka tidak jadi merampok di sini?" terang Mbah Suro.
Sulasna yang mengurungkan niatnya untuk mengejar Ki Banas, hanya bisa menganggukkan kepala.
Ternyata para Pedagang yang hendak menuju pasar telah lama mengintai perlawanan mereka pada Ki Banas dan kawanan perampok di Tugu Batu tersebut. Para Pedagang yang mengintai sambil sembunyi itu, sama keluar dari tempat persembunyiannya.
"Wah, cucu Aki ternyata sakti," demikian salah satu pedagang yang keluar dari semak persembunyian di ikuti oleh yang lain.
Mereka para pedagang sangat gembira dan mengucapkan terima kasih pada Mbah Suro dan Sulasna.
"Ki Banas sudah lama menjadi pemimpin dari para perampok tersebut. Dan dirinya selalu beroperasi di sini," ujar pedagang lain.
"Maka sekarang pasar sepi, karena para pedagang dari desa sebelah takut dengan aksi para perampok tersebut. Terutama wanita yang mau memasarkan hasil daun jati untuk bungkus masakan juga tidak berangkat," terang yang lain pada Mbah Suro.
"Benar, Mbah. Semoga kejadian ini membuat kawanan perampok itu jera dan tidak berani merampok lagi," penjelasan orang orang yang mau ke pasar.
Para petani dan pedagang yang mau kepasar, tak henti hentinya mengelu elukan Sulasna, cucu Mbah Suro yang sakti mandraguna. Kemampuan silatnya bisa mengalahkan perampok Tugu Batu yang di pimpin Ki Banas.
"Sudah-sudah, yang penting Ki Banas dan anak buahnya sudah pergi. Sekarang mari kita lanjutkan perjalanan kita menuju pasar," ajak Mbah Suro.
Semua para pedagang dan para petani itu pergi menuju pasar dengan bersama sama. Dalam perjalanan mereka banyak menceritakan kejadian yang dialaminya saat berhadapan dengan Ki Banas.
"Ki Banas memang sangat terkenal kesaktiannya. Selain ia memiliki segudang kemampuan bela diri, Ki Banas juga ahli tenung, jengges. Maka sampeyan harus hati hati, Nak," ujar salah satu Pedagang kain sambil berjalan di samping Sulasna.
"Ia, Ki Banas bisa melukai dari jarak jauh karena ilmu jenggesnya," imbuh yang berjalan di belakang Sulasna.
__ADS_1
Sulasna hanya tersenyum dan menganggukkan kepala, pada pesan pesan para pedagang tersebut.
Bersambung