Kidung Bumi Wengker

Kidung Bumi Wengker
Tenaga Dalam Sekar Wangi Terkunci


__ADS_3

"Anakku, semua ajian akan manjing pada kita karena membutuhkan perjuangan yang ulet. Telitilah dengan selalu membangun jati diri," ujar Jubah Biru.


"Maksud Simbok?" tanya Sulasna.


"Kuasai dan temukan dirimu yang sejati," tegas Jubah Biru.


Sulasna menganggukkan kepalanya sebagai tanda memahami akan nasehat Simboknya. Sulasna dengan sigap membangun konsentrasi pada dirinya, agar bisa membangun kesejatian.


Sulasna kemudian bergerak dengan cepat kini tak ada bayangan yang mengikuti seperti sebelumnya.


"Oh, ternyata hanya dengan konsentrasi setiap gerakan gerakan," ujar Sulasna membatin.


"Tanpa kau membiasakan konsentrasi gerakanmu juga tidak mampu penuh. Tanpa penuh dalam bergerak tak akan kau menguasai tenaga dalam," terang Jubah Biru.


"Baik, Simbok," kata Sulasna.


Sulasna kini melatih dengan memecahkan dirinya. Semula menjadi dua. Setelah genap dua maka dia membangun serangan. Kini dia pisah dengan setiap jurus mengalahkan satu dengan yang satunya berbeda jurus.


"Berhasil aku dalam membangun serangan dan bayanganku juga membangun serangan," batinnya.


Kini Sulasna membangun konsentrasinya lagi. Dalam konsentrasi ini dia mengumpulkan tenaga untuk membangun serangan dengan tiga bayangan yang kemudian setiap bayangan ia bangun dengan jurus yang berbeda.


Setelah berhasil membangun dengan memecah tiga raga, kemudian dia pecah lagi menjadi empat.


"Berhasil," demikian ujarnya dalam membangun serangan demi serangan, jurus dan jurus dengan empat bayangangannya.


"Hebat, kamu memang berbakat, Sulasna!" kata Mbah Suro yang tiba tiba berdiri di samping Simboknya


"Ada dawuh, Eyang," ujar Sulasna.


Mbah Suro tertawa terkekeh kekeh.


"Setiap gerakan harus kau awali dengan konsentrasi. Tanpa konsentrasi mustahil tenaga dalam bisa kuat pada dirimu," terang Mbah Suro.


"Baik, Eyang," ujar Sulasna.


Kemudian Mbah Suro mengajak Sulasna untuk berlatih di tengah Sungai. Di situ ada empat sampai enam batu besar dengan jarak setiap batu lebih satu tombak.


"Setiap batu harus ada bayanganmu. Dan latihlah bayanganmu untuk menguasai jurus dan salurkan tenaga dalam penuh," perintah Mbah Suro.


"Baik, Eyang, saya akan memulai," ujar Sulasna.

__ADS_1


Sulasna kemudian melatih jurus jurusnya dengan penuh konsentrasi dan Tanaga dalam yang penuh. Semula Sulasna hanya seorang diri. Namun saat ia meloncat pada batu Sulasna kemudian pecah menjadi dua. Lantas pecahan raga itu membangun jurus Sewu banyu Segoro.


Sedangkan dirinya kemudian mengeluarkan jurus siluman Penjalin.


"Aku harus memecah lagi satu raga," ujar batinnya.


Sulasna kemudian memecah lagi satu dirinya pada batu yang jaraknya lebih dari satu tombak. Kini tiga Sulasna telah berdiri dengan masing masing jurus yang berbeda. Ia kemudian memecah raga lagi. Satu Sulasna telah berdiri. Ia melemparkan satu serangan, dengan pukulan Sewu banyu Segoro.


"Gliar.... gliar.... dhar!!!"


Salah satu batu yang terkena pukulan pun pecah berkeping keping.


'Gliaaaar, glar.....'


Satu Sulasna lain menghantamkan jurus dengan tenaga dalam mengeluarkan pukulan, dan batu tersebut pecah.


Pecahan bayang Sulasna kemudian berkumpul menjadi satu pada raga awal.


Melihat keberhasilan demikian, Mbah Suro tertawa terkekeh kekeh, kemudian ia bertepuk tangan girang.


*****


Di lain tempat Sekar Wangi mengajak pada Ki Paneluh untuk mencari Lowo Abang. Mereka menyusuri wilayah perbukitan.


"Saya juga tidak tahu Ki Paneluh," ujar Sekar Wangi.


Ki Paneluh merasakan badannya kecapekan. Karena telah beberapa hari terus berjalan.


"Saya merasakan sia-sia kalau kita akan mencari, Lowo Abang. Terlebih kita tidak tahu keberadaan Lowo Abang," ujar Lowo Abang.


"Tapi kalau kita tidak bisa menemukan Lowo Abang akan berbahaya. Soalnya Serangan untuk Kampung Gajahan Lowo Abang yang akan memimpinnya," ujar Sekar Wangi.


"Lantas?" tanya Ki Paneluh.


"Kita tetap mencari,' ujar Sekar Wangi.


"Karena strategi dan rahasia serangan dia yang tahu," terang Sekar Wangi selanjutnya.


"Kalau Lowo Abang mati di mangsa binatang buas apa kita juga akan mencari sampai ke perut binatang tersebut," ujar Ki Paneluh.


"Kamu jangan berfikir yang demikian Ki Paneluh. Sebab sama juga mendoakan Lowo Abang dalam bahaya," terang Sekar Wangi.

__ADS_1


Sekar Wangi kemudian diam. Ia mencoba mengerahkan pandangan dan pendengaran ghaib. Tapi gagal sebab semua tenaga dalamnya tak berfungsi.


"Ki Paneluh, aku merasakan tenaga dalam ku seperti terkunci," ujar Sekar Wangi.


"Siapa yang mengunci, Nyai?" tanya Ki Paneluh.


Ki Paneluh kemudian mencoba mengerahkan tenaga dalam untuk meringankan tubuh. Tapi terus gagal.


"Bagaimana, Ki Paneluh?" tanya Sekar Wangi.


"Kelihatannya saya juga gagal dalam membangun tenaga dalam. Memang sepertinya tenaga kita terkunci," terang Ki Paneluh.


"Keparat!!! Kita harus kembali ke Gunung Ngijo. Kita harus menemui siluman tua itu, agar memulihkan tenaga kita," terang Sekar Wangi.


Sekar Wangi kemudian berjalan menuju ke Gunung Ngijo. Demikian juga Ki Paneluh mengikutinya dari belakang.


"Kenapa kita baru sadar, kalau tenaga dalam kita hilang, Nyai," ujar Ki Paneluh.


Sekar Wangi tak menyahut. Ia setengah marah pada dirinya. Sebab dirinya juga tak mengerti kenapa tenaga dalam yang telah di kuasainya seperti terkunci.


Ia berjalan sekuat tenaga menyusuri lembah dan sungai. Namun sampai pada Lereng yang sudah tak jauh dari gunung Ngijo, seolah olah mereka tak mampu lagi untuk bergerak. Matanya berkunang kunang.


"Bug ..." Sekar Wangi kemudian jatuh tergeletak.


Ki Paneluh menangkap tubuh Sekar Wangi dengan sekuat tenaga. Sehingga badan dari Sekar Wangi tidak jatuh ke tanah.


"Ageng Ngijooooooooo, tolong kami!" Ki Paneluh berteriak sekuat tenaga. Sebab dia tidak mengerti apa yang harus di kerjakan.


"Ageng Ngijoooo, muridmu tak berdaya. Tolong, lah!!!" dirinya setengah putus asa berteriak keras.


Tiba tiba ada angin yang berhembus. Hembusan angin itu semula hanya perlahan, seiring dengan hembusan angin tersebut, tercium aroma bau bunga kenanga yang menyengat.


Ki Paneluh mengerti bahwa bau aroma itu adalah bau kas dari ruangan Ki Ageng Ngijo, seorang pertapa siluman di Goa Ngijo. Mencium aroma Kenanga itu hati Ki Paneluh yakin bahwa Ki Ageng Ngijo datang untuk menolongnya.


Maka dengan tertatih tatih ia mendaki puncak Gunung Ngijo sambil membopong tubuh Sekar Wangi yang tak berdaya. Hembusan angin semakin membesar seiring dengan aroma Kenanga semakin menguat. Tiba tiba, Ki Paneluh seperti di dorong untuk terus mendaki


Saat dirinya terdorong bergerak, hawa dingin menyentuh pundaknya, kemudian secepat kilat dia telah sampai pada Pesanggrahan Gunung Ngijo. Sebuah tempat keramat, yang tak sembarang orang bisa memasukinya. Pesanggrahan yang di gunakan Sekar Wangi untuk mengolah tenaga dan menyusun strategi melumpuhkan Mataram.


"Bagaimana Ki Paneluh?" tanya seorang lelaki tua yang ada di depannya. Lelaki itu memakai simping bunga kenanga. Tak lain adalah Siluman yang bergelar Ki Ageng Ngijo yang menjadi guru mereka.


'Tenaga dalam kami terasa terkunci, Ki Ageng!" Jawab Ki Paneluh.

__ADS_1


Ki Ageng Ngijo menatap Ki Paneluh. Lalu menyuruh Paneluh untuk membaringkan Sekar Wangi pada sebuah dipan bambu di dalam Pesanggrahan tersebut.


Bersambung.....


__ADS_2