
Sulasna sedang bermeditasi di sebuah batu yang berbentuk datar pada bukit yang tak jauh dari lokasi gubuk Mbah Suro. Kakinya bersila dengan kaki kanan di atas. Dia tangannya dengan telapak tangan terbuka ia letakkan pada dengkul. Matanya menatap pada pucuk hidung, agar bisa mengatur masuk dan keluarnya nafas.
Ia merasakan aliran angin yang dan hembusan dari ranting daun pepohonan. Suara gerit dahan dahan kayu ia dengar dengan lembutnya dari telinga Sulasna. Matanya ia buka agar mampu menatap jauh kedepan. Namun tak lama ia tutup kembali seiring dengan masuk dan keluarnya nafas dari hidungnya.
Lantas ia melatih perpaduan suara agar bisa di dengar dan arah terdengarnya. Juga mata tetap menatap ke depan refleksi belakang mampu di rasakan dari desirnya angin. Latihan.ini di ulangnya berkali kali, sehingga muncul sebuah kepekaan dan refleksi meski dari jarak yang lumayan jauh.
Setelah selesai mengolah Samadi, Mbah Suro mendekati Sulasna.
"Sulasna, nampaknya kau selalu berlatih dengan rajin setiap pagi dan sore. Maka aku mohon kau segera bersiap untuk berlatih ajian ajian yang aku berikan padamu," ujar Mbah Suro.
"Saya selalu siap, Aki," jawab Sulasna.
Mbah Suro merasa gembira, sebab meski menunggu lama, Sulasna tetap patuh padanya. Ia selalu mengolah meditasi pagi dan sore. Bahkan latihan yang diperbolehkan di gubuknya tapi Sulasna selalu melatih di alam terbuka selain memang alam tidak mengijinkan untuk melaksanakan latihan di alam terbuka.
Mbah Suro kemudian mengajak Sulasna untuk kembali ke gubuk. Sebab di gubuk Simboknya, yakni Nyai Selayar telah menyiapkan makanan dari talas yang di rebus.
Perjalanan Mbah Suro dan Sulasna telah sampai pada gubuk. Mereka kemudian membersihkan diri dengan mandi di sendang sebelah. Setelah itu mereka berpesta dengan talas rebus yang telah di masak oleh Nyai Selayar atau Pendekar Jubah Biru.
"Jubah Biru. Setelah beberapa bulan saya perhatikan Sulasna terus menempa dirinya dengan berbagai olah Samadi di pagi dan sore. Maka besok adalah malam purnama, saya akan memberikan beberapa ajian padanya," terang Mbah Suro.
"Terima kasih Eyang, semoga bisa bermanfaat bagi anak saya," Jawab Jubah Biru.
Mbah Suro manggut manggut mendengar jawaban dari Nyai Selayar.
"Sulasna besok kau harus bersiap diri dengan mandi keramas, sebagai bentuk penyucian diri," kata Mbah Suro.
Setelah beberapa percakapan, Mbah Suro kemudian keluar dari gubuk yang dipakai makan. Rupanya Mbah Suro ingin segera beristirahat di gubuknya.
*****
Purnama merupakan pertanda bulan bulat penuh. Pada perhitungan Jawa, purnama jatuh pada hari ke 14 atau ke 15 pada tiap bulannya.
Di bawah bulan yang bulat penuh menuju tengah malam, Mbah Suro berhadap hadapan dengan Sulasna. Dengan cara duduk dan Samadi.
__ADS_1
"Apakah kau sudah siap, Sulasna?" tanya Mbah Suro.
"Saya sudah siap, Eyang," jawab Sulasna.
Mbah Suro matanya menatap pada Sulasna. Kemudian dari jarak yang tidak lebih dari satu lengan, Mbah Suro kemudian menyalurkan tenaga murni pada Sulasna.
Sulasna merasakan aliran tenaga dari Mbah Suro menjadi getar pada raganya yang luar biasa. Getaran itu mengangkat tubuh Sulasna tinggi dan kemudian jatuh. Namun posisi raga Sulasna tetap dalam keadaan pelaksanaan Samadi. Lalu getaran hawa murni dari Mbah Suro yang terus mengalir pada Sulasna.
Sulasna menahan keinginan bergerak raganya. Ia menahan keinginan gerak agar posisinya tetap dalam samadi.
"Terus kuasai, Sulasna. Jangan sampai ikut larut dalam getaran yang berakibat tubuhmu bergerak," ujar Mbah Suro.
Sulasna menguasai dirinya dengan tenang. Aliran aliran hawa murni mengalir membangun getaran yang luar biasa pada tubuhnya. Aliran tersebut kemudian terasa bagai angin dan kesejukan pada tubuh Sulasna, yang berakibat kenyamanan pada dirinya.
Melihat Sulasna telah mampu menguasai diri, Mbah Suro tersenyum. Kemudian menatap pada Pendekar Jubah Biru yang ada di sampingnya.
"Bukalah matamu, Sulasna," perintah Mbah Suro.
"Sulasna. Itu adalah ilmu pecah raga. Ilmu itu bisa membangun wujud dirimu berjumlah lebih dari dua. Rata rata memecah raga bisa menjadi lima. Sebab pecahnya raga berasal dari keberadaan nafsu," terang Mbah Suro.
"Terima kasih atas pemberian ilmu dari Eyang Suro Tani," Kata Sulasna.
"Sekarang silahkan untuk di latih. Berdirilah dan cobalah konsentrasi pada tiap hembusan nafasmu. Setiap nafas berikan kekuatan dari bayang dirimu," terang Mbah Suro.
Sulasna kemudian berdiri, ia mempraktekkan apa yang di perintahkan Mbah Suro pada dirinya. Pada saat nafas ia tarik dan ia taha di dada, Terciptalah perwujudan dirinya. Ia membangun kekuatan bayangan hingga bisa menjadi dirinya berjumlah lima.
Lalu pada bayangan tersebut ia kuatkan dengan tenaga dalam dan masing masing bisa bergerak mengikuti apa yang digerakkan dirinya
"Cukup, Sulasna, ataur nafasmu dan kembalikan bayang bayangmu pada dirimu," ujar Mbah Suro, setelah beberapa waktu Sulasna melatih dirinya.
Sulaalsna kemudian membangunkan semua bayang bayang dari nafsu dan nafasnya untuk kembali pada raganya.
"Kau sudah mampu memecah ragamu. Tapi kau belum bisa membangun kekuatan tenaga dalam pada dirinya. Sehingga mecah ragamu hanya bisa di satu tempat. Tapi kalau kau terus melatihnya dan membangun tenaga dalam pada nafsumu, maka setiap bayangan ragamu memiliki kekuatan yang sama denganmu," terang Mbah Suro.
__ADS_1
"Saya akan terus berlatih, Eyang," ungkap Sulasna.
"Nafsu adalah diri kita. Nafsu adalah keinginan kita. Maka olahlah keinginan ini dengan tenaga. Sehingga bayang dirimu bisa kamunsuruh pergi kemanapun. Dalam mengolah tenaga ininkamu harus bisa menahan amarah pada dirimu, dan melatih menahan keinginanmu," ujar Mbah Suro.
"Lantas apakah saya hanya boleh berlatih setiap purnama, Eyang?" tanya Sulasna.
Mbah Suro tertawa terkekeh kekeh.
"Tentu setiap waktu Sulasna. Karena pada dirimu telah ada.cahaya. Sehingga cahaya pada tubuhmu bisa memunculkan pantulan diri yang disebut bayang bayang," ujar Mbah Suro.
"Terima kasih akan nasehat Eyang," jawab Sulasna.
*****
Waktu telah beranjak pagi. Sulasna bersamadi dan mengolah aliran nafas yang ada pada dirinya. Selain itu dirinya melatih gerakan gerakan jurus jurusnya. Ia kaget, sebab setiap bergerak menimbulkan bayangan bayangan.
"Kenapa ini. Setiap pukulanku seperti ada yang mengikuti," batinnya.
Namun Sulasna tak peduli akan hal itu. Ia terus melatih tendangan dan pukulan juga jurus jurus yang disertai tenaga dalam.
Namun tetap saja setiap gerakannya berakibat membentuk bayangan bayangan akan dirinya dalam setiap gerakan.
"Kenapa tetap begini," ujarnya dalam hati.
Pendekar Jubah Biru yang memperhatikan keberadaan anaknya yang berlatih jurus jurus tersebut nampak gelisah.
"Ada apa, Sulasna jurusmu kok tidak begitu sempurna?" ujar Jubah Biru.
"Saya bingung, Mbok. Setiap gerakan ku seperti ada yang mengikuti," ujar Sulasna.
Jubah Biru tertawa ringan melihat anaknya berkata demikian. Sebab itu terjadi karena ajian Mecah Raga atau aji bayangan Sewu belum sempurna dikuasainya.
Bersambung....
__ADS_1