
Macan Gembong, demikian nama Pendekar yang menjadi kepercayaan Prabu Janaka di Mataram. Kini dia berdiam di lereng Gunung Wilis dan menjadi pemimpin Padepokan. Konon ia bernama Macan Gembong karena dia memiliki ilmu yang bisa merubah dirinya menjadi seekor macan besar. Jurus yang dipelajarinya, juga memiliki gerakan gerakan seperti macan.
Pendekar Macan Gembong berlatih olah kanuragan sudah lama. Ia berguru pada seorang tokoh Pendekar yang memiliki pengaruh luas, yakni Sima Manggala. Sima Manggala adalah seorang tokoh dari golongan putih.
Padepokan Macan Gembong berada di lereng Wilis. Padepokan yang di bangun oleh Macan Gembong sangat banyak di minati dan diikuti oleh para pemuda. Banyaknya yang berguru pada Macan Gembong juga disebabkan karena para pendekar muda yang di ambil oleh Prabu Harjuna menjadi prajurit di Kerajaan Mataram.
Bahkan tidak sedikit para pemuda yang telah berguru pada padepokan lain, kemudian berguru di Padepokan Macan Gembong, dengan harapan bisa menjadi prajurit di Mataram.
Prabu Harjuna memang memiliki kepercayaan banyak yang tersebar di berbagai pelosok daerah. Pada Dunia persilatan, ada yang bernama Macan Gembong. Maka jasa Macan Gembong untuk Kerajaan Mataram, yang menyebabkan Prabu Harjuna mempercayainya. Seperti saat ia menumpas kawanan perampok yang menyerang pada Mataram.
Pada dunia Pusaka, Prabu Harjuna mempercayakan pada Empu Plongko Sari. Karena pusaka buatannya selain indah, mudah dalam penggunaan dan mempunyai keampuhan yang luar biasa.
Pusaka yang digunakan para prajurit Mataram, dari keris, pedang, tombak semua merupakan buatan dari Empu Plongko Sari ini.
Empu Plongko Sari juga bersahabat baik dengan Pendekar Macan Gembong. Terlebih pada hal hal benteng ghaib atau cara mempertahankan Kerajaan Mataram.
Seperti kali ini, Empu Plongko Sari berada di Padepokan Macan Gembong. Bahkan sudah beberapa hari.
"Ki Plongko Sari, apa rencana Panjenengan setelah ini?" tanya Macan Gembong.
"Saya belum ada rencana apapun. Sebab saya sudah lama meninggalkan padepokan," terang Plongko Sari.
"Memang tugas dari Kerajaan berat. Maka yang perlu kita perhatikan, tugas yang kita kerjakan hari ini adalah tugas untuk anak cucu nanti. Agar yang merasakan kenyamanan dan ketentraman tidak hanya kita. Namun juga mereka kelak," ujar Macan Gembung.
"Iya, Ki Ageng Macan Gembong. Selain itu, saya merasa heran dengan kelompok Nyai Selasih kok mengobrak ngabrik Plongko Sari. Ini ada apa?" ujar Macan Gembong.
"Sejak dulu, Nyai Selasih memang demikian. Dia selalu memancing musuhan dengan kita," Kata Macan Gembong.
"Sebetulnya mereka hanya ingin menguasai rimba persilatan," ujar Plongko Sari.
"Padahal sejak dulu, mereka gagal menyerang kelompok putih. Tapi mereka tidak jera untuk memusuhi kita," ujar Macan Gembong.
__ADS_1
"Dendam dan dengki telah merasuk jiwa golongan hitam," timpa Plongko Sari.
"Dan ingat, untuk menguasai seluruh rimba persilatan, mereka mengincar Tombak Mataram. Dengan menguasai Tombak Mataram, keinginan mereka bisa untuk menguasai rimba persilatan terlaksana. Sebab sampai saat ini belum ada pusaka atau ajian yang dayanya melebihi Tombak Ageng Mataram tersebut," ujar Macan Gembong.
"Apakah keberadaan Tombak Ageng Mataram telah di ketahui mereka, Ki?" tanya Ki Plongko Sari.
"Tentu saja, sebab mereka selalu memburu informasi keberadaan Tombak tersebut. Terutama Nyai Selasih dan Nyai Sekar Wangi. Perlu Panjenengan ketahui, Sekar Wangi adalah harapan mereka bisa berkuasa. Selain dia muda yang berarti kelak mampu menjaga wangsa mereka, juga kesaktian yang di miliki Sekar Wangi, belum bisa ditandinginya," terang Macan Gembong.
"Apa yang dimiliki oleh Sekar Wangi, sehingga dirinya bisa sakti?" tanya Plongko Sari.
"Saya kurang mengerti. Yang saya tahu dia adalah salah satu tokoh dari golongan hitam dan amat di segani," ujar Macan Gembong.
Perbincangan mereka terpaksa harus di hentikan dengan adanya tetua dukuh yang datang.
"Kulo Nuwun, Ki Macan Gembong," salam dari tetua Pedukuhan.
"Monggo, monggo," sambut Macan Gembong.
"Kurang Ajar. Siapa mereka?!" Kata Ki Macan Gembong marah.
"Namanya Ki Lowo Abang, demikian nama dari salah satu pemimpin mereka," terang Tetua Dukuh.
"Baik, saya akan segera menyelesaikan Lowo Abang," ujar Ki Macan Gembong.
Macan Gembong kemudian keluar dari Padepokan, diikuti oleh Empu Plongko Sari.
Sampai di luar Padepokan Macan Gembong memanggil beberapa siswanya yang dianggap tua, untuk membantunya menyelesaikan kawanan perampok yang dipimpin Lowo Abang.
Para siswa Padepokan yang dipimpin oleh Ki Macan Gembong mengikuti Tetua Padukuhan. Kemudian Macan Gembong mengawasi para siswa tersebut dari belakang.
Mereka berharap agar siswa siswa yang di anggap mampu bisa menyelesaikan masalah ini. Sehingga yang tua bisa mengawasi dua tempat, yakni Padepokan dan pedukuhan. Meski Padepokan telah dilingkari pagar ghaib namun harus tetap di awasi, bila nanti ada yang bisa menembus pagar ghaib
__ADS_1
*****
Sementara itu di Padukuhan kelompok Lowo Abang terus melancarkan serangan dari rumah ke rumah. Bila mereka telah mampu mengalahkan yang punya rumah atau yang tuan rumah ketakutan, maka harta benda mereka bawa ke Padepokan Lowo Abang.
Karena warga pedukuhan banyak yang bergelimpangan menjadi korban, maka kebanyakan dari mereka sudah tidak berani melawan. Maka dengan mudah mereka merampas dan menjarah harta benda dari mereka.
Lowo Abang merasa menang. Ia tertawa terbahak bahak, dan menantang pada warga pedukuhan.
"Ayo siapa yang berani melawan Lowo Abang. Lowo Abang akan menghabisi kalian semua!?" Ujar Lowo Abang.
Beberapa anak muda yang berpakaian serba ungu mencegah mereka. Sedang yang dua orang menghadang Lowo Abang.
"Siapa kalian, beraninya menghentikan Lowo Abang?!" bentak Lowo Abang.
"Tidak usah kau tahu siapa kami. Tapi yang jelas kelakuan kalian kurang baik. Beraninya hanya mengajak kelahi warga saja," ujar salah satu dari mereka.
"Hahaha... Hahaha, rupanya kalian mencari mampus. Semua, serang mereka......" ujar Ki Lowo Abang mengomando pada para anak buahnya.
"Seraaaaang......." teriak salah satu dari dua siswa Padepokan Macan Gembong.
Pertarungan pun terjadi. Pertarungan antara Kelompok Lowo Abang dan siswa Padepokan Macan Gembong. Mereka saling beradu jurus. Saling pukul saling tendang. Pasukan dari Lowo Abang yang membawa berbagai pusaka beradu dengan para siswa Padepokan Macan Gembong yang juga membawa pusaka.
"Thang..... Cring...... " pedang beradu pedang sehingga menimbulkan suara gemerincing.
Pertarungan mereka lumayan lama. Sebab jumlah mereka juga berimbang. Kemampuan dalam mengolah ilmu beladiri pun juga masih imbang.
Lowo Abang yang mengawasi pertarungan anak buahnya menoleh kanan dan kiri. Seolah ada yang di cari.
"Mana Nyai Selasih dan Nyai Sekar Wangi tidak nampak. Apakah ia langsung menuju Padepokan Macan Gembong?" batinnya.
Sementara itu Macan Gembong dan Plongko Sari juga mengawasi pertarungan mereka. Keduanya juga bersiap akan membantu anak muridnya bila di perlukan.
__ADS_1