Kidung Bumi Wengker

Kidung Bumi Wengker
Sendang Banyu Biru


__ADS_3

"Untung kalian cepat menghindar, tidak emosi menyerang. Kalau kalian terus melawan, saya pastikan kesaktian kamu semua habis," ungkap Aji Jayeng Arum.


"kenapa demikian, Eyang?" tanya Lowo Abang.


"Tongkat dan Ajian Harimau Putih telah meluntur kesaktiannya. Pukulan bersifat pembanyon atau pengasalan merupakan ajian yang hanya di miliki oleh Harimau Putih. Saya tidak mengerti kenapa demikian!" ungkap Eyang Aji Jayeng Arum.


"Lantas bagaimana cara membuka kunci kunci ini, Eyang?" tanya Lowo Abang..


"Sebenarnya bila ilmu yang kau kuasai sudah tidak berbau kekuatan siluman, ilmu itu akan pulih sendiri bila kau mau mengolah. Namun kalau ilmumu berupa ilmu dari siluman maka ilmu itu luluh dan sulit di kembalikan. Sedang ilmu yang kau pelajari banyak yang bersifat siluman selalu akan terkalahkan oleh tongkat Senopati Siluman Harimau dan Pukulannya," ujar Eyang Aji Jayeng Arum.


"Ilmu bersifat siluman?" tanya Lowo Abang tidak paham maksud Eyang Aji Jayeng Arum.


"Ilmu yang kau pelajari dari Kaki Ageng Ngijo adalah penguasa Gunung Ngijo Ia Siluman. Apa kamu gak sadar?"


Lowo Abang menatap mata Eyang Aji Jayeng Arum. Ia lalu teringat perjumpaannya dengan Nyai Sekar Wangi. Saat itu ia kehabisan tenaga, ilmu ilmu yang dikuasai tidak mampu untuk mengalahkan Papak Paringan.


Kemudian ia berlari mencari Selamat. Bertemu dengan Nyai Sekar Wangi yang dia dikenalkan dengan Kaki Ageng Ngijo yang kemudia mereka berdua berguru pada Kaki Ngijo. Ternyata Kaki Ngijo adalah lawan bebuyutan dari Ageng Paringan yang merupakan Ayah dari Papak Paringan.


"Lowo Abang, manusia adalah manusia. Ia bukan siluman, Maka tentu akan lebih baik bila tenaga kita adalah tenaga murni dari alam kita. Saya melihat nafsumu dikuasai oleh ambisi, sehingga kau tak mampu membangun energi alam pada dirimu. Kesabaran adalah awal untuk memulihkan dan membuka kunci tenaga dalam yang ada pada dirimu?" kata Eyang Aji Jayeng Arum.


"Lantas apa yang ahrus aku perbuat agar ilmuku dan tenaga dalam ku bisa terbuka?" tanya Lowo Abang


"Kalau kamu ingin benar membuka ilmu dan tenaga dalam mu, agar berfungsi kembali, kalahkan dulu hawa siluman yang ada pada dirimu. Apa kamu sanggup?" tanya Eyang Aji Jayeng Arum.


Lowo Abang menatap jauh ke depan. Dalam hatinya penuh kebimbangan. Namun ia tetap tidak ingin menjadi manusia lemah. Dari keinganan tak ingin di sebut orang yang lemah, maka secara pelan ia mengangguk di hadapan Eyang Aji Jayeng Arum.

__ADS_1


Lowo Abang tidak sadar bahwa yang ada di hadapannya adalah Aji Jayeng Arum, salah satu kunci penjaga dari ilmu para warok.


Tapi Eyang Aji Jayeng Arum cuma tersenyum. Ia menatap pada wajah Lowo Abang dengan seksama. Yang nampak pada wajah itu adalah sebuah keraguan. Hal itu bisa dimengerti, sebab terlanjur banyak musuh musuhnya dari golongan putih.


"Berlatihlah dengan tenang dalam upaya pemulihan tenaga dalam dengan saya nanti. Seorang Pendekar tidak harus menjadi pembunuh dan mengalahkan semua musuh. Musuh utama kita adalah keinginan dan perbuatan jahat pada nafsu kita," ujar Eyang Jayeng Arum.


Lowo Abang, tetap menunduk. Entah apa yang dipikirkan. Namun ada gurat penyesalan yang panjang. Saat Eyang Aji Jayeng Arum menjelaskan bahwa tidak mungkin, Prabu Janaka terkalahkan dengan Kelompok Sekar Wangi.


"Manusia yang baik tak mungkin banyak musuh. Mataram begitu kuat. Dan simbul kekuatannya ada pada Prabu Janaka," ujar Eyang Aji Jayeng Arum.


Aji Jayeng Arum, kemudian meninggalkan Lowo Abang yang duduk termenung di balai gubuknya. Namun tak lama Lowo Abang mengejar Eyang Aji Jayeng Arum. Akan tetapi dia sudah tak mampu melihat bayangannya


"Kemana Kakek tadi? Ia begitu cepat dalam berjalan,"batinnya.


Karena dia tak banyak menguasai ilmu seperti kemarin, maka ia kembali pada balai balai di tengah hutan tersebut.


Besok paginya, Lowo Abang sudah bangun. Eyang Aji Jayeng Arum, telah menyalakan api untuk menghangatkan badannya. Ia juga telah menyiapkan jamu untuk Lowo Abang. Melihat Lowo Abang telah datang mendekatinya, Eyang Aji Jayeng Arum, kembali mengingat Lowo Abang untuk meminum ramuan jamunya.


Lowo Abang meminum jamu yang telah di racik Eyang Jayeng Arum. Setelah itu ia mengikuti Eyang Aji Jayeng Arum, di depan tungku untuk menghangatkan badannya.


"Nanti kau harus berlatih untuk memulihkan tenaga dalam agar tidak banyak terkunci," terang Eyang Jayeng Arum.


"Iya, Kakek. Saya ingin tidak menjadi manusia yang lemah. Saya ingin kembali kuat," ujar Lowo Abang.


Eyang Aji Jayeng Arum tertawa terkekeh kekeh.

__ADS_1


"Manusia yang kuat adalah manusia yang hidupnya bisa bermanfaat bagi orang lain," ujar Eyang Jayeng Arum.


Eyang Aji Jayeng Arum mengajak Lowo Abang untuk sarapan dengan daun singkong yang telah di masaknya. Ia merasakan kelezatan yang bukan main. Namun Lowo Abang tidak berani bertanya apa resep dari Eyang Jayeng Arum dalam memasak daun singkong.


"Ayo kita berangkat!" ajak Eyang Jayeng Arum sambil berjalan meninggalkan gubuk. Lowo Abang mengikuti dari belakang. Ia tidak tahu dirinya akan di ajak kemana oleh Eyang Jayeng Arum yang telah menolong kesembuhannya.


Eyang Jayeng Arum, terus berjalan lurus mengikuti jalan buatan yang terjadi karena tiap hari di kakinya. Sehingga tanah itu memiliki kepadatan yang berbeda.


Perjalanan Eyang Aji Jayeng Arum dan Lowo Abang telah sampai sebuah bukit kecil. Dari bukit itu, terus berjalan menembus hutan yang mulai lebat. Di hutan tersebut ditumbuhi banyak pohon besar. Sehingga hutan tersebut terasa lebat dan lindung.


Nampak sebuah danau kecil di dalam hutan tersebut. Air dalam danau itu berwarna biru muda. Danau kecil yang tak lebih luasnya dari empat tombak persagi.


"Lowo Abang ini adalah sebuah sendang. Namanya Sedang Banyu Biru. Kamu harus menjalani rendam dalam air atau tapa kungkum," ujar Eyang Aji Jayeng Arum.


Lowo Abang nampak cerah. Ia sangat gembira karena akan dibimbing oleh penolongnya. Iya menganggukkan kepala tanda siap menjalani ritual tapa kungkum.


Eyang Aji Jayeng Arum kemudian membaca mantra. Bibirnya komat Kamit di pinggir Sendang tersebut.


"Sekarang masuklah kesendang itu," perintah Eyang Aji Jayeng Arum.


Lowo Abang hanya menurut pada perintah Eyang Aji Jayeng Arum. Ia pun menceburkan dirinya pada sendang. Aneh, Lowo Abang menduga bahwa Sendang dalam hutan yang di namakan Sendang Banyu Biru itu terasa dingin. Namun yang ada adalah kehangatan sehingga menimbulkan kenyamanan bagi Lowo Abang.


"Carilah tempat yang tengah, Lowo Abang," Perintah Eyang Aji Jayeng Arum.


Lowo Abang agak ketengah sendang. Setelah aman dan nyaman dalam mengambil posisi, maka ia memulai mengatur nafasnya. Dada Lowo Abang ke atas masih nampak di permukaan Sendang. Sedang anggita tubuh yang lain terendam dalam sendang.

__ADS_1


Lowo Abang matanya menatap ke depan. Tangannya bersedekap. Dengan perlahan lahan matanya tertutup.


Bersambung....


__ADS_2