Kidung Bumi Wengker

Kidung Bumi Wengker
Mendirikan Gubuk di Ladang Mbah Suro


__ADS_3

Matahari pagi mulai beranjak dari langit tepi wetan. Mbah Suro telah meninggalkan gubuk. Ia mencari bambu di ladang yang tak jauh dari gubuk.


"Crak, crak, crak...." demikian suara kapaknya yang beradu dengan batang bambu.


"Krosak, jleng," tak lama batang bambu itu roboh menimbulkan suara yang berakibat Sulasna dan Simboknya bangun. kemudian mereka bergegas mereka menuju sungai untuk mencuci muka.


Beberapa batang bambu yang telah berhasil di tebang oleh Mbah Suro di kumpulkan menjadi satu. Melihat kedatangan Sulasna dan Simboknya, Mbah Suro tertawa dengan kekehnya yang kas.


"Hehehe, kalian sudah bangun?" tanya Mbah Suro. Pertanyaan yang tak butuh di jawab hanya di sambut senyum lebar oleh keduanya.


"Sulasna, tlg bantu kakek. Potonglah bambu yang sudah Kakek kumpulkan itu! Simbokmu biar cari ketela rebus untuk sarapan," kata Mbah Suro.


"Baik, Eyang,"jawab Sulasna. Kemudian dia bergegas ke gubuk untuk mengambil parang untuk memotingi bambu bambu yang telah di tebang


"Potong sepanjang dua tombak!" ujar Mbah Suro.


Sulasna mengikuti perintah dari Mbah Suro. Ia memotong bambu sepanjang dua tombak dan di kumpulkan menjadi satu. Rata rata setiap bambu hanya mencapai dua potong. Sisanya berupa bambu pucukan yang ia kumpulkan menjadi satu.


Setelah matahari agak meninggi meski belum siang benar, Mbah Suro mengajak Sulasna ke gubuk untuk sarapan.


"Perutku lapar, Sulasna. Ayo kita pulang, semoga ibumu dalam memasak ketela sudah matang."


Mbah Suro kemudian berjalan tanpa menghiraukan Sulasna yang masih mengumpulkan bambu pucukan. Setelah selesai mengumpulkan bambu menjadi rapi, Sulasna kemudian mengejar Mbah Suro menuju pada gubuk


Tidak meleset dugaan Mbah Suro. Pendekar Jubah Biru yang ditugasi memasak ketela pohon nampaknya sudah selesai memasak. Terbukti tiga bakul ketela rebus sudah di sediakan di lantai gubuk.


"Ayo Sulasna, cepat di makan. Enak, ini.... " ujar Mbah Suro sambil mengambil satu biji ketela pohon.


Sulasna mengikuti ajakan Mbah Suro. Memang dalam tata Krama yang diajarkan Ki Pasinggahan yang usia muda tidak boleh mengambil makanan atau bentuk lain bila bersama dengan yang tua. Karena itu adalah sebuah bentuk penghormatan dan bakti. Bila berani mengambil dahulu namanya adalah lancang, dan membuat ilmu yang dipelajari akan tidak berkah.

__ADS_1


"Bambu bambu itu nanti kita jadikan gubuk, untuk kamu dan untuk Simbokmu," terang Mbah Suro.


Sontak, keterangan Mbah Suro membuat keduanya tercengang.


"Kamu butuh waktu lama di sini. Tidak cuma seratus dua puluh hari seperti di tempat nenek Pandan Sari," ujar Mbah Suro menebak kebingungan Sulasna.


"Berapa hari waktu yang di butuhkan anak saya Sulasna, Eyang?" tanya Pendekar Jubah Biru.


"Bisa sekedar 6 Purnama. Tapi juga bisa lebih lama. Semua tergantung Sulasna. Sebab yang di olah adalah kemauan dan di bangun menjadi kemampuan," ujar Mbah Suro.


Mendengar keterangan Mbah Suro Pendekar Jubah Biru berharap, semoga anaknya cepat menyelesaikan tugasnya dalam mendalami ilmu ilmu Warok.


Sebab ilmu Warok adalah ilmu yang telah di dalami oleh leluhurnya sejak dulu. Ilmu yang menggabungkan antara daya kekuatan dalam olah spiritual untuk membangun jati diri manusia seutuhnya. Antara lahir dan batin yang harus di satukan. Penyelarasan inilah yang terus di olah oleh para warok.


Namun pada tahapan perkembangan ilmu Kanuragan ilmu Warok menjadi asing. Ilmu hitam yang semakin digemari. Sebab ilmu hitam cuma mengandalkan kekuatan raga dan bisa di pakai apa saja. Jarang ada pantangan, tapi memiliki daya yang luar biasa


Dari itulah Ki Pasinggahan mengumpulkan beberapa Pendekar Putih, untuk membangun sebuah tahapan pada ilmu Warok. Yang masing masing pengolahannya di bimbing oleh Warok Sepuh. Dengan demikian Ki Pasinggahan berharap bahwa ilmu Warok selain menjadi pagar diri dalam membela dirinya namun juga menjadi sarana dalam mengolah kelakuan dan Budi pekerti.


"Jubah Biru, bagaimana kabar Nyai Pandan Sari. Dia jarang Menengok semaknya ini?" tanya Mbah Suro.


"Nyai Pandan Sari, selalu sehat saja Eyang. Meski tua dirinya tetap mengolah daya dan energinya," terang Pendekar Jubah Biru.


"Hehehe, hehehe, sejak dulu dia itu demikian. Nyai Pandan Sari adalah tergolong perempuan yang memiliki semangat kuat. Maka Ki Pasinggahan kakaknya menugaskan dia untuk menjaga ilmu pada pengolahan energi," terang Mbah Suro.


Pendekar Jubah Biru dan Sulasna hanya mengangguk mendengarkan keterangan dari Mbah Suro.


"Sulasna, ayo kita bangun gubuknya, nanti kalau siang panas," ajak Mbah Suro.


"Jubah Biru, Rebuskan jahe 7 dan sere dengan daunnya 3 batang, untuk kita minum nanti malam," kata Mbah Suro sambil berjalan menuju bambu yang telah di tebangi.

__ADS_1


Mbah Suro kemudian menyuruh Sulasna untuk membuat lobang di tanah berjumlah empat. Jarak lubang satu dan yang lainnya sesuai panjang bambu yang di potongi. Lubang lubang itu gunanya adalah untuk menancapkan tiang gubuk.


Saat Sulasna membuat lobang Mbah Suro juga membuat lobang pada bambu yang akan dijadikan tiang setinggi pinggang manusia dewasa. Lobang itu nanti dipakai untuk menjadi dasar pembuatan lantai panggung.


Setelah lobang lobang tanah sudah selesai, maka empat bambu yang telah di lubangi selebar batang bambu itu di tancapkan pada tanah. Kemudian glogor dari bambu ia pasang mengikuti.


Sore hari, dua buah gubuk itu telah berdiri namun belum di berikan atap.


"Sulasna untuk atap baiknya besok kamu cari ilalang di hutan sebelah sungai ini. Di sana banyak rumput ilalang," ujar Mbah Suro, sambil membuat tali pengikat dari bambu.


"Iya, Eyang. Besok pagi saya akan mencarinya," ujar Sulasna.


Sulasna kemudian mengikat ulang bambu bambu yang telah di pasang. Dengan diikat dua kali bambu tersebut akan lebih kenjang dan lebih kokoh.


Satu ikat bambu yang telah di belah selebar tiga jari manusia orang dewasa di angkat oleh Sulasna untuk ditata menjadi lantai gubuk.


"Sulasna, ilmu Warok adalah ilmu yang bisa melindungi dan mengayomi pada pemiliknya juga bagi orang di sekitarnya. Maka kamu harus bisa membuat gubuk untuk kamu berlindung dari terik matahari dan hujan," ujar Mbah Suro.


"Iya Eyang," ujar Sulasna singkat.


"Kalau ilmu yang kau pelajari tidak bisa membuat orang yang memiliki budi pekerti dan sifat yang tidak terpuji maka ilmu itu tidak bisa bermanfaat bagi orang lain. Dan ilmu yang demikian bukan ilmu Warok," tambah Mbah Suro.


"Iya, saya mengerti Eyang," ujar Sulasna.


"Gubuk adalah itu harus juga berguna bagi siap saja yang ingin berteduh. Jangan membatasi orang yang mau berteduh. Kalau apa yang kita punya berguna bagi yang lain, itu artinya kita telah bisa sedikit membuat orang lain nyaman," ujar Mbah Suro kemudian.


"Iya, Eyang. Semoga saya bisa mengerjakan nasehat Eyang," jawab Sulasna.


*****

__ADS_1


Bambu


__ADS_2