Kidung Bumi Wengker

Kidung Bumi Wengker
Nasehat Mbah Suro


__ADS_3

Mbah Suro tersenyum lebar. Dia merasakan bagaimana perasaan Sulasna yang sedang gundah gulana. Namun dirinya melalui mata batinnya telah mengetahui sejak lama tentang keberadaan Pusaka Putut Jangkung, sebuah keris kecil yang menjadi identitas dari dirinya sebagai Raja Sima Semesta yaitu Raja dari segala bangsa Harimau.


"Jangan gusar, mereka hanya segera ingin mengabdi pada Raja Harimau Semesta, hahaha......", ujar Mbah Suro.


"Iya, Eyang. Bagaimana sikap saya?" tanya Sulasna.


"Seorang Raja harus mengayomi kawulanya. Mereka juga punya tempat sendiri, dan mereka memang bertugas untuk melayani, menjaga keselamatan pemimpinnya,"ujar Mbah Suro.


"Terima kasih, Eyang," ujar Sulasna.


Mbah Suro, menengok kanan dan kiri seolah mencari sesuatu.


"Di mana Jubah Biru?" tanyanya seperti ditujukan pada dieinya. Dia kemudian meninggalkan Sulasna.


"Jubah Biru......" Mbah Suro memanggil Jubah biru dengan sedikit berteriak.


"Saya di sini, Eyang! " awab Jubah Biru berteriak kecil.


Mbah Suro melihat Jubah Biru melatih dirinya dengan berbagai jurus jurusnya.


"Memang, mereka semua keturunan Pendekar. Jadi ia tetap melatih dirinya dalam jurus jurusnya," ucap batin Mbah Suro.


Dengan secepat kilat, Jubah Biru telah sampai di depan Mbah Suro. Kemudian dia memberi saran hormat pada orang tua tersebut.


"iItu, gubuknya sudah jadi. Ayo di tempati sambil makan siang," ucap Mbah Suro.


Jubah Biru di ikuti Sulasna segera menata hidangan makan siang. Kini yang dipakai adalah Gubuk yang di tengah.


Pada gubuk yang di tengah ini Sulasna dan Jubah Biru menata hidangan makan siang. Selain menu dari singkong rebus dan nasi dari beras merah padi Gogo, dengan lauk tangkapan ikan dari bengkeng (alat tangkap ikan tradisional) yang di pasang Mbah Suro setiap pagi.


Kemudian ketiganya makan dengan nikmat di tempat gubuk yang tengah atau gubuk baru. Mereka makan dengan lahap. Sulasna telah bisa merasakan perbedaan pada ketiga guru penjaga ilmu Warok dan Mbah Suro. Kalau pada guru sebelumnya, Sulasna diperintahkan berpuasa, di sini justru di suruh makan dan makan. Kalau di sana dia harus berlatih di sini di suruh bekerja dan bekerja.


"Sulasna, apa yang kau pikirkan?" tanya Mbah Suro yang melihat Sulasna seperti ada yang di pikirkan.

__ADS_1


"Iya, Eyang. Sulasna tidak memikirkan apa apa," jawab Sulasna.


"Jangan berbohong. Saya bisa melihat ada kebingungan pada raut wajahmu," ujar Mbah Suro.


Jubah Biru menatap lekat wajah anaknya.


"Sulasna, ada apa?" tanya Jubah Biru.


"Saya hanya berpikir, kalau di tempat Kakek yang lain saya di suruh puasa tapi di sini di suruh makan saja," jawab Sulasna polos.


Mendengar jawaban Sulasna semuanya tertawa terkekeh kekeh.


"Saya kira perihal pengabdian Sima Seta kepadamu?" ucap Mbah Suro.


"Sima Seta?!" tanya Jubah Biru seperti baru mendengar nama tersebut.


"Iya, Sima Seta sudah menemukan pada siapa dirinya mengabdikan diri," jawab Mbah Suro.


"Sima Seta itu siapa Eyang?" tanya Jubah biru.


Melihat cahaya mustika itu, saya juga tidak ingin mendekat. Tentu pada saatnya kelak bisa menemukan pada siapa mereka akan mengabdi. Sebab saat itu, saya mendengar kabar bahwa Sima Kembara telah mampu menyelamatkan Pusaka Raja Sima Semesta, yakni Putut Jangkung.


"Dan saya bisa menyaksikan saat kalian datang, bahwa Sulasna adalah pemegang Pusaka sebagai tanda bahwa dirinya adalah Raja Sima Semesta," ujar Mbah Suro.


"Lantas bagaimana Eyang?" tanya Jubah Biru.


"Ya, Sima Seta mengabdikan diri pada Sulasna sebagai Raja Sima Semesta. Maka Sulasna sebagai Raja Harimau ya harus memiliki sikap ngayomi pada kawula," ujar Mbah Suro.


"Iya, Eyang. Saya akan menerima nasihat dan bimbingan Eyang dengan melaksanakan semampu saya," ujar Sulasna.


Mbah Suro terkekeh kekeh mendengar Jawaban dari Sulasna.


"Sulasna dan Nyai Jubah Biru. Prinsip dari ilmu yang kalian pelajari selama ini adalah prinsip bahwa kalian harus menghindari perkelahian. Mengutamakan kedamaian dan mengenal diri dengan pasrah pada Tuhan. Di sini berarti kalian harus mengutamakan kesabaran agar sampai pada titik pasar," ujar Mbah Suro.

__ADS_1


"Iya, Eyang," jawab keduanya.


"Tanpa kau dasari sabar, tak mungkin bisa tercapai kepasrahan. Maka di sini kalian belajar sabar dan mengalah pada nilai nilai kehidupan," ujar Mbah Suro.


Sulasna dan Jubah Biru mendengar nasehat dari Mbah Suro dengan seksama.


*****


Hari telah berganti Minggu. Sulasna dan Jubah Biru tetap berada pada Ladang Mbah Suro dengan menempati gubuk baru yang di bangun dengan bantuan dari Harimau Putih. Mereka selalu mematuhi apa yang di nasehatkan Mbah Suro selain pada tiap tiap waktu melatih dirinya dengan gerakan jurus dan mengolah ilmu tenaga dalam yang telah di milikinya.


Mbah Suro hingga saat ini juga tidak menurunkan ilmu apa pada diri mereka. Yang diberikan hanyalah nasehat dan membantu Mbah Suro dalam berladang. Tapi semua itu sangat berguna dalam mereka mengarungi samudra kehidupan.


Seperti pada malam itu:


"Sejak dulu sampai kapanpun, yang ada di dunia hanya ada dua yang bersifat berpasangan. Ada laki laki ada perempuan. Ada tua ada muda. Ada baik dan ada buruk. Ada hitam juga ada putih. Pasangan ini selalu bersifat dasar bertentangan. Maka kebenaran tentu akan berlawanan dengan kesalahan. Kebaikan akan berlawanan dengan kejahatan. Maka yang kita harap adalah diri kita, berlaku pada konsep keadilan dan kebijaksanaan," ujar Mbah Suro dalam sebuah nasehatnya.


"Keadilan bukan berarti tidak berpihak. Keadilan akan berpihak pada kebenaran dan kebaikan. Kebijakan adalah buah dari kita mengamati dan menelaah dari kebaikan. Maka tugas utama kita adalah berlaku baik pada siapa saja dengan mengedepankan konsep cinta dan kasih pada siapa pun tanpa kecuali. Dengan konsep tersebut kita jalani maka keadilan tentu pada pihak kebenaran. Kadang waktu yang akan berlaku membuktikannya," lanjut Mbah Suro.


Sulasna dan Jubah Biru mendengarkan dengan seksama dan merasakan nasehat tersebut.


"Belajarlah pada perjalanan hidup kita ini. sehingga kita akan bisa mengambil nilai nilai hidup dari perjalanan. Ingatlah Sulasna dan Nyai Jubah Biru, bahwa guru yang terbaik adalah pengalaman. Dan Pengalaman akan mempola kita menjadi diri kita sendiri," ujar Mbah Suro.


"Iya, kami sedia untuk melaksanakannya," ujar keduanya bersamaan.


Mbah Suro kemudian menyuruh pada Sulasna dan Jubah Biru untuk melakukan meditasi secara rutin.


"Pagi dan sore saya mohon kalian mengadakan meditasi. Kalian bebas mengadakan di mana? Bisa di sungai atau di ladang bahkan di dalam gubuk juga boleh," ujar Mbah Suro.


"Kapan kami bisa mulai, Eyang?" tanya Jubah Biru.


"Saat matahari mulai terbit besok dan saat matahari terbenam," Jawab Mbah Suro.


*****

__ADS_1


bersambung


__ADS_2