
Harimau itu silih berganti posisi mengitari, tiga pendekar dari golongan hitam tersebut. Sementara mata dari Ketiga terus menatap tajam pada tingkah laku semua harimau. Secepat kilat Sekar Wangi melemparkan Selendang Saktinya.
Sebuah Selendang yang di lempar, ternyata berpecah menjadi empat Selendang. Harimau putih dari bangsa Siluman yang mengeroyok tiga Pendekar tersebut tiba tiba meloncat bersama. Sehingga Selendang tersebut menjulur pada pohon hutan.
"Glar, glar, dasaaar...."
Selendang Sakti dari Sekar Wangi bersuara menggelegar pada angkasa. Tiga pohon jatuh terkena selendang tersebut. Selain pohon yang tumbang, angin dari selendang sakti itu mengakibatkan daun daun di hutan berterbangan dan debu debu ikut terbawanya.
Harimau putih yang berjumlah sepuluh kembali berancang ancang akan menerkam pada tiga Pendekar. Entah dengan aba aba apa, Harimau itu bergerak cepat menerkam ketiganya secara bersamaan. Namun rupanya Sekar Wangi tak kalah sigap. Ia meloncat dan berjalan di angkasa keluar dari area kerumunan pengeroyoknya. Pun demikian dari Lowo Abang dan Ki Paneluh
Sambil bergerak ketiganya melemparkan serangan jarak jauh pada harimau harimau tersebut. Namun karena harimau siluman yang rupanya juga telah terlatih, mereka mengerti arah gerakan dan serangan dari tiga Pendekar beraliran hitam itu.
Glaaaaar, Glar
Suara hantaman dan pukulan jarak jauh yang dilemparkan ketiga Pendekar tersebut, mengakibatkan dentuman yang luar biasa. Debu dan daun daun yang telah kering berguguran seolah membuat mata harimau siluman terhalang. Sementara yang di serangnya semua berubah menjadi Pendekar berbaju putih dengan rambut yang putih dan panjang.
"Aneh wajah mereka yang satu dengan yang lainnya hampir sama," kata Sekar Wangi.
"Lowo Abang, lemparkan cundrikmu!" perintah Sekar Wangi.
Lowo Abang secepat kilat mengambil tiga cundriknya ke arah macan putih itu. Dari cundrik tersebut mengeluarkan angin dahsyat dan hawa panas. Dasar siluman di beri hawa panas, malah merangsek menyerang pada ketiga Pendekar itu. Sedangkan cundrik cundrik itu kembali pada Lowo Abang. Tanpa Pikir panjang Lowo Abang mengeluarkan Pukulan andalannya, yaitu pukulan seribu kelelawar.
Kelelawar berjumlah ribuan menyerang pada semua harimau putih yang telah berubah menjadi manusia. Sepuluh Darii mereka secara bersamaan mengeluarkan pukulan . Asal putih mengepul membentuk lingkaran perisai Sehingga kelelawar itu berhamburan dan terjatuh di tanah. Tapi sebelum menyentuh tanah, kelelawar kelelawar itu telah menghilang.
"Terlalu lama, mari kita gabungkan seluruh kekuatan kita. Sebab mereka juga menangkis serangan kita dengan kekuatan bersama," ajak Ki Paneluh.
Kemudian ketiga Pendekar golongan hitam itu memasang kuda kuda, Telapak tangan Lowo Abang dan Ki Paneluh mereka saling beradu. Sedangkan Nyai Sekar wangi sedekap di samping kanan mereka. Tiba tiba keluar angin dengan suara gemuruh yang luar biasa. Dengan sangat terpaksa, Satriya tampan jelmaan pertama dari harimau putih meloncat kedepan. Ia mengambil tongkat dari bajunya yang dilemparkan ke arah angin tersebut
Sepuluh pemuda yang berwajah hampir sama itu berjajar dengan tangan mengepal ke depan, keluarlah asap putih yang tebal.
Angin dan asap itu beradu, Sementara tongkat yang dilempar dari Satriya pertama jelmaan harimau itu seolah terdorong dengan asap yang berwarna putih tersebut.
"Gler.... glar...."
__ADS_1
"Gleeeeer, Gleeeer..."
Angin yang keluar dari tiga pendekar bergolongan hitam membumbung tinggi, membuat kabut berwarna hitam dan beradu dengan asap yang putih. Dari jauh nampak warna ungu dan terus membumbung di angkasa. Daun daun yang telah jatuh ke tanah dengan adu daya dari dua golongan makhluk itu memberi warna lain pada angkasa.
*****
Sementara di tempat lain, Mbah Suro memandang keberadaan angkasa yang berwarna lain. Ia memanggil Jubah Biru dan Sulasna untuk melihat apa yang terjadi pada langit tersebut.
"Eyang itu seperti bukan biasanya, mesti ada penyebab kejadian ini," ujar Pendekar Jubah Biru.
"Benar, Jubah Biru. Itu adalah adu daya dari manusia setengah siluman dan daya siluman biasa?" ujar Mbah Suro.
"Siapa yang sedang bertarung, Eyang?" tanya Sulasna.
"Saya tidak mengerti," ujar Mbah Suro sambil tetap mengamati keberadaan langit yang bergerak dengan kabut yang terus menebal.
"Apakah ini tidak membuat kacau dari alam sekitar sana, Eyang?" tanya Jubah Biru.
"Semoga tidak, sebab sebentar lagi pasti bangsa siluman akan berkumpul di tempat itu. Namun kalau melihat akibat yang seperti itu, jelas bukan manusia sembarangan yang melawan para siluman," ujar Mbah Suro.
"Sulasna coba kau datangi arah cahaya langit itu. Siapa yang sedang bertarung!" perintah Mbah Suro.
Sulasna kemudian memberi sembah hormat pada Mbah Suro dan simboknya. Kemudian dengan cepat ia meninggalkan tempat tersebut menuju ke arah yang sedang bertarung.
Raja Sima Seta telah berdiri dengan menatap pada mereka yang sedang bertarung. Sebab ia melihat adanya tongkat simbul Senopati Sima Seta, atau bangsa siluman harimau putih memancar pada langit arena pertarungan.
Sulasna datang dengan cepat diblokasi pertarungan. Dia melihat Raja Sima Seta telah berdiri menyaksikan pertarungan, dirinya kemudian berdiri di samping Raja Sima Seta.
"Sembah Hormat Paduka Raja Sima Semesta," sembah Sima Seta.
"Saudaraku Sima Seta, apa yang terjadi?" tanya Sulasna.
"Paduka, kelihatannya Senopati Satriya Manggala, bertarung dengan Pendekar golongan hitam. Mereka adalah Sekar Wangi, Lowo Abang dan Ki Paneluh," terang Raja Sima Seta.
__ADS_1
"Pertarungan terjadi karena apa?" tanya Sulasna.
"Maaf Paduka Raja Sima Semesta. Menurut Satriya Manggala Yuda, ketiganya mau merobohkan kekuasaan Mataram dengan menyerang Kampung Gajahan. Satriya Manggala dan saudaranya menghadang ketiganya, agar tidak membuat onar pada kampung Gajahan," terang Raja Sima Seta.
Sulasna terlihat menganggukkan kepala mendengar penuturan dari Raja Sima Seta. Sementara mata Sulasna dan Juga Sima Seta tetap memandang pada pertarungan.
"Glar.... Glar.... "
Bagaikan petir yang beradu diangkasa pukulan kedua makhluk yang berbeda alam itu beradu.
"Gluuuuuur, Gler..."
Tiba tiba suara berdentum keras menggelegar di angkasa. Membuat ketiga Pendekar golongan hitam itu terjatuh. Dari mulut ketiganya keluar darah bertanda ada luka parah pada organ dalam mereka.
"Wustttttt..."
"Westttt..."
Sekar Wangi diikuti oleh Lowo Abang dan Ki Paneluh meninggalkan pertarungan tersebut dengan kekalahan.
Raja Sima Seta dan Sulasna, menuju pada semua siluman harimau yang baru saja menyudahi pertarungan dengan kemenangan.
"Sembah hormat kami Raja Sima Seta."
"Sembah Hormat Kami Raja Sima Semesta."
Semua siluman harimau putih mengucapkan sembah kepada yang baru hadir.
"Hamba siap mengerjakan tugas Paduka," ujar Satriya Manggala.
"Tugas kalian telah berhasil. Terima kasih, atas perjuangan kalian. Sebab kalian harus tahu, bahwa di Kampung Gajahan bisa di katakan sebagai kampung Kerajaan," ujar Raja Sima Seta.
"Maka ini adalah sebuah kehormatan atas kesuksesan tugas kalian, Raja Sima Semesta hadir melihat pertarungan kalian. Kami mengucapkan banyak terima kasih," Lanjut Raja Sima Seta.
__ADS_1
bersambung....