
Lowo Abang yang telah bisa menguasai dirinya mencoba duduk. Dia kaget, dan nampak bingung. Ia melihat ke kanan dan ke kiri, tentang keberadaan lokasi dirinya kini berada.
"Di mana, aku kin?" batin Lowo Abang.
Lowo Abang membenahi cara duduknya. Agar lebih nyaman. Di menatap ke depan di depan ruangan tersebut ada meja, di situ ada kendi dan juga ada beberapa daun daun hutan yang ia tidak mengenal jenisnya
"Siapa yang mengobati aku?" tanyanya dalam hati.
Ia teringat begitu dahsyatnya kekuatan pukulan dari sepuluh harimau putih siluman. Dan dia berada tepat pada sasaran pukulan tersebut. Posisinya adalah menghadang pukulan, sebab Lowo Abang yakin bila pukulannya mampu menghadang pukulan dari sepuluh harimau siluman. Ternyata perkiraannya meleset. Sebab pukulan dari siluman harimau putih tidak bisa di tahannya, bahkan kekuatan dari Ki Paneluh dan Sekar Wangi, juga tak mampu membendung.
Untung saja Ki Paneluh hanya terkena sedikit dan itu pun setelah pukulan mengenainya dan mengenai Sekar Wangi.
"Terakhir aku terjatuh saat mengambil hawa murni alam untuk penyembuhan ku. Lantas bagaimana keadaan Ki Paneluh dan Sekar Wangi?" tanya hatinya
Di saat fikiran fikirannya penuh tanda tanya, tiba tiba datanglah seorang kakek kakek tua. Dirinya membawa secangkir minuman, untuk Lowo Abang
"Kau sudah bangun, Lowo Abang?" ujar Kakek tersebut. "Minumlah ramuan ini, agar tenagamu cepat pulih," imbuh Kakek tersebut.
"Terima kasih, Kakek. Selama ini berarti Kakek yang mengobati saya?" tanya Lowo Abang.
Kakek itu hanya mengangguk pelan.
"Lantas di mana kedua temanku, Kek?" tanya Lowo Abang.
"Mereka sembuh, dengan menyerap energi alam. Sebab lukanya tidak separah lukamu. Mereka hanya kena desirnya angin saja," Jawab Lelaki tua yang tak lain adalah Eyang Aji Jayeng Arum.
"Lantas, siapa Kakek ini, kok mau mengobatiku?" tanya Lowo Abang.
__ADS_1
"Lowo Abang, orang dalam mengarungi kehidupan di tugaskan untuk saling membantu. Sehingga kita bisa bahagia saat bisa berdampingan yang satu dengan yang lain," ujar Eyang Aji Jayeng Arum.
Lowo Abang hanya menatap Eyang Aji Jayeng Arum.
"Siapa sebenarnya Kakek ini?" tanya Lowo Abang dalam hati.
Bagaimana kalau dia tahu sebenarnya Lowo Abang adalah kelompok Pendekar golongan hitam, yang telah merencanakan perlawanan terhadap Prabu Janaka. Apakah Kakek ini akan membunuhka atau membiarkan dirinya di makan hewan liar di alas ini.
"Lowo Abang, kenapa kau melamun?" tanya Eyang Aji Jayeng Arum.
"Ti... tidak ... saya tidak melamun, Kakek. Saya hanya berpikir bagaimana tentang kedua temanku," jawab Lowo Abang menutupi pikirannya yang sebenarnya.
"Lowo Abang, kenapa kau berani menghadang gempuran pukulan Ajian Seta Sakti. Apakah kau sudah tahu efek dari ajian tersebut?" tanya Eyang Aji Jayeng Arum.
"Nah itu Eyang. Saya tidak memahami ajian tersebut dan keberadaannya. Saya kira, daya pukulan Aji Lawa Sewu bisa menangkisnya," jawab Lowo Abang.
"Lowo Abang, berarti sejak dulu kau sebenarnya baru kali ini berhadapan dengan bangsa siluman. Hahaha... Ketahuilah, Ajian Seta Sakti adalah ajian yang mampu melumpuhkan tenaga dalam dan menghancurkan semua kekuatan atau ilmu yang di miliki oleh semua Pendekar. Karena Ajian Seta Sakti, adalah Ajian dari Senopati ya siluman. Kamu tentu telah banyak kehilangan kehebatan mu. Demikian pula kedua temanmu. Tapi mereka tidak menyadari," ujar Eyang Jayeng Arum.
"Benarkah demikian Kakek? Lantas siapa Kakek ini dan apa untungnya Kakek menolong saya?" tanya Lowo Abang setengah terkejut.
"Benar Lowo Abang. Jurus jurus dan kekuatan diri secara fisik, bagi mereka yang terkena hafal, mampu, tapi saya tenaga dalam akan banyak berkurang, kalau tidak terkunci. Kalau kau tidak percaya cobalah sendiri besok tenaga dalam mu," ujar Eyang Jayeng Sakti.
"Maaf, Kakek. Kakek ini dari golongan hitam atau golongan putih?" tanya Lowo Abang
'Hahahaha, merah, hitam dan putih adalah warna yang tak perlu kita persoalkan. Yang paling penting bagi kita adalah berbuat untuk kebaikan," ujar Eyang Aji Jayeng Arum lalu meninggalkan Lowo Abang.
"Kakek mau kemana?" tanya Lowo Abang, melihat Eyang Aji Jayeng Arum meninggalkannya.
__ADS_1
Sambil menoleh Eyang Aji Jayeng Arum berkata," tenanglah. Saya tidak akan lama, hanya mencari daun daunan untuk makan kita besok."
Setelah mendengarkan penuturan dari Kakek penolongnya, Lowo Abang berpikir keras. Bagaimana jadinya bila benar apa yang di katakan Kakek tadi. Yaitu, Tenaga Dalam akan banyak berkurang kalau tidak terkunci karena Ajian dari Harimau Siluman. Juga bagaimana nasib Sekar Wangi dan Paneluh teman karibnya.
Lowo Abang juga berpikir kalau kedua kawannya tak terasa akan hilangnya tenaga dalam dari ilmu ilmu yang mereka kuasai, bagaimana kalau mereka melancarkan serangan pada Kampung Gajahan. Bisa bisa mereka akan di hajar oleh orang orang kampung Gajahan.
Lamunan dan khayalan Lowo Abang sangat jauh ke depan. Sebab bagaimanapun dia menyanggupi mengikuti dari gerakan Sekar Wangi untuk menguasai Kerajaan Mataram. Dan bila nanti Prabu Janaka terkalahkan, kawanan mereka akan mendapat kedudukan yang layak
Lamunan lamunan keberhasilan tentang menguasai Mataram, telah merasuk pada pikiran komplotan Sekar Wangi. Dan ini menyebabkan Lowo Abang, Ki Banas jagoan jengges, Ki Paneluh ahli teluh, mengikuti keinginan dari Sekar Wangi.
Lowo Abang kini berpikir keras, dan seolah telah tak berharap tentang kekuasaan Mataram. Sebab dirinya ingat, bahwa tenaganya telah terkunci. Dan untuk membuka tenaga dalam yang terkunci tentu butuh waktu yang lama.
Namun, siapa yang akan menerima dirinya bila tak lagi tangguh dengan kesaktian seperti dulu. Ini juga menjadi kendala tersendiri nantinya.
Seiring dengan pemikiran Lowo Abang yang terus berputar, waktu ikut bergulir. Siang bergerak menjadi malam dan Hari bergerak menjadi Minggu. Lebih tujuh hari Lowo Abang telah sadar dari pingsannya dan kini badannya telah pulih. Semua itu berkat pertolongan dari Eyang Aji Jayeng Arum. Tapi sampai kini Kakek itu tak mau mengaku siapa namanya pada Lowo Abang. Sebab menurutnya, yang menjadi tugas bagi kehidupan adalah berbuat untuk kebaikan. Bukan nama, ilmu kesaktian dan bentuk kekuasaan.
"Meski berkuasa, tapi tidak mau berbuat baik, apa itu tugas kehidupan. Itu adalah membangun keuntungannya sendiri. Bila kita mengikuti keuntungan pribadi yang terjadi adalah kehancuran. Hancur bagi kita dan hancur bagi orang lain," nasehat Eyang Aji Jayeng Arum.
"Aku baru menyadari hal ini, setelah lama berada dalam pengobatan Kakek. Lantas apa yang harus ku perbuat, Kek?" tanya Lowo Abang.
"Lowo Abang. Tugasmu adalah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Yaitu menunggu kesembuhan dan membangun ulang tenaga daya energimu," ujar Eyang Aji Jayeng Arum
"Apakah tenagaku juga bisa pulih nanti, Kek?" tanya Lowo Abang.
"Apakah hilang sepenuhnya?" Eyang Aji Jayeng Arum balik bertanya..
"Yang bersifat ajian kesaktian semua tidak mampu saya pergunakan, Kek," tutur Lowo Abang pelan.
__ADS_1
Bersambung