
"Saya baru paham, mereka memperkirakan Tombak Ageng Mataram atau Tombak Mataram itu berasal di tempat kita, Ki Plongko Sari. Hahaha.... mereka salah sasaran," kata Macan Gembong.
"Benar. Dan mereka memperkirakan bahwa, bisa membawa Tombak Ageng Mataram tersebut. Padahal Tombak Pusaka Mataram itu memilih siapa yang layak untuk memiliki," ujar Ki Plongko Sari.
"Benar, Ki Empu. Tapi mereka lupa akan jiwanya. Ambisi kekuasaan telah membuat Sekar Wangi dan Nyai Selasih berfikir soal tersebut," ujar Pandan Sari.
"Namun yang pasti adalah, mereka akan memerangi golongan putih. Dan ingat, mereka akan terus membangun ambisinya. Bahkan, kini Sekar Wangi akan membangun istana bagi kelompok mereka dan sekutunya," terang Ki Penjalin.
"Apa? Mereka akan membangun istana. Maksud Ki Penjalin akan membangun Kerajaan?" tanya Macan Gembong.
"Cepat atau lambat keinginan itu akan dilaksanakan. Terlebih para siluman Lembah Hijau telah ditaklukkan," terang Ki Penjalin.
"Semakin berani mereka?" ujar Empu Plongko Sari.
"Hahaha.... Macan Gembong, kau harus tahu. Sekar Wangi berambisi untuk berkuasa. Maka ia menggunakan segala cara untuk meraih kekuasaan. Terlebih kini sekutunya tambah kuat dengan adanya Lowo Abang dan Paneluh," terang Pandan Wangi.
Angin sepoi membawa pemikiran tokoh golongan putih tersebut. Mereka berfikir akan adanya dua kekuasaan di tanah Mataram. Yakni Kekuasaan Sekar Wangi dan Kekuasaan Prabu Janaka.
Tapi, apakah benar akan terlaksana keinginan dari Sekar Wangi? Dan bila keinginan Sekar Wangi tidak terlaksana, apa yang akan di lakukannya?
"Macan Gembong dan Ki Empu Plongko Sari, tugas kami masih banyak. Kami harus pergi dahulu untuk menyelesaikan tugas tugas ini," terang Ki Penjalin.
"Westttt...." Seperti angin cepat membawa Ki Penjalin pergi.
"Wustttttt...." Pandan Sari juga meninggalkan tempat tersebut.
Setelah perginya dua Pendekar tua itu, maka Macan Gembong dan Plongko Sari menuju ke Padepokan Macan Gembong.
*****
Sementara itu di Gunung Ngijo, Nyai Selasih dan Sekar Wangi juga Lowo Abang penuh dengan kekecewaan karena kegagalannya untuk masuk pada Padepokan Macan Gembong.
"Keparat...!!!! Semua rencana kita gagal lagi!!!!" ujar Nyai Selasih.
"Sabar Nyai. Ini bukan sebuah kegagalan. Tapi bagiku ini justru sebuah kesuksesan pertama," kata Sekar Wangi.
"Tidak gagal bagaimana?!! Sudah aku katakan bahwa pagar ghaib itu mestinya di buat melingkar. Justru kamu mengajak langsung kita dobrak. Apa yang terjadi, kita tidak bisa masuk Padepokan Macan Gembong yang telah terpagari itu!?" ujar Nyai Selasih.
"Hahahaha..... Hahaha, kamu hanya melihat sampai di situ Nyai. Tapi ingat!!!! Dengan cara yang kita terapkan tadi, Macan Gembong telah keluar dan berfikir lain. Dia akan segera memancing para Pejabat dari Mataram keluar," ujar Nyai Sekar Wangi.
__ADS_1
"Benar apa yang di katakan Nyai Sekar Wangi, Nyai Selasih," ujar Lowo Abang.
"Tapi, tombak Mataram tidak bisa kita pegang. Ini adalah sebuah kegagalan yang utama," ujar Nyai Selasih dengan nada kecewa.
Sekar Wangi tersenyum menatap Lowo Abang.
"Nyai Selasih, apakah Nyai bisa memastikan keberadaan Tombak Mataram ada di Padepokan Macan Gembong? Saya yakin ini masih perkiraan. Tapi yang pasti adalah Macan Gembong Plongko Sari sudah keluar dari sarang mereka. Dengan begitu, Pejabat Mataram akan segera keluar dari sarangnya!" ujar Sekar Wangi.
"Dengan keluarnya Pejabat Mataram kita akan segera mampu menduduki Kerajaan tersebut", ujar Lowo Abang.
"Hahaha.... hahaha.... cerdas pikiranmu Lowo Abang. Berarti kita akan segera menyusun pola dan strategi penyerangan yang baru," ujar Sekar Wangi.
"Sambil kita tunggu kesembuhan Ki Paneluh yang terluka karena kena serangan Jubah Biru," terang Lowo Abang.
Kedua Pendekar perempuan dari golongan hitam terkejut, dengan keterangan yang di sampaikan Lowo Abang. Terlebih Nyai Sekar Wangi, dia tidak mengira kalau salah satu pengikut setianya terkena serangan dari Pendekar Jubah Biru
"Apa, Paneluh terkena serangan Jubah biru?" tanya Sekar Wangi.
"Jubah Biru, kenapa dia keluar lagi. Apakah dia juga berkeinginan mencari Tombak Mataram", pikir Nyai Selasih.
Lowo Abang menjelaskan tentang kedatangan dari Ki Paneluh di Padepokannya. Ia juga menuturkan, bahwa Paneluh terkena pukulan dan mengakibatkan luka dalam pada tubuhnya.
"Sebetulnya sudah saya coba berikan tenaga murni, dan sudah lumayan. Tapi kelihatannya masih lemas," ujar Lowo Abang.
"Ayo kita kesana!" ujar Nyai Selasih.
""Mari Lowo Abang, kita lihat bagaimana keadaan Ki Paneluh," ajak Sekar Wangi.
Ketiganya, lantas pergi meninggalkan lokasi Gunung Ngijo.
"Westttt..…"
"Wustttttt...."
"Westttt...."
Dalam sekejap mereka telah meninggalkan Gunung yang di jadikan markas rahasia itu.
*****
__ADS_1
Ki Paneluh, yang masih mencoba dalam pemulihan Kesehatannya. Meski telah mampu berdiri tapi tenaganya masih teramat lemah.
Maka ia harus berlatih untuk berjalan, meski harus lemas. Maka saat langkah kakinya telah mencapai 6 sampai 7 langkah harus terjatuh.
"Waduh.... Apa yang menyebabkan ini?!" batin Ki Paneluh.
Sambil meringis kesakitan ia mencoba kembali untuk berdiri.
"Ada apa ini, ataukah......." gerutu Ki Paneluh.
Pada saat ia kesulitan dan ingin merangkak, tiba tiba, datang Lowo Abang, Sekar Wangi dan Nyai Selasih.
"Bagaimana kau itu, Ki Paneluh. Sudah saya ingatkan jangan banyak bergerak, kok malah ada di luar?! kata Lowo Abang setengah geram pada sahabatnya tersebut. Lowo Abang kemudian memapah Paneluh untuk di bawa masuk dalam ruang di Padepokan. Sedang Nyai Selasih dan Sekar Wangi mengikuti dari belakang.
Setelah sampai ruang yang di tuju, Lowo Abang mendudukkan sahabatnya dalam dipan.
"Bagaimana yang kau rasakan, Ki Paneluh?" tanya Sekar Wangi.
"Lemas dan sulit untuk di pakai bergerak Nyai," terang Ki Paneluh.
"Ini berarti salah satu kekuatan pukulan dari Jurus Sewu Banyu Segoro," ujar Nyai Selasih.
"Kok bisa begitu, Nyai?" tanya Lowo Abang.
"Badan dan tubuh kekurangan hawa panas. Sebab Pukulan dari Jurus Sewu Banyu Segoro hakekatnya menghilangkan panas dari yang terkena," ujar Nyai Selasih.
"Sekarang bersiaplah, aku akan menyalurkan hawa murni yang membuat hangat pada tubuhmu!" ujar Nyai Selasih.
Nyai Selasih mengajak Sekar Wangi untuk menyalurkan hawa murni untuk mengobati Paneluh.
Seperti terkejut yang dirasakan Lowo Abang. Lantas ia merasakan seperti ada benda yang berjalan mengalir pada tubuhnya. Namun yang ia rasakan akibat itu adalah sakit yang luar biasa. Sebab bagaikan jarum yang menancap pada dirinya menelusuri tubuhnya.
"Aduh..... sakit sekali!" ujar Ki Paneluh.
Namun seperti nya kedua Pendekar Perempuan itu tidak mau peduli. Ia terus menyalurkan hawa murninya pada Ki Paneluh.
"Aghhhhh, sakiiiit......" kembali Ki Paneluh berteriak sambil menggerakkan seluruh tubuhnya, agar rasa sakit itu bisa berkurang.
Dan pada tahap selanjutnya, Ki Paneluh merasakan agak enak pada tubuhnya. Maka Nyai Selasih dan Sekar Wangi menyudahi pemberian hawa murninya.
__ADS_1
Bersambung...