Kidung Bumi Wengker

Kidung Bumi Wengker
Bertemu Dengan Ki Suro Tani


__ADS_3

Sedang di tengah ladang ada sebuah gubuk kecil. Di belakang gubuk ada sebuah tungku bekas untuk memasak. Karena di situ ada beberapa perabotan rumah tangga.


Anehnya lagi di gubuk tersebut dindingnya hanya tengah ke bawah terbuat dari bambu yang di anyam. Sedangkan tengah keatas di biarkan terbuka. Sehingga bila ada orang berada di dalamnya, bisa nampak.


Dan terlihat sekali bila gubuk tersebut saat ini tak ada penghuni. Jubah Biru dan Sulasna menengok kanan dari kiri, kemudian mondar mandir di sekitar lokasi gubuk itu namun tidak nampak ada orang.


"Kelihatannya gubuk ini kosong, Sulasna," Kata Nyai Selayar dengan berpakaian Pendekar Jubah Biru.


Sulasna hanya menganggukkan kepalanya. "Saya juga sudah mencari kesana kemari, di sekitar gubuk ini. Juga tidak nampak ada oran," tambahnya.


Nyai Selayar kemudian mengajak Sulasna untuk meninggalkan gubuk tersebut. Baru saja kedua Pendekar tersebut melangkahkan kakinya beberapa langkah, dari kejauhan nampak ada dua orang berjalan di pinggiran sungai. Keduanya berlari di pematang sawah, agar dua orang yang berjalan tidak keburu hilang.


Sampai di dekat orang yang di tuju, keduanya menghampiri orang tersebut. Kedua orang itu segera menghentikan langkahnya.


"Maaf, Bapak bapak. Saya apakah boleh bertanya?" tanya Pendekar Jubah Biru.


"Silahkan, Nyai. Apa yang ingin Nyai tanyakan," ujar salah satu dari kedua orang tersebut.


"Maaf, ladang luas ini dan juga gubuk itu, apakah ada yang memiliki?" tanya Pendekar Jubah Biru.


"Oh itu. Itu milik Mbah Suro. Tapi orangnya aneh. Kadang Gubuknya ia tinggal begitu saja. Tanahnya kadang hanya di cangkul tanpa ditanami apa apa," Jawab orang tersebut


Mendengar jawaban dari kedua orang itu, Sulasna dan Pendekar Jubah Biru nampak gembira.


"Rupanya saudara ini pengembara dan ingin menginap di gubuk itu atau mau mencari lahan untuk di olah?" tanya yang satunya.


"Ia, kami adalah pengembara dan ingin numpang istirahat di gubuk itu," ujar Sulasna.

__ADS_1


"Kalau hanya numpang istirahat langsung saja istirahat. Toh Mbah Suro biasanya kalau sudah keluar begini, pulangnya bisa nanti sore kalau bahkan tidak pulang. Para petani di sini sering memanfaatkan gubuknya untuk istirahat. Mbah Suro juga tidak mengapa. Bahkan nampak gembira," ujar kedua petani.


Sulasna dan Pendekar Jubah biru, mengucapkan terima kasih atas keterangan dari kedua petani yang nampak akan segera pergi.


Sulasna dan Ibunya, yakni Pendekar Jubah Biru atau Nyai Selayar kemudian menuju pada Gubuk Mbah Suro. Keduanya yakin bahwa Mbah Suro yang dikatakan aneh oleh petani tadi adalah Ki Suro Tani, yang merupakan salah satu dari penjaga ilmu Warok.


"Kita menunggu di luar gubuk saja, "ujar Pendekar Jubah Biru.


"Iya, Mbok," Jawab Sulasna.


Keduanya menunggu di luar gubuk yang ada di ladang tersebut. Meski sebenarnya pada gubuk yang di buat dengan lantai dari bambu dan tiang juga dari bambu dengan ukuran agak besar itu, tidak tersekat dengan ruangan, namun mereka tidak berani masuk pada gubuk tersebut.


Sebab dalam tataran ilmu yang mereka miliki hal itu termasuk bentuk kurang ajar pada orang tua.


****


Matahari perlahan menuju pada peraduan di ujung kulon. Angin senja mulai menerpa pada tubuh Pendekar Jubah Biru dan Sulasna. Tubuh keduanya terasa agak dingin. Sementara dari ujung ladang seorang laki laki tua yang bertubuh kurus dengan rambut sudah memutih berjalan menuju ke arah gubuk itu berada. Pendekar Jubah Biru dan Sulasna bertambah yakin bahwa gubuk itu benar milik dari Ki Suro Tani.


"Hehehe, sudah lama kalian?" tanya lelaki itu, sambil menyilakan keduanya untuk masuk pada gubuknya.


"Agak lama, Ki," ujar Sulasna, setelah menata duduknya pada lantai yang terbuat dari bambu yang di pecah selebar tiga jari.


"Hehehe, hehehe, hehe, Saya bukan kok sombong. Tapi saya belum mengenal. Nama saya Mbah Suro, saya petani ladang ini. Siapa kalian ini dan mau kemana datang keladangku ini?" ujar lelaki tua yang tak lain adalah Mbah Suro.


Sulasna memandang Simboknya dan memberi kode agar Simboknya memberi jawaban pada pertanyaan dari Mbah Suro.


"Maaf, Ki. Perkenalkan nama Saya Nyai Selayar dan Ini anak saya Sulasna. Kami adalah pengembara dari Alas Toya Marta. Maksud kami juga mau menemui Ki Suro," terang Pendekar Jubah Biru.

__ADS_1


Mbah Suro menatap tajam pada kedua tamunya tersebut. Pandangannya kemudian diarahkan pada Sulasna. Entah apa yang di pandangnya, ia tak henti menatap Sulasna seperti ada yang dibaca.


"Kamu bisa mengetahui kalau tempatku di sini. Apakah Pandan Sari memberi tahu?" ujar Mbah Suro.


"Kami hanya di suruh menyusuri sungai itu, dan nanti bila bertemu dengan orang yang memiliki ciri ciri seperti Aki, ya itulah yang kami cari. Namun saat kami melihat ladang dan gubuk tanpa tanaman selain kayu, kami mencurigai tempat ini," terang Nyai Selayar.


"Hehehe, ya sudah, kalau begitu," jawab Ki Suro dengan tawa yang terkekeh kekeh.


"Memang kalian peka kalau di suruh mencari, hahaha... hahaha," tawa Ki Suro terbahak bahak, di sambut oleh senyum dari keduanya.


Ki Suro atau Mbah Suro adalah seorang petani yang menjaga ilmu Warok pada tahap keempat. Karena dirinya berprofesi petani dan tidak pernah terlihat pada rimba persilatan, maka ia di sebut Ki Suro Tani atau Mbah Suro Tani.


Dalam kehidupan sehari hari, juga tak pernah menampakkan diri bahwa dirinya memiliki ilmu Kanuragan dan ilmu kasantikan. Hanya orang orang Pedukuhan menganggap Mbah Suro adalah seorang yang aneh.


Betapa tidak aneh, Meski ladang Mbah Suro bisa di bilang luas, tapi tanaman yang di tanam mayoritas adalah tanaman tahunan. Memang ada tanaman pangan, namun tidak seberapa. Dan itu pun bila musim Panen, hasil panennya banyak yang diberikan pada warga Padukuhan.


Saat panen ketela pohon umpama, kalau tidak yang masih mentah, ia menanak atau merebusnya dan bila sudah matang, ia membawa hasil ladangnya itu di berikan pada orang orang yang bekerja di ladang atau kebetulan lewat di samping gubuknya.


"Besok kalian membantu saya, ya?" ucap Mbah Suro pada keduanya.


"Membantu apa, Ki?" tanya Sulasna dan Pendekar Jubah Biru hampir bersamaan.


"Lihat saja ladangku ini, ladang itu baru saja selesai aku mencangkul nya. Dan ini harus ditanami tanaman yang tepat bagi tanah ini," ujar Mbah Suro.


Ia kemudian menatap pada Sulasna.


"Enaknya di tanami apa, Le?" tanya Mbah Suro.

__ADS_1


"Maaf, Eyang. Saya kurang mampu pada dunia pertanian. Sehingga saya tidak paham tanaman apa yang cocok untuk lahan dengan tanah yang demikian. Namun saya hanya sendiko pada perintah Eyang," ujar Sulasna.


Perbincangan mereka bertiga ngalor ngidul dengan berbagai cerita dan Senda gurau. Setelah lebih tengah malam baru ketiganya tertidur di gubuk tersebut.


__ADS_2