Kidung Bumi Wengker

Kidung Bumi Wengker
Ilmu Warok dan Kasantikan


__ADS_3

Matahari telah lebih dari setengah bergerak di langit yang biru. Udara panas yang ditimbulkan terhalang oleh lebat pepohonan di dalam alas Toya Marta. Di bawah rindang pepohonan tersebut, ada tiga orang yang duduk usai mengolah daya dan energi alam. Mereka adalah, Nyai Pandan Sari, Nyai Selayar dan Sulasna.


Nyai Pandan Sari dengan kekeh kasnya, berbicara kepada Sulasna dan Nyai Selayar. Nyai Pandan Sari menganggap pengolahan energi Sulasna telah cukup di Toya Marta.


"Sulasna, kini aku rasa kau telah lama belajar di Toya Marta. Maka kau harus tahu hakekat dari semua tiga rahasia yang kau pelajari dari Ki Pasinggahan, Ki Penjalin dan dari sini," ujar Nyai Pandan Sari.


"Sendiko Dhawuh, Nenek Guru," kata Sulasna.


"Jurus yang kau pelajari awal, jelas adalah Jurus Sewu Banyu Segara, yang berdampingan dengan kanuragan lain. Jurus tersebut dasarnya adalah, tidak boleh marah dan tidak boleh berniat untuk merobohkan lawan. Jurus tersebut bersifat air yang lembut dan penuh kejernihan. Tapi pada tahapan terdesak, jurus itu akan memberikan fungsi tersendiri. Karena ada daya bela diri pada pukulan Ajian Banyu Segara," terang Nyai Pandan Sari.


"Demikian Nenek Guru, Sulasna pernah di pesan hal yang sama oleh Kakek Guru Pasinggahan," kata Sulasna.


"Jadi dalam penguasaan ilmu ini adalah mengalah dengan menghindar, karena itu jangan emosi namun biarkan lawan marah. Selain itu ingat, tak ada air yang bisa di tebas oleh benda tajam apapun. Air adalah pasrah pada jalan yang telah di tentukan dan kita tetap melewatinya," terang Nyai Pandan Sari sambil tertawa.


"Sabar dan pasrah yang akan mampu meningkatkan daya kekuatan jurus ini," lanjut Nyai Pandan Sari.


"Saya hanya sendiko, Nenek Guru," ujar Sulasna


"Sedangkan Jurus yang kedua adalah Siluman Penjalin dan Ajian pukulan Topan Samudra. Siluman tapi manusia dan bukan manusia siluman. Ini sebenarnya adalah hakekat, kita tak ingin terjadi perkelahian. Maka kadang kita harus menghilang biar tidak ada pertarungan. Namun kita juga harus nampak bila lawan tetap mau menyerang," terang Nyai Pandan Sari.


"Siap, Nenek Guru saya mengerti," ujar Sulasna.


"Sedangkan dalam pengolahan energi hakekatnya adalah seluruh kekuatan kita, sekedar anugrah dari Tuhan. Karena jagad kecil yakni diri kita dan jagad besar atau alam semesta harus seimbang adanya. Sebab bila kita tidak bisa menyeimbangkan, alam semesta akan rusak. Kebijaksanaan dan Kasih Sayang akan membangun keampuhan dalam kita mengolah energi ini," lanjut Nyai Pandan Sari.


"Lantas apa yang harus di kerjakan Sulasna, Nyai Guru?" tanya Nyai Selayar.

__ADS_1


Nyai Pandan Sari tertawa terkekeh-kekeh. Ia memandang langit dan angkasa yang mulai nampak sore.


"Selayar dan Cucuku Sulasna. Ilmu ini adalah ilmu Kanuragan warok. Warok adalah orang yang berani merendah tidak meninggi. Orang Yang berani mengalah tidak sombong. Berani mengutamakan jalan kebenaran, berani menundukkan kepala dari pada mendongakkan kepalanya. Warok adalah pertapa, ia seorang brahmana namun berani karena kebenaran bagai Satriya. Mengutamakan Paseduluran dari pada permusuhan," jelas Nyai Pandan Sari.


"Saya mengerti dan siap melaksanakan," kata Sulasna.


"Hehehehe, jangan senang dulu. Bukankah kau sudah tahu tugasmu selanjutnya. Sebab Penjaga ilmu Warok masih ada dua yang harus kau temui untuk membangun dirimu, Le," ujar Nyai Pandan Sari.


"Siapa yang selanjutnya, Nyai Guru?" tanya Nyai Selayar.


"Hehehe, namanya adalah Ki Suro Tani. Ia berada jauh di Selatan. Untuk mencapai tempatnya, kau ikuti aliran Sungai tepi timur. Nanti kau akan menemukan Ki Suro Tani," ujar Nyai Pandan Sari.


"Apakah Sulasna bisa mencapainya, Nyai Guru?" tanya Nyai Selayar seperti mengkhawatirkan anaknya.


"Saya bisa menemuinya, Simbok," jawab Sulasna.


"Sulasna mempunyai ciri cirinya. Dari gerakan hingga tingkah laku kesehariannya. Dan tanda yang mengerti adalah Suro Tani, sendiri," ujar Nyai Pandan Sari.


"Lantas kapan Sulasna harus menuju pada Ki Suro Tani?" tanya Nyai Selayar.


"Besok Pagi sebelum matahari terbit. Dan Kau harus mendampinginya," ujar Nyai Pandan Sari.


"Saya akan mengawal anak saya, Nyai Guru," ujar Nyai Selayar.


Nyai Pandan Sari, hingga sampai matahari hampir terbenam menyudahi nasehatnya tentang bagaiman fungsi ilmu kasantikan dan fungsinya dalam kehidupan.

__ADS_1


*****


Nyala merah nampak begitu cerah di langit Toya Marta. Sebuah bukit dengan lembah dan air terjun di sisi kulon Gunung Wilis. Nampak Sulasna dan Pendekar Jubah biru menelusuri jalan setapak menuju di tepi kali timur. Perjalanan menyusuri Kali Timur tak melelahkan. Sebab gemericik airnya menenangkan hati dan jiwa.


Mereka meloncati batu batu dan kadang ada pada tepian sungai kemudian bila pematang yang menjadi batas antara lahan pertanian dan sungai itu agak terputus mereka terus berloncatan di batu batu hingga menemukan pematang kembali.


Waktu terus bergulir, matahari hingga berada di tengah angkasa, Sulasna dan Pendekar Jubah Biru itu terus menyusuri sungai timur . Entah di mana mereka akan menemukan Penjaga Ilmu Warok ke empat. Loncatan demi loncatan pada batu kecil sudah tak bisa di hitungnya.


"Apakah tempat yang akan kita tuju masih jauh, Mbok?" tanya Sulasna.


"Aku juga belum tahu. Bahkan nama Suro Tani, aku juga baru tahu dari Nyai Pandan Sari," ujar Nyai Selayar.


Nyai Selayar yang sudah memakai pakaian Jubah Biru itu memotivasi pada Sulasna agar terus menyusuri sungai tersebut. Kalau di Toya Marta, sungai yang mereka susuri di sebut kali Wetan atau sungai timur karena letaknya ada di timur bukit agak kedalam dari alas Toya Marta, namun bila di lokasi tersebut entah apa namanya, barang kali sudah berbeda sebutan.


Sebab di daerah Lereng Gunung Wilis ini, cara penamaan bisa saja di sesuaikan pada daerahnya. Kali Wetan, karena tempatnya di timur dari lokasi lembah dan ada sebuah Pedukuhan. Ada suatu daerah yang menjadi batas alas, mereka menyebutnya Wates dan masih banyak lokasi lain.


Namun ada beberapa daerah yang disebut berdasarkan kebiasaan masyarakatnya, selain juga di ambil dari nama tumbuhan yang banyak di lokasi tersebut.


Seperti di sebut Juwet karena banyak pohon Juwetnya yang banyak dan besar. Di sebut dengan nama Cacil karena banyak tumbuh pohon Kesambi yang berbuah lebat. Dan beberapa Pedukuhan lain di sebut dengan begitu.


Waktu terus berjalan seiring dengan bergeraknya matahari. Hari dalam gugusan hari silih berganti. Pendekar Jubah Biru melihat sebuah ladang yang sangat aneh. Betapa tidak ladang yang membentang hanya di cangkul dan di tanami pepohonan.


"Apakah ladang ini tidak di tanami tanaman pangan?" batinya.


Ia mengajak Sulasna untuk melihat ladang itu. Sebab dalam mencari sesuatu yang mereka tidak mengerti tentunya hanya membaca tanda alam yang memang agak berbeda.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2