
Pertarungan antara siswa Padepokan Macan Gembong dengan kawanan Perampok berlangsung lama. Beberapa kawanan perampok ada yang terluka. Begitu juga siswa dari Padepokan Macan Gembong juga ada yang terluka. Pertarungan mereka memang bisa di bilang imbang.
Macan Gembong bersama Kepala Dukuh di temani oleh Empu Plongko Sari menyaksikan pertarungan mereka. Sambil berjaga bila siswa siswa mereka terkalahkan, dan mundur, Macan Gembong terpaksa akan turun meladeni kemauan Lowo Abang.
Pertarungan belum selesai, tiba tiba ada bayangan berkelebat menuju kearah Padepokan Macan Gembong. Kelebatan itu memang tidak akan mampu di lihat dengan mata, bagi mereka yang tak memiliki kekuatan yang tinggi. Namun bagi Macan Gembong yang telah tuwuk terhadap berbagai ilmu Kanuragan bisa menyaksikannya.
"Ki Ageng Plongko Sari, saya melihat ada bayangan yang di lapisi dengan aji halimun dan sepi angin, menuju Padepokan. Saya akan menyaksikan ke sana. Tolong, awasi kawanan perampok Lowo Abang yang bertarung dengan siswa padepokan. Bila kondisi berbahaya, Ki Plongko Sari bisa membantu atau mengerahkan siswa lain untuk membantu mereka," kata Macan Gembong setengah berbisik.
Ki Plongko Sari menganggukkan kepala.
"Wustttttt...."
Sekejap mata Macan Gembong telah menghilang dari hadapan Plongko Sari dan Kepala Dukuh.
Bayangan yang berkelebat di kejar oleh Macan Gembong membentur benteng ghaib yang telah melingkar pada Padepokan Macan Gembong. Rupanya dari jarak jauh Macan Gembong dan Plongko Sari menambah kekuatan.
"Bruk..... duzzzzzz..."
Bayangan berkelebat itu terjatuh agak jauh dari Padepokan Macan Gembong. Jatuhnya pun tidak jauh dari lokasi Macan Gembong berdiri.
"Rupanya kalian yang mengatur semua rencana ini," ujar Macan Gembong saat melihat yang terpental menabrak pagar ghaib yang di pasangnya.
"Haha... haha... Ki Macan Gembong. Hahaha.... haha," ujar Nyai Selasih.
Bayangan yang berkelebat ternyata adalah Nyai Selasih dan Nyai Sekar Wangi.
"Apa kabar Ki Macan Gembong," ujar Nyai Sekar Wangi.
"Ada apa kalian menuju tempat ini?" tanya Macan Gembong.
"Itu bukan urusan kamu, aku mau kesana atau mau kemari!!!" bentak Nyai Selasih.
__ADS_1
"Hahaha..... Jelas ini wilayah ku. Berarti ini kedatangan kalian adalah urusanku," ujar Macan Gembong tertawa.
Nyai Selasih dan Sekar Wangi saling berpandangan. Ada kemauan dari mereka untuk menyerang langsung pada Macan Gembong.
"Kalau kalian tidak berniat jahat, jelas kalian tidak membentur pagar ghaib yang terpasang, " ujar Macan Gembong sambil matanya selalu mengawasi pada kedua lawannya.
Tanpa di duga oleh Nyai Selasih, Sekar Wangi tiba tiba menyerang Macan Gembong. Macan Gembong yang telah seksama mengamati arah dan jalan pikiran dari lawannya, cukup meloncat kecil kesamping.
Sekar wangi rupanya juga cekatan di arahkan tendangannya kelokasi di samping tepat pada loncatan Macan Gembong. Yang menyebabkan Macan Gembong harus mundur beberapa langkah.
Macan Gembong tidak bisa menganggap remeh pada Sekar Wangi. Ia memasang kuda kuda, agar kuat tumpuannya. Lalu ia lemparkan tendangan dan pukulan ke arah Sekar Wangi. Dengan gerakan lincah Sekar Wangi bisa menghindari kombinasi serangan yang di bangun oleh Macan Gembong.
Meski begitu Sekar Wangi nampak terdesak karena kecepatan serangan dari Macan Gembong bertubi-tubi. Sekar Wangi kemudian mengeluarkan senjatanya. Senjata itu berbentuk Pedang dengan cahaya kemialauan berwarna hijau kuning.
"Pedang Petir," pikir Macan Gembong.
Macan Gembong melapisi dia kali tenaga pada seluruh tubuh dan semua serangan. Sebab ia tahu bagaimana dahsyatnya Pedang Halilintar.
Namun apa daya, memang Pedang Petir amat amouh. Hingga Macan Gembong terkena hawa panas dari Pedang Petir. Ia mengambil nafas beberapa saat. Ia gerakkan tangannya ke depan. Lalu kedua tangannya menempel pada bumi. Matanya memandang tajam pada Sekar Wangi yang telah memegang pedangnya kembali.
"Jurus Macan Buana," ujar Sekar Wangi.
"Hati-hati Sekar, dia mengeluarkan Jurus Macan Buana," ujar Nyai Selasih.
"Aunggggghmmmm", Macan Gembong mengaum persis suara harimau. Ia meloncat tendangannya, menyasar pada dada Sekar Wangi. Namun Sekar Wangi paham akan arah serangan dari Macan Gembong. Pedang Petir telah menyambut, dan ingin menebas leher Macan Gembong. Namun yang Pedang itu kalah cepat dengan terkaman Macan Buana. yang terlanjur mendobrak pertahanan Sekar Wangi. Sehingga ia sempoyongan dan Pedang Petir mengenai angin.
Macan Gembong mengalihkan serangannya dengan bertumpu pada tanah. Ia kembali menumpukan kaki dan tangannya di tanah.
Sementara Sekar Wangi yang telah sempoyongan bisa mengambil posisi kembali. Ia berdiri tegak. Pedangnya ia angkat keatas .
"Jurus Menjaring Awan. Jurus dan gerakannya semakin sempurna," batin Macan Gembong.
__ADS_1
Macan Gembong merubah posisi. Ia berdiri dengan kuda kuda depan. Tangan kanannya siap mencakar ke depan. Tangan kirinya membangun keseimbangan.
Ia kemudian menatap Sekar Wangi yang telah melangkahkan kakinya bergerak siksak dan membangun kecepatan. Seperti bayangan karena begitu cepatnya langkah siksak kanan kiri dari Sekar Wangi.
"Jurus Pedangnya begitu sempurna. Jurus Menjaring Awan," ujar Nyai Selasih yang sejak tadi memperhatikan pertarungan keduanya.
Posisi kuda kuda depan dari Macan Gembong kemudian kakinya di tarik kebelakang. Ia memutar badannya tiga kali, lantas secepat kilat ia menyakar Sekar Wangi, tapi cakaran itu gagal karena Sekar Wangi telah melangkah siksak. Ia bangun serangan dari atas.
Pertarungan di udara terjadi antar dua tokoh persilatan ini. Pedang Petir yang begitu ampuh sampai saat ini masih beradu dengan angin. Pun demikian cakaran maut dari Macan Gembong tak ada yang bisa merobek baju dari Sekar Wangi.
Tapi saat di udara berbeda kondisi. Karena Sekar Wangi tetap lincah dalam bergerak menyeimbangkan tubuhnya dengan grafitasi bumi.
Tapi saat Pedang terayun tangan kiri Macan Gembong lebih cepat bergerak menangkap tangan Sekar Wangi. Dan Pukulan dari tangan kanan Macan Gembong bergerak kilat tepat mengenai ulu hati Sekar Wangi.
Sekar wangi terjatuh di tanah. Lantas dengan cepat Nyai Selasih menubruknya dan menghantamkan sinar tongkat ke ara Macan Gembong. Dan itulah cahaya Sakti dari tongkat Nyai Selasih. Untung saja Macan Gembong bisa menghindar.
"Wustttttt...."
Belum selesai menata keseimbangan dirinya serangan tongkat kembali di arahkan pada Macan Gembong. Serangan tersebut membuat tokoh persilatan Mataram ini harus mundur ke belakang.
Macan Gembong tangannya telah menempel tanah, secepat kilat ia telah berubah menjadi seekor harimau besar.
"Aunggggghmmmm...." Harimau jelmaan Macan Gembong telah mengaum keras.
Nyai Selasih meloncat memasang kuda kuda dan tongkatnya ia tancapkan ketanah. Telapak tangannya ia hadapkan pada lawan.
Sinar kuning kemerahan keluar dari dua telapak tangan dari Nyai Selasih. Macan Gembong meloncat terbang di udara. Secepat kilat ia menerkam lawannya.
Sinar dari telapak tangan Pendekar Wanita tua itu hanya mengenai tempat kosong.
Kembali Macan Gembong yang telah menjadi Seekor Harimau mengaum keras dan meloncat menerkam pada Nyai Selasih. Kali ini Nyai Selasih harus menghindar ke kanan.
__ADS_1
bersambung.....