Kidung Bumi Wengker

Kidung Bumi Wengker
Harimau Putih Melawan Sekar Wangi


__ADS_3

Sebuah hutan yang lebat, dengan banyak tumbuhan pepohonan yang sudah tua. Karena lebatnya, meski siang matahari dengan sinarnya jarang bisa menembus lokasi hutan itu. Sehingga meski siang nampak di hutan tersebut seperti pagi saja.


Jarang ada manusia mau datang ke hutan tersebut. Meski hanya mencari rumput atau mencari kayu bakar. Hutan itu sangat terkenal dengan keangkerannya. Banyak cerita yang pada waktu lalu nekat masuk hutan dan tidak pulang. Selain itu, di hutan itu banyak mayat manusia yang tinggal tulangnya saja.


Entah di makan binatang buas atau karena tersesat, atau di jadikan santapan para siluman yang gemar dengan tanpa cahaya matahari. Kegawatan hutan dan ganasnya binatang buas, harimau, singa, srigala atau yang lain tak disangsikan lagi. Begitu juga dengan munculnya makhluk alam siluman di alas itu, ceritanya juga silih berganti. Masing masing kisah akan membangun narasi kebenaran akan gawatnya alas tersebut.


Namun bagi mereka yang memiliki ilmu tinggi, akan biasa saja melewati alas itu. Seperti yang sedang di lakukan oleh Sekar Wangi, Lowo Abang dan Ki Paneluh. Dengan ilmu ilmu yang dikuasainya telah banyak melukai para binatang buas bahkan membunuhnya. Mereka tidak peduli binatang itu dari jelmaan bangsa siluman atau binatang yang sebenarnya.


Kali ini Sekar Wangi dan pengikut setianya, juga harus menghadapi dua ekor binatang buas yang seolah menghadangnya.. Yakni dua ekor harimau besar, dengan bulunya yang putih kekuningan. Matanya melotot tajam, mulutnya memamerkan gigi dan taringnya yang runcing. Kedua macan itu seolah menantang Pendekar dari golongan hitam yang melewatinya.


"Minggir kalian!" bentak Ki Paneluh pada dua ekor binatang buas tersebut.


Mendengar bentakan dari Ki Paneluh binatang itu memandang sikap kurang senang. Seperti ingin menerkamnya.


"Rupanya kalian menantang. Kalian ini macan dari siluman atau macan binatang. Kami tidak takut pada kalian, hahahahaha.... " Ujar Lowo Abang dengan berani. Sambil ia tertawa dan mengangkat kedua tangannya ke atas.


Seperti semula harimau buas itu tidak mempedulikan bentakan Pendekar golongan hitam. Mereka justru menampakkan keangkeran dan keberaniannya. Mereka bersiap untuk menerkam para pendekar.


Tak sabar Lowo Abang mengambil dahan ranting yang ada di sampingnya. Dahan sebesar paha manusia dewasa itu di lemparkan pada dua binatang tersebut. Keduanya seperti di komando meloncat tinggi dan menyergap pada pelemparnya.


Namun Lowo Abang dengan cepat mampu menghindari, terkaman dua binatang ganas di alas itu. Sambil kakinya mampu menyarangkan tendangan pada salah satu macan tersebut. Tapi bagaimanapun Lowo Abang agak kewalahan. Sebab tendangannya belum sempat ditarik yang satu sudah menerkam dari samping kanan. Lowo Abang pun melempar dirinya ke belakang. Tapi apa hendak di kata, saat ia melempar diri ke belakang, harimau lain telah siap menerkamnya.


Untung saja Ki Paneluh bisa mengetahui, yang kemudian memukul kepala harimau berbulu putih itu dengan sebatang dahan, yang membuat Harimau harus terlempar agak jauh.

__ADS_1


Setelah Lowo Abang bangkit dan bisa menata diri, ki Paneluh juga telah bersiap. Kini pertarungan mereka satu harimau menghadapi satu manusia. Seekor harimau tanpa menunggu waktu ia meloncat tinggi menyergap pada Ki Paneluh. Namun rupanya Ki Paneluh telah bersiap ia melakukan loncatan indah dengan kaki kanannya di arahkan pada lambung harimau.


"Egh..... bruk," kembali harimau terlempar. Ia kemudian mengaum panjang.


"Augmmmmmm", seperti Guntur suara auman harimau itu memenuhi seluruh hutan lebat yang ada di situ.


Ki Paneluh seperti tak ingin memberi kesempatan pada harimau putih lawannya. Dia meloncat tinggi dan ingin menendang kembali pada harimau tersebut. Sayang rupanya harimau telah mengerti apa yang di maui oleh Ki Paneluh. Dia telah memasang cakarnya yang tajam.


"Brak.... sresss,," cakar tajam kuku harimau itu menggores kaki Ki Paneluh hingga berdarah.


Ki Paneluh Mundur sejengkal. Harimau terus mengejarnya. Kini giginya yang runcing mengancam dada Ki Paneluh. Ki Paneluh bergulingan di tanah menghindari cakaran dan terkaman harimau berbulu putih lawannya.


Sementara, Ki Lowo Abang yang sejak tadi bertarung seimbang harus tetep kuat menahan serangan dari harimau lawannya.


Lowo Abang terhuyung dan secepat kilat telah mengambil sebatang dahan sebesar lengan. Ia gunakan untuk pusaka menghadapi harimau putih. Tapi harimau itu nampaknya sangat gesit dan terlatih. Dia bisa menghindari pukulan pukulan dari Lowo Abang.


Harimau yang terkenal akan keganasannya, itu meloncat tinggi. Dia arahkan cakaran pada dada Lowo Abang. Lowo Abang menjemput serangan harimau tersebut dengan tendangan kaki kanannya. Namun rupanya harimau itu memakai gerak tipuan yang diluar kesadaran Lowo Abang.


Betapa tidak, saat telah dekat dengan posisi kaki Lowo Abang, harimau itu mencari batu tumpuan yang tak jauh dari Lowo Abang. Ia kemudian meloncat menyerang dari samping. Lowo Abang harus cepat membanting tubuhnya. Tapi malang bagi Lowo Abang, saat ia membanting diri tanpa di sadari di sampingnya adalah jurang, sehingga ia harus terjatuh pada jurang yang tinggi.


Melihat Lowo Abang terjatuh ke Jurang, Nyai Sekar Wangi segera melempar selendang saktinya. Dan syukur Lowo Abang bisa tertangkap oleh selendang sakti yang di tarik dengan cepat oleh Sekar Wangi.


Ki Paneluh dengan menahan luka harus mengakui keganasan dan lincahnya serangan harimau itu. Ia mundur mendekati Nyai Sekar Wangi.

__ADS_1


Tanpa membuang waktu melihat kedua anak buahnya sama terluka dan kalah dengan harimau putih, Sekar Wangi melempar selendang saktinya untuk menyerang dua ekor harimau itu. Tapi harimau yang di serangnya bukan harimau biasa. Terbukti serangan serangan selendang saktinya bisa ditangkis dan di hindari oleh dua binatang.


"Jahanam!!" Ujar Sekar Wangi.


Kemudian dua tangannya memegang selendang yang kemudian dipakai untuk menyerang dua ekor harimau tersebut.


Namun harimau dengan kecepatannya yang luar biasa bisa menghindari pukulan selendang sakti Sekar Wangi.


Tapi saat Selendang itu menjulur panjang, satu harimau bisa tersangkut pada selendang .


"Aumm, Auuuuuuughm," harimau yang bisa menghindar mengaum panjang.


Sedangkan harimau yang tersangkut pada selendang, dengan sekuat tenaga bergerak, cakarnya merobek selendang sakti Sekar Wangi. Dan saat lepas dari selendang, ternyata harimau itu telah merubah diri menjadi Satriya tampan yang gagah dengan baju serba putih dan rambutnya juga putih panjang sebahu.


"Rupanya kau harimau siluman!" bentak Sekar Wangi.


Tanpa disangka, puluhan harimau putih datang dengan cepat melingkar seolah membentuk pagar agar ketiganya tak bisa keluar dari hutan lebat itu.


Ketiga Pendekar golongan hitam itu beradu punggung. Mereka menatap tajam pada kawanan harimau siluman yang bersiap mengeroyoknya.


Sementara harimau yang memagari ketiganya telah menunjukkan sikap berani dan geram. seolah tak akan melepaskan lawannya. Mulutnya menganga lebar dan jari jari kakinya telah siap merobek badan dari tiga pendekar hitam tersebut.


........

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2