Kidung Bumi Wengker

Kidung Bumi Wengker
Lowo Abang di Hadang Singa Liar


__ADS_3

Lowo Abang terus melatih dirinya dengan jurus jurus yang di berikan oleh Eyang Aji Jayeng Arum. Seperti pagi itu, Lowo Abang melatih jurus jurusnya.


"Jurus-jurus yang aku pelajari mirip dengan jurus-jurus yang dipakai oleh Pendekar Jubah Biru. Siapa sebenarnya, Aki Guru ini," pikir Lowo Abang saat ia beristirahat dari berlatih, di bawah sebuah pohon.


Tanpa bisa di lihat oleh Lowo Abang sebelumnya, Eyang Aji Jayeng Arum tiba tiba telah duduk di sampingnya. Dari belakang dirinya menepuk pundak Lowo Abang.


"Hahaha, hahaha, Lowo Abang, bukankah semua ilmu itu sama. Sama harus kita dapatkan dari berlatih. Berlatih memerlukan waktu, sebab waktu adalah perjalanan yang harus kita lalui," Ujar Eyang Aji Jayeng Arum.


Lowo Abang menganggukkan kepala. Ia tak menduga kalau gurunya telah ada di dekatnya dalam waktu yang singkat.


"Kalau ilmu yang kita peroleh dengan waktu yang panjang, setiap saat melatih dengan jerih payah, apakah kita tega kalau ilmu itu kita gunakan untuk kerja yang tidak bermanfaat. Merugikan orang lain bahkan merelakan orang lain celaka," tambah Eyang Aji Jayeng Arum.


Lowo Abang harus termenung mendengar kalimat Aki Gurunya. Ia merasa apa yang dikatakan gurunya itu benar.


"Lowo Abang, memang ada beberapa ilmu yang bisa mempengaruhi jiwa kita menggerogoti nurani kita. Ilmu itu biasanya datang dari beberapa siluman jahat. Dan siluman itu merasuk pada raganya, namun sebenarnya kalau hati kita penuh keyakinan, siluman dan bisikannya akan bisa terkalahkan. Sebab darah kita adalah kekuasaan kita," terang Eyang Aji Jayeng Arum.


Lowo Abang diam tak bisa berkata. Mang saat ia berlatih pada Aki Gurunya, banyak pengetahuan pengetahuan kebaikan yang ia peroleh. Sehingga nasehat nasehat yang diberikan pada Aki Gurunya yang tak lain adalah Eyang Aji Jayeng Arum itu membuatnya nyaman.


"Kalau kau berfikir, jurus jurus yang kamu pelajari, baik itu ajian maupun ilmu keyakinan sama dengan yang dipergunakan, oleh para musuhmu, aku menjawabnya, memang sama. Sebab ini adalah ilmu kebaikan yang lahir dengan laku tirakat," terang Eyang Aji Jayeng Arum.


Eyang Aji Jayeng Arum kemudian berdiri dihadapan Lowo Abang dan menatapnya tajam. Lowo Abang kemudian tertunduk tidak berani menatap wajah lelaki tua tersebut.


"Lowo Abang, kuharap kau mau menerima ilmu ini. Dan pergunakan ilmumu untuk kebaikan. Namun, kau belum boleh kembali.ketempatmu, sebelum Satriya Pinandita menyuruhmu untuk mendampinhinya," ujar Eyang Aji Jayeng Arum.


Kembali Lowo Abang hanya menunduk. Lalu ia berucap," bukan saya tidak mau menerima ilmu ilmu ini, Aki. Namun musuh musuhku apakah menerima kehadiranku bersamanya," ujar Lowo Abang, yang telah menyadari bahwa yang dia lakukan selama ini menimbulkan ketidak baikan.


Eyang Aji Jayeng Arum tertawa lebar. Telapak tangan kanannya ia tepukkan pada pundak kanan muridnya.

__ADS_1


"Lowo Abang, tidak ada Warok yang telah mendalami ilmu kasantikan , menolak orang berbuat baik. Bahkan bila kau menyadari kesalahanmu selama ini, dengan melakukan kebaikan bersamanya, kau adalah saudara. Punjer ilmu Warok adalah berguru pada laku kabecikan," ujar Eyang Aji Jayeng Arum.


Lowo Abang mengangguk gembira. Wajahnya bersinar penuh kecerahan mendengar penuturan dari Aki Gurunya.


"Kau harus tetap mengolah ilmu maupun jurus jurus yang kau pelajari saat ini. Beberapa hari lagi kau akan kedatangan saudaramu, Satriyo Pinandita," ujar Eyang Aji Jayeng Arum.


"Siapa dia, Aki Guru?" tanya Lowo Abang.


"Dia adalah seorang yang telah kau kenal. Diia merupakan Raja dari Segala Harimau!" terang Eyang Aji Jayeng Arum sambil tersenyum lebar.


Tanpa menunggu reaksi maupun perkataan yang keluar dari Lowo Abang, Eyang Aji Jayeng Arum, tiba tiba menyerang Lowo Abang.


Lowo Abang merasa terkejut mendapat serangan yang mendadak dari Eyang Aji Jayeng Arum. Pukulan dan tendangan berkali kali menyerang pada Lowo Abang. Tapi dengan cepat Lowo Abang mampu menghindari serangan serangan gurunya.


Lantas dengan kecepatan yang semakin meningkat, Lowo Abang mampu mengerahkan tendangan berkombinasi dengan pukulan. Namun Eyang Aji Jayeng Arum selalu bisa membaca arah gerakan Lowo Abang.


Lowo Abang dengan sigap mengambil nafas dengan cepat, sehingga hawa murni mampu terbangun untuk menghindari rasa sakit dari serangan lawan.


"Cukup, Lowo Abang. Saya kira sampai saat ini kemampuanmu pada jurus jurus telah baik. Namun kecepatan dalam menghindar dan menyerang harus kamu tingkatkan," terang Eyang Aji Jayeng Arum.


"Baik, Aku Guru. Saya akan terus berlatih dan tidak akan mengecewakan Aki Guru," ujar Lowo Abang.


Mendengar jawaban Lowo Abang, Eyang Aji Jayeng Arum tertawa lebar. Dia berharap Lowo Abang bisa turut serta menjaga dan mengembamgkan keberadaan ilmu Warok.


"Besok kita berlatih kembali, sekarang ayo kita memasak untuk makan nanti sore.


Eyang Aji Jayeng Arum kemudian bergerak menuju hutan di sebelah sungai. Di hutan tersebut banyak tumbuhan yang enak di makan. Bahkan bila ingin mendapatkan binatang yang enak di masak dan di makan di hutan tersebut juga banyak berkeliaran. Seperti Ayam hutan, kelinci dan kijang.

__ADS_1


"Kita cari daun daunan untuk kita makan secukupnya saja, Lowo Abang,' ujar Eyang Aji Jayeng Arum.


"Siap Sendiko, Aki Guru," ungkap Lowo Abang.


Lowo Abang kemudian mengambil beberapa lembar daun daunan yang berwarna hijau. Dirinya sudah hapal mana tumbuhan yang bisa untuk di makan dan mana tumbuhan yang tidak bisa untuk di makan.


Sebab Eyang Aji Jayeng Arum yang dipanggilnya dengan sebutan Aki Guru,


telah banyak mengajarinya cirei ciri tumbuhan obat, tumbuhan beracun dan tumbuhan untuk konsumsi.


"Lowo Abang, petiklah beberapa daun untuk menguatkan otot otot kita," perintah Eyang Aji Jayeng Arum, ketika Lowo Abang mau kembali membawa beberapa genggam daun untuk sayuran.


Lowo Abang mengikuti perintah gurunya tersebut. Kemudian ia berbalik membedol beberapa batang tumbuhan untuk penguat otot. Tumbuhan tersebut daunnya kasar dan bergerigi. Gurunya menyebut tumbuhan perdu itu dengan nama tumbuhan greges otot.


Setelah mengambil tumbuhan greges otot satu genggam Lowo Abang menemui gurunya di pinggir jalan setapak. Namun alangkah terkejut keduanya melihat lebih dari dua ekor singa mengarah pada keduanya.


Singa itu dengan wajah garang dan nampak tidak bersahabat itu menatap pada dua manusia yang sedang memonding beberapa daun dari hutan tersebut. Singa dengan lari agak kencang tiba tiba menyergap pada keduanya. Untung kedua orang itu bisa menghindar. Namun mau tidak mau mereka harus bersiap untuk menghadapi kawanan singa yang dengan wajah beringas menatapnya.


"Lowo Abang, berhati hatilah. Singa itu kelihatannya ganas dan kelaparan," ujar Eyang Aji Jayeng Arum.


Lowo Abang dengan kuda kuda yang dipasang telah siap menghadapi singa singa tersebut.


"Aungggggg ...." Singa itu mengapung dengan keras.


Lowo Abang yang telah bersiap tak heran dengan auman singa ini. Namun seperti kata gurunya, dirinya tetap harus berhati hati.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2