Kidung Bumi Wengker

Kidung Bumi Wengker
Pertemuan Rahasia Dua Tokoh Sepuh


__ADS_3

Setelah keduanya minum air dari gelas batu itu kemudian melanjutkan pembicaraan. Kadang mereka setengah berbisik dalam melakukan pembicaraan, seolah ada yang di rahasiakan agar hewan atau kehidupan lain di situ tak mendengar.


"Dalam kehidupan sehari hari satriya pinandita sudah menampakkan wataknya. Namun secara fisik total saya belum menyelidiki lebih jauh. Namun batin saya sudah berkata, bahwa Sulasna itulah Satriya Pinandita tersebut," ujar Mbah Suro


"Saya telah lama mengamati Putra dari Nyai Selayar, sejak kecil berada di rumah Ki Pasinggahan. Bahkan saya menyuruh Penjalin untuk menemuinya. Dan secara fisik dia pemilik tahi lalat pada bawah tengkuk di garis Cakra," ujar Kakek itua Jangkung.


"Nah, bila demikian benar, Raja Sima Semesta dan Satriya Pinandita ada pada diri Sulasna," ujar Mbah Suro.


"Tidak Salah, Ki. Sebab apa mungkin mampu seorang yang tidak baik dalam pekerti membawa Putut Jangkung, sebagai simbul Raja Sima Semesta," ujar Kakek tua jangkung.


"Terima kasih, atas pencerahan dari Panjenengan Kakang Aji Jayeng Arum. Dengan begitu saya sudah tidak ragu lagi bahwa anak Nyai Selayar yang bernama Sulasna adalah Satriya Pinandita," ujar Mbah Suro.


"Maka asuhlah beberapa waktu di sana. Kelak bila telah cukup dan sudah waktunya bawalah ke sini. Sehingga ilmu ilmu Warok sudah benar ada pada Sulasna," ujar Kaki Aji Jayeng Arum.


"Terima kasih, atas kepercayaan Kakang. Nanti bila telah tiba saatnya Sulasna akan saya hadapkan pada Kakang Aji Jayeng Arum," ujar Mbah Suro.


Aji Jayeng Arum adalah salah satu pertapa yang memiliki jiwa lembut dan welas asih. Ilmu yang dikuasainya adalah Kadigdayaan dan Kaluhuran dalam kehidupan. Dia menyepikan diri dari hiruk pikuk politik keduniawian.


Aji Jayeng Arum dahulu hingga kini memang tidak pernah bersentuhan dengan keberadaan pemerintahan kekuasaan Mataram. Bahkan saat pertarungan antara Diyah Wawa dan Diyah Tulodong, hingga kini dia tidak ikut campur.


Kembali beberapa saat kedua tokoh Sepuh itu menjalani perbincangan serius terkait berbagai macam ilmu.


"Lowo Abang telah saya bawa ke Padepokan. Dia lukanya teramat dalam," ujar Ki Aji Jayeng Arum.


"Lowo Abang?" tanya Mbah Suro.


"Iya. Dia butuh pengobatan. Siapa tahu setelah sembuh dia akan berbalik mengikuti jejak kita," terang Aji Jayeng Arum.


"Saya juga berharap yang demikian. Sebab bagaimanapun manusia bisa berubah dalam berfikir," harap Mbah Suro.


"Terlebih, sebenarnya dia mengikuti Sekar Wangi adalah sebuah kekecewaan. Sebab dia dulunya adalah siswa dari Tarub. Yang kemudian kecewa karena gurunya tidak menurunkan ilmu yang diinginkan padanya," terang Aji Jayeng Arum.


Mbah Suro hanya mengangguk pelan pertanda mengerti akan apa yang di terangkan saudara tuanya.

__ADS_1


"Selain itu tugas membantu sesama manusia adalah yang utama, Ki Suro," tambah Aji Jayeng Arum.


Setelah beberapa saat dalam ruang rahasia tersebut, keduanya keluar dari lorong goa. Sampai pada tepi sungai mereka berpisah untuk saling memenuhi kewajibannya masing masing.


Kedua tokoh Sepuh yang sejak dulu memang menjauh dari dunia politik pemerintahan, selalu menjaga rahasia siapa dirinya yang sebenarnya. Mereka tidak menampakkan bahwa sebenarnya mereka adalah penjaga ilmu Warok yang sejak dulu di emban oleh para Hajar atau para Resi dan Begawan.


*****


Sementara itu di lembah ke dua Gunung Ijo, Sekar Wangi yang telah pulih dari sakit dan juga Ki Paneluh, terus mengolah energinya. Sebab mereka berencana akan mencari keberadaan Penculik dari Lowo Abang.


"Bagaimana rencana kita untuk mencari Lowo Abang, Nyai?" tanya Ki Paneluh.


"Kita harus segera mencarinya. Sebab Lowo Abang adalah salah satu dari tiang penyangga keberadaan kita," ujar Sekar Wangi.


"Apakah Nyai sudah benar benar pulih kondisi tubuhmu?' tanya Ki Paneluh.


"Bagaimanapun kita akan bisa pulih dengan baik, sambil bergerak mencari keberadaan Lowo Abang," ujar Sekar Wangi.


"Baiklah, saya akan mengikuti Nyai Sekar Wangi," ujar Ki Paneluh.


"Wustttttt...," Sekar Wangi pergi dengan secepat kilat dari Lembah ke dua Gunung Ngijo.


"Westttt..." Ki Paneluh mengikuti jejak dari Sekar Wangi.


Dari Lembah Kedua Gunung Ngijo, mereka berjalan pada dugaannya. Yakni dugaan tentang perginya yang menculik Lowo Abang. Dari pandangan batin keduanya penculik Lowo Abang, berlari kearah selatan dari Gunung Ngijo.


Namun tepatnya di mana dan siapa penculiknya, mereka belum tahu pasti. Maka Sekar Wangi dan Ki Paneluh, kemudian menyusuri berbagai Lembah menuju arah selatan.


"Kita akan menuju kemana Nyai?" tanya Ki Paneluh.


Sebab Ki Paneluh merasakan telah jauh meninggalkan Gunung Ngijo.


"Saya juga tidak tahu, namun kemarin dalam pandangan batin, saya hanya melihat asap putih menuju ke selatan," ujar Sekar Wangi.

__ADS_1


"Benar. Tapi siapa penculiknya dan di bawa kemana kita harus tahu," tegas Ki Paneluh.


Sekar Wangi juga menggerutu, kenapa dia seolah olah bodoh tanpa berfikir. Padahal kalau keselatan, tentu harus tahu tujuan.


"Benar kamu, Ki Paneluh. Kenapa aku sebodoh ini?" ujar Sekar Wangi.


"Apakah kita tidak lebih baik menemui Nyai Selasih, melaporkan tentang hilangnya Lowo Abang?" tanya Ki Paneluh.


Sekar Wangi berpikir sejenak. Ia kemudian tersenyum dan tertawa terbahak bahak.


"Benar, kita harus pergi ke Nyai Selasih. Siapa tahu Nyai Selasih mampu melihat di mana keberadaan Lowo Abang melalui benda saktinya," ujar Sekar Wangi.


"Saya juga berfikir yang demikian. Terlebih kita tahu bagaimana kesaktian dari Penculik Lowo Abang," ujar Paneluh.


Sekar Wangi dan Ki Paneluh kemudian berputar arah menuju arah barat. Yakni menuju pada tempat kediaman Nyai Selasih. meski mereka tahu bahwa untuk menuju pada arah kediaman Nyai Selasih agak jauh karena harus melewati dua punggung bukit, tapi dia bertekat untuk menempuhnya dengan jalan biasa.


Dengan demikian ia akan mampu mengaktifkan kembali syaraf syaraf tubuhnya .


*****


Sementara itu di tempat lain, Sang Raja Sima Seta, sedang mengumpulkan para pasukan. Terlebih ketika mendengar kabar rencana Penyerangan terhadap Kampung Gajahan yang akan di jalankan oleh Sekar Wangi.


"Satriya Menggala, bagaimana para prajurit yang terluka dalam perang kemarin, mengahadap Nyai Sekar Wangi dan para pengikutnya?" tanya Raja Sima Seta.


"Ampun Raja Sima Seta. Pasukan kita hanya luka sedikit, namun semua sudah mendapat penanganan pengobatan oleh para tabib," jawab Satriya Menggala.


"Syukur kalau demikian adanya, Saudaraku Satriya Menggala. Sekarang saya berharap, bahwa besok kau bisa ke Alas Kesambi. Sampaikan pada Raja Sima Kesambi tentang rencana terselubung Nyai Sekar Wangi," perintah Raja Sima Seta.


"Saya bersedia untuk menuju Alas Kesambi. Memenuhi perintah dari Raja Sima Seta. Namun ijinkan saya memberi laporan pada Paduka Raja Sima Seta, pada perkembangan kelompok Nyai Sekar Wangi," kata Satriya Menggala.


"Apa yang terjadi, saudaraku Satriya Menggala?" tanya Raja Sima Seta.


"Ampun, Raja Sima Seta. Ada kabar bahwa Nyai Sekar Wangi dan Ki Paneluh telah meninggalkan markasnya di Lembah Ke dua Gunung Ngijo. Mereka mencari hilangnya Lowo Abang," laporan Satriya Menggala

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2