
Dari Pusaka untuk menerawang keberadaan Lowo Abang, yaitu Gentong Waseso, suara orang tua yang membawa Lowo Abang, terus menantang pada Nyai Selasih, Sekar Wangi dan Ki Paneluh.
Maka ketiga Pendekar dari golongan hitam tersebut telah memasang kuda kuda untuk melakukan penyerangan. Sedangkan orang yang berada di jauh tempat hanya terdengar suaranya, sedangkan yang nampak adalah senjata berwujud panah.
"Hahaha, Selasih tua yang tak kurang kebodohanmu. Kau apa mau menyerang Gentong Wasesa, hahaha," suara orang dari seberang, tapi bergema dalam gentong.
Ketiga Pendekar yang telah bersiap untuk melakukan penyerangan itu tiba tiba membatalkan niatnya.
"Aku melihatmu dari terawanganku. Kau mendengar suaraku dari tenaga dalam yang aku kirim pada kalian. Sedangkan pusaka gentongmu tidak bisa menembus ku, apakah seranganmu tidak merusak gentong Waseso itu? Aku masih tak mau menyerang kan panah itu padamu. Gentong itu bila aku mau, bisa aku rusak dengan panahku. Bahkan kalau sekedar teluh dari Paneluh yang kamu kirimkan padaku, pasti akan merusak kalian bertiga," ejek suara laki laki tua.
Paneluh hanya diam. Ia berfikir panjang. Dia juga ingat saat dirinya mencoba menerawang penculik Lowo Abang, yang nampak hanya kabut putih.
"Orang ini ilmunya begitu tinggi. Tapi suara nya saya belum pernah mendengar selain di sini," batin Ki Paneluh.
Nyai Selasih diam seribu bahasa, dia nampak berfikir dan mengingat suara tersebut.
"Suara siapa?" tanyanya pada hatinya sendiri.
"Selasih, sekarang sangat tidak mungkin kau mengenaliku. Sebab kau juga belum pernah bertemu dan bertarung denganku. Kalau kau ingin bertarung denganku lain hari saja. Namun ini kali kau wajib bersyukur, sebab busur dan panahku tidak merobek bajumu yang sudah Kumal itu, hahahaha," suara laki laki tua dan tertawanya menggema dalam lembah di tempat Selasih menyimpan Pusaka Gentong Waseso.
"Siapa dia, Nyai. Apakah dia juga kelompok ilmu putih yang menculik Lowo Abang?" tanya Sekar Wangi.
Nyai Selasih hanya menggelengkan kepala. Sebab seperti yang di sampaikan suara tadi, bahwa dirinya belum pernah bertemu apa lagi bertarung.
"Saya juga berfikir, siapa dia. Melihat gelagatnya dia adalah Pendekar golongan putih, kalau bukan pengikut Prabu Janaka," ujar Nyai Selasih.
"Apakah dia merupakan kelompok dari Kerajaan Siluman?" duga Ki Paneluh.
"Ki Paneluh, kita hanya bisa menduga siapa dia. Bagaimana kalau kita tunda dulu rencana pencarian Lowo Abang.
__ADS_1
"Kiranya lebih baik begitu, Sekar Wangi. Kini kita tata rencana yang lebih tepat dalam menyerang Mataram," ujar Nyai Selasih.
Kemudian ketiga Pendekar tersebut kembali menuju tempat kediaman Nyai Selasih.
*****
Sementara di tempat lain, Sulasna sedang memanen singkong di ladang Mbah Suro. Sedangkan Pendekar Jubah Biru, mengambil singkong singkong tersebut lalu di masukkan pada keranjang untuk di bawa ke lokasi gubuk.
Tidak lama Sulasna dalam mencabuti ketela pohon telah mendapat banyak. Sebagian ketela pohon hasil panen Mbah Suro akan di bawa ke pasar. Kebetulan besok adalah jadwal buka pasar. Pasar di daerah Mbah Suro tinggal dibuka tiap lima hari sekali.
Saat pasar buka, banyak masyarakat berdatangan untuk berjual beli atau sekedar pertukaran barang.
"Sulasna, besok kamu antar saya ke pasar. Sebagian ketela pohon ini kita tukarkan dengan garam, terasi dan bawang merah maupun bawang putih. Kita sudah lama hanya makan nasi saja.... hahahaha," ujar Mbah Suro.
"Iya, Eyang. Besok kita berangkat ke pasar," ujar Sulasna.
Sulasna yang sudah tanggap akan kemauan Mbah Suro, maka ia pilih ketela pohon yang besar dan baik diletakkan pada keranjang untuk di bawa ke pasar besok siang.
*****
Mbah Suro dan Sulasna menyusur jalur setapak yang ada di tengah ladang dan persawahan para petani. Keduanya pada fajar pagi berharap sudah sampai pasar untuk menjual hasil ketela pohonnya dan sebagian uangnya akan dibelanjakan untuk membeli bahan dan bumbu sayuran.
Memang perjalanan dari gubuk mereka menuju pasar agak jauh. Kalau tidak berangkat sepagi mungkin takutnya mereka tidak bisa belanja sayuran.
Dari jalan setapak, ada sebuah tikungan agak tajam. Dari situ mereka memilih jalur yang agak lebar. Dari jalur yang jalannya agak lebar mereka mulai memperlambat jalannya.
"Biasanya andong gerobak lewat jalur ini, Sulasna. Nanti kalau kita payah, kita bisa naik andong," ujar Mbah Suro.
"Baik, Eyang Sulasna hanya sendiko dawuh saja," ujar Sulasna dengan mengoper pukulan dari pundak kanan ke pundak kiri.
__ADS_1
Mbah Suro mengerti kalau Sulasna mulai agak lelah.
"Di depan ada sebuah tugu batu. Di situ ada sungai kecil. Kita istirahat. Sekarang kita tahan dulu rasa lelah," ujar Mbah Suro dengan tetap memanggil keranjang berisi ketela pohon.
Belum jauh mereka berjalan, dan rugu dari batu yang tinggi telah nampak. Sulasna mempercepat jalannya. demikian juga dengan Mbah Suro. Maka setelah sampai di tugu batu ia turunkan barang bawaan Mereka.
"Hahahaha.... hahahaha, kalian sudah pada datang. Mana yang lain. Berapa setoran kalian ?!" tanya seorang berpakaian hitam yang diikuti oleh empat orang di belakangnya.
Mbah Suro memberi kode pada Sulasna agar menaruh barangnya dan menuju pada Mbah Suro.
"Berapa biji yang tuan inginkan?" tanya Mbah Suro.
"Perampok dengan perawakan kekar tertawa, kalau aku ingin semua yang kau bawa menjadi milikku, wahai Kakek tua!!!" ujar pemimpin perampok.
"Jangan ambil semua, Tuan. Sebab cucuku ini juga minta upah dalam memukul ketela. Sedangkan cucuku yang lain ingin makan lauk sambal terasi," ujar Mbah Suro.
"He, Kakek Tua! Beraninya kamu menawar permintaan pimpinan kami! Apa kau sudah bosan hidup!" ujar perampok lain yang berdampingan denga orang yang di panggil pemimpin.
"Rupanya kau belum tahu siapa pimpinan kami. Di adalah Ki Barnas. Peguron ilmu tenung dan jengges. Apa kau ingin mati terbakar!" ujar perampok satunya.
Kelima perampok itu tertawa terbahak bahak. Lalu ia mengambil satu pukul ketela pohon. Kontan saja Mbah Suro melarang. Salah satu Perampok yang membentuk Mbah Suro, menendangnya.
Mbah Suro memegang dengan kuat kaki perampok tersebut. Sulasna berdiri di samping Mbah Suro yang duduk karena di tendang oleh Perampok tersebut Namun Sulasna juga tidak memberikan perlawanan, bila tidak diperintah Mbah Suro.
"Ampun tuan, ampun. Jangan ambil ketela kami," Kata Mbah Suro dengan tetap. memegang kaki kanan Perampok itu.
Sementara dua perampok mengambil ketela pohon dalam keranjang untuk di bawanya. Melihat hal itu, Mbah Suro mengambil kerikil.dengantangan kirinya. Sedang tangan kanannya masih memegang kaki perampok. Kerikil itu dilemparkan pada kawanan perampok yang membawa ketela pohon tepat di tengkuknya.
Lemparan kerikil yang di beri kekuatan tenaga dalam menitok pada tengkuk kawanan perampok menyebabkan dia diam mematung.
__ADS_1
"Ampun tuan," kata Mbah Suro dan tiba tiba kawanan perampok yang kakinya di pegang Mbah Suro, mengerang kesakitan kemudian tergeletak pingsan.