
Ayam hutan telah berkokok bersahutan. Sebagai tanda bahwa, fajar pagi telah tiba. Sulasna teringat akan tugas yang diberikan Mbah Suro padanya. Yakni dirinya di suruh untuk mencari rumput ilalang di hutan seberang sungai.
Maka Sulasna bangkit dari tidurnya dengan bergegas untuk mencari sabit di belakang gubuk. Setelah sabit itu ia temukan, ia meninggalkan gubuk tersebut guna mencari rumput ilalang ke hutan seberang sungai.
Tak berapa lama ia telah memasuki hutan di seberang sungai. Pada awalnya kebanyakan adalah hutan dengan kayu mahoni. Ia menjelajahi hutan mahoni tersebut. Rumput ilalang yang di carinya tak juga kunjung ia temukan.
"Masa tak ada rumput ilalang di sini?" ujar Sulasna.
Ia mengitari hutan mahoni, karena tak ada rumpun dari rumput ilalang maka Sulasna memutuskan untuk masuk lebih ke dalam. Jalan setapak yang dilewatinya nampak tumbuh beberapa jenis pohon. Ada Pohon Johar, Pohon beringin, pohon Widoro dan juga ada pohon pohon lain di wilayah hutan yang agak ke dalam.
"Ini hutan apa namanya? Nampak berbagai pohon pohon yang ada di lokasi ini," ujarnya.
Sulasna terus berjalan menyusuri tepi sungai kecil yang ada di hutan itu. Dengan demikian dia nanti keluar tidak tersesat
Belum lama Sulasna melangkahkan kakinya dia melihat ada rumpunan rumput ilalang.
"Itu rumput ilalang," batin Sulasna.
Dia kemudian mendekati tempat yang dikerumuni banyak rumput ilalang. Sabitnya kemudian ia tebaskan pada rumpunan rumput yang tingginya sudah lebih dari satu pinggang.
Dengan giat Sulasna terus membabat rumput tersebut. Setelah banyak ia tali dengan akar pohon yang ada di lokasi tersebut. Hampir siang ia telah mendapat empat ikat dari rumput ilalang.
Ia memotong dahan kayu yang dianggapnya lurus. Masing masing tepi dari dahan dia runcingkan. Dahan itu akan ia gunakan untuk memikul rumput ilalang.
Saat ia mau mengakat rumput ilalang, tiba tiba seekor harimau besar mengaum di depannya. Kontan Sulasna terkejut.
Sulasna mundur beberapa langkah. Melihat mangsanya mundur kebelakang, binatang buas itu mengira takut. Ia dengan garang menerkam tubuh Sulasna. Untung saja Sulasna bisa menghindar. yang membuat Harimau membentur ruang kosong.
Harimau membalikkan tubuhnya. Matanya menatap pada Sulasna. Ia kembali meloncat menerkam pada wajah Sulasna. Sulasna hanya membungkukkan badannya. Kembali harimau itu menangkap ruang kosong.
Harimau semakin penasaran. Ia mengamuk dengan garang. Sulasna terus menghindar. Ia tidak membalas menyerang. Akhirnya harimau itu mengaum panjang.
"Wahai harimau, jangan ganggu aku. pergilah!!! Aku akan mengampuni dosanya," ujar Sulasna.
__ADS_1
Harimau tak menggubris kata kata Sulasna. Ia kembali mengaum dengan suara panjang. Rupanya Auman itu adalah tanda ia memanggil kawannya. Sebab tak lama datang dua ekor harimau, yang menatap Sulasna sama tajamnya.
"Pergilah kalian, aku akan mengampuni semua kesalahanmu!" bentak Sulasna.
Ketiga harimau dengan bersamaan menyerang Sulasna. Dengan Sigap Sulasna meloncat pada batu tinggi di sampingnya.
Tanpa pikir Panjang tangan Sulasna berada di depan dada. Yang kanan menelungkup ke bawah dan yang kiri di bawah dengantelapak tangan terbuka.
Dari kedua tangan itu keluar asap, dan munculah Pusaka Putut Jangkung . Pusaka itu ia acungkan pada ketiga ekor harimau itu.
"Menyingkirlah, aku akan mengampuni kalian. Jangan ganggu aku," bentak Sulasna.
Melihat pusaka Putut Jangkung, ketiga harimau itu duduk tak bicara. Namun satu harimau mengaum panjang.
Tak lama datanglah beberapa harimau lain. Semua harimau itu duduk berbaris rapi. Satu harimau tiba tiba merubah diri menjadi Manusia
"Maafkan, Paduka Raja Sima Semesta, atas kelancangan anak anak hamba" sembahnya pada Sulasna.
"Tidak mengapa, saya sudah mengingatkan berkali kali agar tidak mengganggu. Tapi anak anak bangsamu tidak mau menghiraukan," terang Sulasna.
"Kali ini aku mengampuni kalian. Tapi besok jangan diulang kembali!" ujar Sulasna.
"Terima kasih banyak, Paduka Raja Sima Semesta," kata pemimpin bangsa harimau.
"Sekarang pergilah ketempat mu. Aku akan membawa rumput ilalang itu ke apadepokanku di seberang sungai," ujar Sulasna.
Tanpa di Komando kawanan harimau itu mengambil rumput ilalang dan di bawa terbang. Hal itu membuat Sulasna kebingungan. Sebab satu sisi ia takut di marahi Mbah Suro.
"Kenapa rumput itu di bawa pasukanmu?" tanya Sulasna.
"Mereka anak anak hamba merasa berdosa dan ingin mengabdi pada Raja Sima Semesta," ujar pemimpin bangsa tersebut.
Sulasna tak mau berpikir panjang. Dengan secepat kilat dirinya kemudian melesat menuju padepokan. Dia takut kalau hal ini membuat kesalah pahaman dari Mbah Suro. Melihat Sulasna dengan cepat mengeluarkan ajian Sepi Angin, pemimpin harimau itupun mengejar Sulasna.
__ADS_1
*****
Secepat kilat para pasukan harimau itu telah sampai pada lokasi Gubuk tempat Sulasna. Ia kemudian memasang atap gubuk tersebut. Sedangkan Mbah Suro yang menyaksikan hal itu, hanya tersenyum.
"Sulasna, menang hebat," pikir Mbah Suro.
Sedang Sulasna yang mengikutinya merasa terkejut, karena saat sampai di lokasi gubuk, semuanya telah rapi di kerjakan oleh pasukan bangsa harimau berbulu putih tersebut.
"Maafkan, bila anak anak hamba bekerja kurang baik, Raja Sima Semesta," ujar pemimpin harimau putih.
Sulasna hanya diam tak bicara. Sementara Mbah Suro mendekati Sulasna yang nampak bingung.
"Jangan bingung, serahkan semua pada kekuasaan Tuhan. Dan ikuti saja apa yang di maui," ujar Mbah Suro pada Sulasna, denga setengah berbisik
Sulasna hanya menganggukkan kepala pelan.Dalam hati iapun bersyukur kalau Mbah Suro tidak marah padanya.
"Paduka Sulasna, mohon maaf, hanya ini yang baru kami bisa. Dan hamba ada di sekitar sini. Bila Paduka Raja Sima Semesta menginginkan sesuatu, kami siap melayani," ujar pemimpin harimau.
"Maafkan, saya sejak tadi belum mengenalmu. Siapakah namamu?" tanya Sulasna.
"Paduka, semua harimau telah mengenal nama Paduka. Sebab keberadaan Paduka telah diumumkan oleh Raja raja bangsa kami. Dan semua raja raja bangsa harimau, memanggilku Sima Seta. Atau Ki Sima Seta," ujar pemimpin harimau tersebut.
"Terima kasih, banyak saudara Raja Sima Seta. Karena atas pertolongan kalian Gubuk Kami telah berdiri," ujar Sulasna.
"Raja Sima Semesta, kami mohon maaf. Semua bangsa kami adalah yang bertugas mengawal dan mendampingi Raja Sima Semesta. Maka, ijinkan kami untuk mengawal dan mendampingi Paduka Raja Sima Semesta," ujar Raja Sima Seta.
"Karena semua sudah selesai, saya persilahkan saudara Raja Sima Semesta untuk beristirahat. Dan bila perlu, kami akan memanggil saudaraku Raja Sima Seta," ujar Sulasna.
Raja Sima Seta yang dipanggil sebagai saudara, merasa dihormati oleh Sulasna. Kemudian dia berjalan beberapa langkah dan kemudian diikuti oleh pasukannya. Setelah berkumpul, Pasukan Harimau Putih itu menghilang dengan cepat, tinggal asap putih yang mengepul.
Mbah Suro menyaksikan kearifan dari Sulasna merasa kagum.
"Satriya Pinandita, benar benar ada pada sifatnya," batin Mbah Suro.
__ADS_1
Bersambung....