Kidung Bumi Wengker

Kidung Bumi Wengker
Menetralkan Tenaga Siluman Lowo Abang


__ADS_3

Eyang Aji Jayeng Arum pada pagi itu berdiri menatap ke langit dari depan gubuknya. Perjalanan para sepuh yang penuh dengan suka dan duka terus berkelebat dalam bayangannya. Terlebih saat letusan Gunung Merapi yang dahsyat membangun hiruk pikuk perjalanan manusia.


Perjalanan Kekuasaan sejak dulu selalu diwarnai berbagai perebutan tahta. Seperti Dyah Wawa, yang menjabat saat Merapi meletus.


"Hem, apakah kekuasaan memang nikmat, sehingga diperebutkan. Dyah Wawa waktu itu melakukan pemberontakan pada Rakai Layang atau Dyah Tulodong. Sehingga Tahta kekuasaan berpindah pada Dyah Wawa," ujarnya dalam hati.


Selang beberapa tahun kemudian, Dyah Wawa berkuasa, abu dari Gunung Merapi dengan letusannya yang kuat memindahkan tahta Kekuasaan. Kekuasaan Medang harus berpindah tangan pada Mpu Sindok. Mpu Sindok juga memindahkan Ibu Kota Kerajaan Medang di Timur Gunung Lawu.


"Dyah Wawa yang baru menjabat itu, diperkirakan gugur saat Merapi meletus. Sehingga Mapatih Rakai Hino Mpu Sindok memimpin Medang atau Bhumi Mataram," lanjut batin dari Aji Jayeng Arum.


Memang perjalanan dan peristiwa kehidupan yang selalu penuh ambisi akan menyeret manusia lupa akan diri dan tugasnya.


"Manusia akan bersifat lupa pada kodrat kemanusiaan bila nafsu ini di warnai dengan ambisi dan keserakahan," ujarnya dalam batin.


Bahkan saat Mapatih Rakai Hino masa Dyah Tulodong, yaitu Mpu Ketu Wijaya mengajaknya membangun Kerajaan Wengker dia tidak bisa menghadirinya. Bukannya Aji Jayeng Arum tidak menghargai undangan, namun dirinya lebih ingin menjalani kehidupan sebagai pertapa yang jauh dari intrik kekuasaan.


Sebab saat berdirinya Kerajaan Wengker, di masa Ketu Wijaya juga melibatkan para penguasa Shima di Wilayah Timur Gunung Lawu.


"Saya juga mendengar bahwa Mpu Ketu Wijaya pada saat itu mengajak Rama Durandara dan dari Kebhikuan Dewa Shaba. Sebab Kabhikuan itu berdiri di masa Dyah Tulodong bertahta," Lanjut batinnya.


Yang tidak enak dari Hajar Aji Jayeng Arum adalah adanya kekuasaan Medang yang dipimpin Rakai Hino Mpu Sindok. Sebab baginya kekuasaan Mpu Sindok tentu juga membangun compang camping ya Medang Bhumi Mataram di timur.


"Semua sudah berjalan. Biarkan Tuhan menentukan perjalanan. saya tetap tidak mencampuri urusan para Penguasa Medang dan Penguasa Wengker, hingga saat ini. Meski peristiwa Pralaya yang terjadi hingga jagad seperti tertumpah," batin Hajar Aji Jayeng Arum.


Lamunan Hajar Aji Jayeng Arum terhenti, saat dirinya teringat akan Lowo Abang yang ia suruh bertapa kungkum untuk menghilangkan energi siluman yang sering merasukinya. Dalam Ajarannya siluman selalu takut akan air dan Sinar matahari.


"Hari ini lebih dari tujuh hari Lowo Abang menjalani tapa kungkum. aku akan segera membangunkan Lowo Abang," ujar Hajar Aji Jayeng Arum yang selalu di panggil Eyang.


Memang Hajar ini memiliki tugas dan umur yang panjang. dia berada pada jaman di mana kekuasaan Medang berpindah di Timur hingga saat ini di masa Kerajaan Mataram di kuasai oleh Prabu Janaka dan Wengker di bawah kekuasaan Wijaya Warma.

__ADS_1


Maka tidak salah bahwa ia secara tak langsung di nobatkan sebagai penjaga ilmu sepuh atau kewarokan para Pendekar golongan putih.


Hajar Aji Jayeng Arum atau Eyang Aji Jayeng Arum memiliki berbagai Aji kesaktian dan Ajian Kasantikan. Maka dalam hitungan kejap mata ia sudah sampai pada Sendang Banyu Biru. Dieinya melihat Lowo Abang masih tetap berendam dengan tekun. Matanya masih terpejam dan nafasnya masih teratur, sebagai pertanda bahwa Lowo Abang masih hidup dan dalam kenyamanan.


"Lowo Abang memang sangat memegang teguh niatnya. Hem...." ujar Eyang Aji Jayeng Arum.


Lalu ia dengan tenaga dalam dari tepian Sendang Banyu Biru menepuk pundak Lowo Abang.


"Bangunlah, Lowo Abang. Keluarlah dari air itu," ucap Eyang Aji Jayeng Arum dengan perlahan.


Lowo Abang kemudian membuka matanya. Dia menyaksikan bahwa Eyang Aji Jayeng Arum sudah berada di depannya. Maka Lowo Abang secepatnya mendekati lokasi keberadaannya.


Setelah keduanya sudah sama berhadapan, maka Eyang Aji Jayeng Arum segera menyerahkan selembar kain untuk membungkus badan dari Lowo Abang.


"Pakailah untuk menutup badanmu dan lepaskan pakaian lamamu," ujar Eyang Aji Jayeng Arum..


Setelah berganti baju Lowo Abang kembali menemui pembimbingnya tersebut. Dan kini dia sudah bisa memanggil dengan sebutan guru.


"Kakek, perasaanku semakin nyaman setelah berendam di Sendang ini," ujar Lowo Abang.


Eyang Aji Jayeng Arum tersenyum lebar mendengar perkataan dari Lowo Abang.


"Itu berarti kau telah berhasil membangun energi air dan ketenangannya dalam dirimu," ucap Eyang Aji Jayeng Arum.


"Ijinkan saya mengerti siapa sebenarnya Eyang ini?" tanya Lowo Abang.


"Nanti kau juga akan tahu siapa aku. Namun tidak untuk saat ini, Lowo Abang," kata Eyang Jayeng Arum.


"Maaf, apakah saya boleh memanggil Kakek dengan sebutan Guru?" tanya Lowo Abang.

__ADS_1


"Silahkan, tapi kau harus menuruti perintahku, bersediakah kau wahai Lowo Abang, muridku," ujar Eyang Aji Jayeng Arum.


"Saya bersedia, Guru" ujar Lowo Abang penuh gembira karena telah di angkat menjadi murid oleh penolongnya.


"Lantas sekarang apa yang harus saya kerjakan, Guru?" tanya Lowo Abang.


"Sekarang kita pulang. Kalau waktu sudah tepat, kita lanjutkan kembali," kata Eyang Aji Jayeng Arum.


Kemudian keduanya menuju kembali pada gubuk yang ada di tengah seberang hutan. Lowo Abang nampak terkejut, sebab dalam perjalanan dirinya terasa ringan. Bahkan lrasa nyeri bekas luka luka dalam yang kadang masih ada pada tubuhnya kini tak lagi terasa.


Maka tidak berselang lama keduanya telah sampai pada gubuk. Eyang Aji Jayeng Arum mengajak Lowo Abang untuk mengambil ranting kering yang ada di sekitar gubuk. Kemudian ranting ranting ditata segitiga untuk membuat perapian nanti malam.


"Lowo Abang, saya melihat dari wajahmu sekarang sudah mulai bersinar cerah. Apa yang terjadi padamu?" tanya Eyang Aji Jayeng Arum.


"Ampun, Guru, kini saya merasa gembira karena telah Panjenengan terima menjadi murid. Selain itu saya juga merasa ringan tenaga saya mudah untuk digerakkan kembali," ujar Lowo Abang.


Eyang Aji Jayeng Arum tertawa gembira. Hatinya berharap semoga tenaga ghaib dari siluman yang bersarang pada Lowo Abang bisa hilang. Maka ia mencoba menata diri Lowo Abang dengan perlahan lahan.


Maka saat ini ia akan mengajak Lowo Abang untuk bergerak membangun dirinya.


"Besok kita akan naik ke atas Gunung. Di sana kita akan melihat sebuah pohon tua. Pohon itulah yang akan kita jalankan sebagai kekuatan alam yang ada," ujar Eyang Aji Jayeng Arum.


"Saya bersedia Guru dan akan menjalankan sesuai perintah," ujar Lowo Abang.


"Sekarang mari kita istirahat sejenak kemudian besok pagi kita bisa berangkat menuju gunung," ujar Eyang Aji Jayeng Arum.


*****


bersambung

__ADS_1


__ADS_2