
"Saudaraku, kita telah membantu manusia dalam menangkal kerusakan kehidupan dan tatanan masyarakat. Sekarang kalian boleh kembali," kata Raja Sima Seta .
Para harimau putih yang di pimpin Satriya Manggala kemudian meninggalkan tempat, menuju pada sarangnya masing masing.
Raja Sima Seta, kemudian menghampiri keberadaan Satriya Manggala. Seluasna hanya memandang dari jauh pertemuan mereka.
"Ki Paneluh rupanya masih ingin mencari bantuan pada Ki Buyut melalui Ki Banas. Kekalahan Ki Buyut dengan Prabu Janaka masih menyimpan sakit hati. Dan ini yang akan di pakai Ki Paneluh untuk mengajak Ki Buyut, menyerang Kampung Gajahan," terang Satriya Manggala
"Saya sudah menduga. Namun sekarang kita istirahat dulu, saudaraku. Saya yakin para bangsa siluman harimau cepat atau lambat akan menuju pada markas kita. Sebab kegaduhan kalian telah membuat angkasa menjadi gelap," ujar Raja Sima Seta.
"Terima kasih Raja Sima Seta. Saya akan siap memberi penjelasan terkait ini semua," ujar Raja Sima Seta.
"Westttt...."
Kemudian Satriya Menggala meninggalkan tempat tersebut.
Sepeninggalan Satriya Menggala, Raja Sima Seta menemui Sulasna untuk melaporkan kejadian yang sebenarnya terkait pertempuran mereka
"Memang mereka selalu membikin onar. Sepertinya mereka tidak suka pada kenyamanan. Salah satu dari mereka pasukannya pernah bertempur dengan saya," ujar Sulasna.
"Ampun Raja Sima Semesta, mereka adalah komplotan golongan hitam. Sebenarnya awal dari gerakan mereka hanya untuk mempertahankan hidup. Namun semua itu di manfaatkan oleh Nyai Sekar Wangi untuk merebut istana Mataram," terang Raja Sima Seta
"Merebut Istana Mataram?" tanya Sulasna heran.
"Demikian keinginan Sekar Wangi yang sebenarnya. Namun semua akan di awali dengan menundukkan pendekar hitam dan membangun sekutunya. Tujuan utamanya adalah, Prabu Janaka keluar istana. Kalau sudah keluar istana, mereka menganggap istana akan lemah. Lalu sebagian akan mengadakan penyerangan pada kerajaan Mataram," terang Raja Sima Seta.
"Licik sekali," hanya itu yang keluar dari bibir Sulasna.
"Memang demikian yang mereka lakukan. Mereka terus berbuat dengan cara licik. Kemenangan yang di dapat mereka adalah kemenangan dengan cara licik. Tapi sejauh ini, saya belum pernah melihat komplotan mereka bisa menang," ujar Raja Sima Seta.
"Terima kasih, Saudaraku telah memberi keterangan banyak terkait mereka. Sekarang saya akan pulang ke ladang Mbah Suro," ujar Sulasna.
__ADS_1
"Sendiko dhawuh," ujar Raja Sima Seta.
"Wush...."
Dengan cepat Sulasna meninggalkan tempat tersebut. Kemudian di susul Raja Sima Seta meninggalkan tempat pertarungan itu.
*****
Tak berapa lama Sulasna telah sampai pada lokasi Ladang Mbah Suro. Dia melihat Simbok dan Mbah Suro telah menantinya.
"Bagaimana Sulasna, apa yang terjadi?" tanya Mbah Suro.
Sulasna hanya tersenyum.
"Ternyata hanya pertempuran kecil. Siluman Harimau Putih melawan kelompok pengacau. Kelihatannya mereka mau mencari dukungan dari Ki Buyut," ujar Sulasna
"Sudah aku duga. Sekar Wangi cepat atau lambat akan mengacau mencari dukungan dari Ki Buyut. Mereka memanfaatkan dendam lama Ki Buyut," tebak Mbah Suro.
"Karena kelompok Sekar Wangi mengira, dengan kekuatan dan kemampuan bertarungnya bisa menguasai Mataram," terang Mbah Suro.
"Sebetulnya apa tujuan dari Sekar Wangi, Eyang?" tanya Jubah Biru.
"Menguasai Mataram," ujar Mbah Suro.
"Teramat tinggi mimpi Sekar Wangi," ujar Jubah Biru.
"Iya, padahal Prabu Janaka memiliki pasukan yang kuat. Mungkinkah pasukannya bisa mengalahkan Mataram? Padahal melawan beberapa kelompok putih, berkali kali mereka menderita kekalahan," lanjut Jubah Biru
"Yang perlu kita hati hati, Mbok. Mereka semua senang bermain licik untuk mendapatkan tujuan," terang Sulasna.
"Benar Sulasna, mereka selalu melancarkan serangan dengan cara licik. Orang yang licik biasanya lebih dekat dengan khianat. Maka pahami ini, siapa yang melakukan kelicikan, dia akan menjadi pengkhianat," terang Mbah Suro.
__ADS_1
Mereka kemudian kembali konsentrasi pada pekerjaannya masing masing. Sulasna mencangkul pada ladang sedangkan Jubah Biru mencari bahan makan untuk mereka. Sedang Mbah Suro memotongi kayu ketela pohon untuk di tanam kembali dengan cara setek.
*****
Sementara ketiga Pendekar hitam yang terkalahkan melawan para siluman harimau, telah sampai pada Lembah ke dua Gunung Ngijo. Mereka tiba dengan luka luka organ dalam.
"Keparat!! Kekuatan mereka ternyata begitu dahsyat," ujar Lowo Abang.
"Kita gegabah. menganggap kekuatan mereka kecil. Ternyata meteka bisa mengumpulkan bantuan secepat itu," ujar Nyai Sekar Wangi
"Sekarang kita harus beristirahat untuk memulihkan tenaga kita. Sebab kalau kita terlalu lama, bisa saja Ki Buyut kena bujuk dari komplotan Prabu Janaka," ujar Ki Paneluh sembari manatabnafasnya.
Ketiga Pendekar tersebut sepakat denga ide Ki Paneluh. Lalu dengan cepat mereka mencari tempat untuk beristirahat dan bermeditasi.
Dengan meditasi merekanbisa menyalurkan hawa murni dari alam untuk menyembuhkan diri mereka dari kekalahan dalam pertarungan dengan harimau putih dari golongan bangsa siluman.
Pada sebuah batu besar, Sekar Wangi memilih tempat untuk bermeditasi. Ia duduk bersila dengan tubuh yang tegak. Kedua tangan berada di atas kaki dengan telapak tangan terbuka. Ia mengatur nafasnya perlahan dan diikut dengan mata yang terus terpejam.
Di lokasi yang berbeda, Lowo Abang menggunakan batu rata yang tak jauh dari pohon besar. Ia melakukan cara yang sama dalam sikap meditasi. Ia akan menarik hawa murni alam untuk menyembuhkan luka lukanya.
Hal ini sangat berbeda dengan sikap Ki Paneluh. Ki Paneluh kakinya bersimpuh kebelakang. Sedang kedua kakinya ia jadikan tempat tumpuan. Tubuhnya dalam keadaan tegak. Matanya memandang lurus kedepan.
Angin dari tumbuhan berupa pohon pohon yang ada pada Lembah ke dua di Gunung Ngijo mereka serap. Hawa yang timbul dari alam pegunungan akan menjadi hawa murni yang masuk pada tubuh. Hawa itu akan beredar pada tubuh dan membentuk kekuatan, menyegarkan semua organ tubuh yang kecapekan selain mengobati.
Hingga semburat jingga di ujung langit kulon sebagai pertanda hari telah menuju pada senja. Ketiga Pendekar golongan hitam tersebut terus mengolah nafas. Mereka tak ingin terlalu lama menahan sakit, mereka juga tak ingin Ki Buyut mengikuti jejak Mataram.
Dan itulah yang menjadi motivasi untuk terus mengobati diri meskipun senja telah tiba.
Sekar Wangi merasakan luka luka pada tubuhnya memang agak parah. Hal itu di tandai rasa nyeri yang luar biasa saat hawa murni alam masuk pada tubuhnya.Namun ia tak ingin menjerit dalam menahan rasa sakit, justru ia menarik dengan kuat dan cepat hawa murni dari alam.
"Aku harus kuat menahan rasa sakit ini. Aku harus bertahan," bisik hatinya.
__ADS_1
Ki Lowo Abang yang berjarak lebih dari tombak, dari tempat duduk Sekar Wangi, merasakan hal yang sama. Tapi luka luka dalam pada tubuhnya terlalu parah. Sehingga ia harus tergeletak di bawah batu tempat duduknya.