
Hari ini Karina dan Kirana berangkat menuju Jakarta. Mereka akan menginap di hotel. Kirana tau kakaknya sedang membuat rencana, entah rencana baik atau buruk, yang pasti semoga semua tetap baik-baik saja.
"Dek kita istirahat di hotel ini saja dulu ya.. lagian acaranya masih besok." Ucap Karina setelah sampai di sebuah hotel.
"Iya Kak, aku ikut kata Kakak" Jawab Kirana tersenyum.
Mereka pun segera menuju ke kamar setelah dapat kunci dari resepsionis.
"*Semoga Mama beneran datang, aku udah capek nyembunyiin Mama" batin Kirana.
Setelah sampai kamar mereka segera istirahat*.
Keesokan harinya, Karina dan Kirana sudah siap berangkat menuju rumah Adam. Rumah yang dulu pernah di tinggali Kirana. Karina sudah menyiapkan hatinya, dia harus terlihat kuat di depan semua orang. Dia harus terlihat biasa saja di depan Al. Mereka pun telah tiba.
Ternyata acara sudah dimulai dari 2 jam yang lalu, sekarang tinggal acara perjamuan makan.
tak.. tak.. tak..
Suara heels dua wanita cantik beradu dengan lantai, Semua orang melihat ke arah dua wanita tersebut
'Cantik' batin semua tamu yang memandang Karina dan Kirana.
Karina langsung menuju tempat keluarga Sanjaya berkumpul diikuti oleh Kirana, dia mengucapkan selamat kepada Adam dan Lidia.
"Selamat Tuan Adam dan istri, semoga kehamilannya lancar sampai melahirkan, dan semoga tidak ada gangguan dari pelakor" Ucap Karina tersenyum sinis, sedangkan Kirana hanya diam tidak berucap apa-apa, hanya bibirnya tersenyum sangat manis.
"Terimakasih Kak Karin dan Kirana atas kehadirannya." Jawab Adam tersenyum.
"Sama-sama" Jawab Karin, Kirana tetap diam.
Kirana sekilas melirik ke arah Al yang sedang menatap kakaknya penuh kerinduan, dia ingin menghampiri Al dan memeluknya tapi dia takut Karina marah.
"Diem aja, udah makin parah ya sakit jiwanya?" Cetus Lidia yang melihat Kirana tidak bicara apapun.
"Siapa sakit jiwa? Kamu?" Karin bicara menunjuk muka Lidia.
__ADS_1
"Heh kurang ajarrr!!! ya adikmulah yang sakit jiwa" Jawab Lidia nyolot.
"Jaga bicaramu! adikku tidak pernah sakit jiwa." Ucap Karina santai.
"Sudah-sudah jangan ribut. Silahkan dinikmati Kak hidangannya" Lerai Adam melihat perdebatan Karin dan Kirana.
Karina dan Kirana segera beranjak pergi dari tempat Keluarga Sanjaya. Namun baru beberapa langkah Kirana melangkah dia terjatuh karena tersandung kaki Lidia yang sengaja dijulurkan.
"Dek" Teriak Karina terkejut melihat adiknya tersungkur dilantai. Dia segera membantu adiknya bangun.
"Im Fine Kak" Kata Kirana lirih.
PLAKK
Suara tamparan dari Karina terdengar nyaring karena kondisi suasana hening setelah jatuhnya Kirana. Tampak tak jauh dari mereka sepasang paruh baya melihat kejadian itu. Mereka segera mendekat.
"Karin apa yang kamu lakukan?!" Sentak lelaki paruh baya yang baru mendekat itu, sedangkan wanita paruh baya itu segera mendekati Lidia mengelus pipinya yang memerah karena tamparan.
"Saya hanya membalas rasa sakit adik saya" Jawab Karina cuek.
"SAYA YANG MENJAGA ADIK SAYA DENGAN SELURUH HIDUP SAYA, SAYA BAHKAN TIDAK PERNAH MEMBUAT TUBUH ADIK SAYA LECET SEKALIPUN. LIHAT SEKARANG!! DIA SUDAH BERANI MEMBUAT LUTUT ADIK SAYA LEBAM. DIA PANTAS MENDAPATKAN ITU." Teriak Karin di depan lelaki itu.
Lelaki paruh baya tersebut adalah Aldo Sebatian, Papanya Karina dan Kirana.
"Jaga nada bicaramu!! saya masih Papamu!!" Sentak Aldo emosi.
Semua orang terkejut mendengar ucapan Aldo.
"Papaku sudah mati bersamaan dengan matinya Mama." Kata Karina dingin.
"Anda tau? hanya karena wanita licik itu Anda meninggalkan istri dan anak-anak Anda." Sambung Karina lagi.
"Jaga bicaramu!! dia sekarang Mamamu. Lidia saudaramu!" Ucap Aldo masih dengan nada tinggi.
"Mamaku cuma satu cuma Mama Andine Larasati." Sahut Karina ketus.
__ADS_1
"Anda Papa kami? kemana Anda saat kami benar-benar terpuruk karena kehilangan Mama.. Kemana Anda saat aku harus berjuang sendirian demi kesehatan Adikku? kenapa harus Anda? Anda Cinta pertama kami tapi Anda juga patah hati terhebat kami" Luruh sudah air mata Karina, dia menangis sejadi-jadinya. Semua orang ikut menangis melihat Karina.
"Anda tidak pernah tahu sakitnya aku, aku harus menjadi ayah sekaligus ibu untuk adikku, aku harus terlihat kuat demi adikku. Bahkan aku hampir saja menyusul Mama. Aku putus asa. Tapi ternyata Adikku tidak mengizinkanku pergi. Dia lebih terpuruk dariku. Orang-orang yang dicintainya perlahan mulai meninggalkannya. Dia sakit, dia merindukan Anda, dia butuh sosok Papa. Tapi Anda dengan jahatnya tidak mempedulikan kami" Kata Karina mengeluarkan isi hatinya.
Aldo terdiam mendengar semua yang keluar dari mulut anak sulungnya. Benarkah dia menjadi sosok ayah yang kejam? bukan, bukan seperti itu maksud dia. Dia hanya masih kecewa dengan Andine.
"Kak Karin" Lirih Kirana menghampiri Karina dan langsung memeluknya erat. Mereka berpelukan menangis pilu.
"Maafkan Papa Nak" Ucap Aldo menghampiri kedua anaknya.
"Jangan menyentuh! aku membencimu sangat membencimu!" Teriak Kirana histeris.
Aldo diam ditempatnya, dia diam membeku melihat penolakan little girl yang selalu dia manjakan.
"Little girl, maafkan Papa Nak, Papa sayang kalian" Ucap Aldo lirih.
"Papa jahat, Papa ninggalin aku. Papa udah gak sayang aku" Kata Kirana menusuk hati Aldo yang terdalam.
Tiba-tiba lampu padam, dari atas panggung kecil terlihat seorang wanita sedang memainkan piano dengan menyanyikan sebuah lagu "Bila Nanti"
Semua orang tertuju ke wanita tersebut, ditelinga Aldo, Karina dan Kirana suara itu sangat familiar.
"*Seperti tidak asing dengar suara ini" batin Aldo dan Karina.
"Akhirnya datang juga Ma," batin Kirana*.
Semua orang masih mendengarkan lagu sampai selesai. Wanita tersebut membuka suara lagi
"Saya pernah pergi meninggalkan anak-anak saya karena suatu hal, tetapi sekarang saya disini kembali untuk anak-anak saya. Tidak akan saya biarkan siapapun menyakiti anak-anak saya lagi." Ucap wanita tersebut
"I Miss You Karin, Kira" Lanjut Wanita itu yang tidak lain adalah Mama Andine. Bersamaan itu lampu kembali menyala. Mama Andine segera membalikkan tubuhnya ke arah seluruh tamu.
"MAMA!!!" Teriak Karin dan Kirana. Mereka segera berlari ke arah Mama Andine. Mereka langsung memeluk Mama Andine dengan erat.
Aldo tubuhnya terasa kaku sulit digerakkan, dia melongo melihat Andine. Seperti mimpi baginya, dia bisa melihat wanita yang sangat dia cintai berada di depannya. Dia mulai bergerak ke arah Andine dan anak-anaknya. Dia turut ikut memeluk istri dan anak-anaknya. Mereka memang masih suami istri karena mereka tidak oernah bercerai. Sedangkan dengan Rosa, Aldo hanya menikah sirih. Dia masih sangat mencintai Andine, demi mengikuti keinginan Rosa dia lebih meilih menikahinya secara sirih. Karena sampai kapanpun istrinya tetap Andine.
__ADS_1