
Sesampainya di kamar Alexa langsung mendaratkan bokongnya di atas kursi sofa.
"Uhh ngeselin." Gumam Alexa
Cklekk..., pintu kamar itu pun di buka oleh Dimas
Tap...tap...tap...
Bunyi sepatu milik Dimas pun terdengar di telinga Alexa, Alexa menoleh ke arah sumber suara tepat di saat ia menoleh pandangan mata Alexa serta Dimas secara langsung bertemu.
Ntah apa yang saat ini dirasakan Alexa tapi jantungnya bahkan bekerja lebih cepat. Bagaimana mungkin wajah Dimas bahkan begitu dekat dengan wajah milik Alexa, Alexa juga baru menyadari kapan Dimas menyusul dia ke dalam kamar.
Alexa mendorong tubuh Dimas agar jarak mereka berdua tidak terlalu dekat.
"Ada apa?" Tanya Alexa sinis.
"Aku mau kasih tau kamu kalau baju yang aku belikan buat kamu sudah aku tata rapi di dalam lemari." Ucap Dimas.
"Hmm.. ya makasih." Ucap Alexa.
"Alexa.." Panggil Dimas
"Apa."
"Kamu satu kamar sama aku." Ucap Dimas.
Mata Alexa melotot sempurna saat mendengar ucapan Dimas.
"Apa, aku tidak mau apartemen ini kan begitu luas pasti banyak kamar kan, kenapa juga kita harus satu kamar." Ucap Alexa.
"Kita sebentar lagi akan menikah lebih baik kamu dari sekarang sudah terbiasa tinggal satu rumah dan satu kamar sama aku." Ucap Dimas.
"Tapi aku tidak mau."
"Terserah, aku cuman mau kasih tau kamu itu aja kalau kamu menolak ada konsekuensinya loh." Ucap Dimas sambil menyeringai ke arah Alexa.
"Cihh.. dasar pria suka mengancam." Ucap Alexa kesal
"Cepat mandi aku tunggu kamu di balkon." Ucap Dimas.
"Hmm..." Gumam Alexa.
Dimas berjalan ke arah balkon, sedangkan Alexa berjalan ke arah kamar mandi.
Dimas menyalakan rokok yang berada di tangannya asap mengepul begitu saja, Dimas berdiri di sisi balkon sambil menatap lurus. Ia memperhatikan pepohonan yang begitu rimbun di sekitar apartemen miliknya itu, cahaya matahari menyongsong ke arah Dimas wajah tampan Dimas bahkan terlihat begitu indah karena terkena paparan sinar matahari.
__ADS_1
Tatapan mata tajam milik Dimas terus memperhatikan setiap gerak-gerik pepohonan besar yang berdiri kokoh di halaman belakang apartemennya itu. Hembusan demi hembusan asap rokok terus keluar melalui hidung dan mulut milik Dimas.
20 Menit berlalu kini Dimas sudah menghabiskan 3 puntung rokok miliknya itu, suara langkah kaki milik Alexa berjalan mendekat ke arah Dimas yang masih setia berdiri di sisi balkon.
Alexa terpana saat melihat Dimas yang menurutnya sangat tampan hidung mancung serta bulu mata lentik milik Dimas begitu indah karena terkena cahaya, tanpa sadar Alexa mengagumi wajah pria yang ada di hadapannya ini, tubuh Dimas bahkan begitu sempurna dengan tubuh kokoh atletis menambah kesan karisma pada diri Dimas.
Asik memandang, tanpa sadar Dimas sudah membalikan tubuhnya, Dimas terkekeh saat melihat Alexa yang diam di tempat sambil menatap ke arahnya.
"Begitu tampannya aku ya, sampai matamu tidak berkedip." Ucap Dimas
Alexa langsung tersadar dari lamunannya, ia memukul kepalanya karena merasa bodoh bisa-bisanya ia terpana dengan sosok pria yang begitu ia benci.
"Tingkat kepedean mu begitu tinggi ya, siapa juga yang memandangmu." Ucap Alexa.
Dimas hanya menikan sebelah alisnya sambil tersenyum miring ke arah Alexa.
"Apa kamu senyum-senyum." Ucap Alexa ketus.
"Kamu itu ngak pandai berbohong, bisa-bisanya anak kecil berbohong kepadaku." Ucap Dimas sambil terkekeh.
"Siapa yang anak kecil, aku sudah dewasa ya kamu saja yang terlalu tua." Ucap Alexa tak mau kalah.
"Yayay... aku yang tua." Ucap Dimas mengalah.
"Ada apa kamu menyuruhku kesini?" Tanya Alexa sambil berjalan mendekat dan berdiri di samping Dimas.
Alexa hanya mentap lurus untuk melihat pemandangan.
"Ya kamu tenang saja." Ucap Alexa
"Cincin pernikahan sudah aku siapkan, besok kamu tinggal ikut aku ke butik untuk memilih baju yang pas buat tubuhmu." Ucap Dimas
"Ya, tapi bagaimana dengan homeschooling ku?" Tanya Alexa.
"Kamu tenang saja aku sudah mencari guru yang pas buat kamu, setelah pernikahan kamu sudah bisa mulai homeschooling." Ucap Dimas.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaan ku, aku baru saja bekerja di sana tapi malah tidak pernah muncul apalagi memberikan surat resign pada bosku."
"Aku sudah urus semuannya." Ucap Dimas.
"Hmm baiklah, kalau begitu aku mau ke bawah." Ucap Alexa, lalu mulai melangkahkan kakinya.
"Siapa yang suruh kamu pergi?"
Alexa yang mendengar itu langsung berhenti di tempat. Ia kembali mengahadap ke arah Dimas.
__ADS_1
"Ada apa lagi?" Tanya Alexa yang tidak sabaran.
"Apa kamu tidak nyaman berada di dekatku?"
"Kamu bicara apa sih, ya pasti aku ngak nyaman lah." Ucap Alexa sambil terkekeh.
"Apa kamu ngak bisa buka hatimu buat aku?"
"Tidak, sudah ya aku mau ke bawah dulu." Ucap Alexa.
Saat hendak berjalan tangan Alexa di Cengkaram oleh Dimas.
"Aduh sakit, lepas." Ucap Alexa.
"Kenapa?" Tanya Dimas.
Alexa yang mendengar ucapan Dimas hanya mengerutkan keningnya ia benar-benar tidak mengerti apa yang dibicarakan Dimas saat ini.
"Kenapa, apanya? aku ngak ngerti kamu ngomong apa." Ucap Alexa
"Kenapa kamu ngak bisa buka hati kamu buat aku." Ucap Dimas.
Alexa hanya diam di tempat sambil menatap manik mata milik Dimas.
"Aku ngak tahu tapi aku ngak bisa, aku belum siap aja." Ucap Alexa.
"Kalau begitu aku akan tunggu kamu, saat kamu sudah membuka hati buat aku kamu bisa cari aku." Ucap Dimas
Alexa hanya diam tidak bergeming ia tidak tahu kenapa sekarang ia merasakan hal yang berbeda saat di dekat Dimas, hati Alexa juga terasa sakit saat melihat Dimas yang seperti ini.
"Aku.. aku." Ucap Alexa Gugup.
Cuup....
Dimas menempelkan bibirnya begitu saja ke bibir ranum milik Alexa, mata Alexa langsung terpejam saat merasakan ciuman mendadak dari Dimas.
Dimas mencium Alexa begitu lembut, ia menyalurkan rasa hatinya yang saat ini begitu sakit karena penolakan dari wanita yang ia cintai.
Alexa hanya diam tidak membalas ciuman dari Dimas itu.
Dimas melepaskan tautan bibirnya itu ia mengecup sekilas bibir milik Alexa lalu setelah itu ia mengusap bibir ranum milik Alexa.
Dimas memeluk erat tubuh Alexa, Alexa yang di perlakukan seperti itu hanya diam ia masih belum bisa mencerna apa yang terjadi pada dirinya sekarang.
Alexa merasakan kehangatan yang hingap pada hatinya, ia benar-benar tidak tahu kenapa ia merasakan rasa nyaman saat berada di dekapan milik Dimas.
__ADS_1
Alexa tidak menyangka pria yang ia benci, pria yang sering kali ia tolak bahkan sering ia caci tapi justru tetap saja mau menerima dirinya bahkan pria itu terus memperlakukan dia layaknya wanita baik.