
Keesokan Harinya
Alexa sudah siap dengan balutan baju yang menutupi bagian leher, ia menggunakan baju itu karena di bagian lehernya begitu banyak bekas yang di berikan oleh Dimas.
Dimas baru saja selesai mandi dengan handuk yang melilit di bagian pinggang dan rambut yang di sugar ke belakang menambah kesan tampan dan gagah pada di Dimas.
Alexa masih mendaratkan bokongnya tepat di depan meja rias, ia masih memoleskan sedikit bedak pada bagian wajah cantiknya itu.
"Sayang aku antar ke kampus ya." Ucap Dimas yang berdiri tepat di depan lemari pakaian.
Alexa menoleh sebentar lalu kembali menatap pantulan dirinya di cermin.
"Tidak usah aku bisa berangkat sendiri kok, lagian kampus sama jarak rumah ini nggak jauh-jauh amat." Jawab Alexa.
Dimas mencabikan bibirnya karena Alexa menolaknya lagi.
"Aku mau anterin kamu Lex." Ucap Dimas.
"Aduh Dim, kamu kenapa lagi sih." Ucap Alexa sambil menghela nafas.
Yah, begitulah Dimas jika sudah berdekatan dengan Alexa maka sikap dan tingkah lakunya langsung berubah seketika menjadi pria yang manja dan tak ingin jauh-jauh dari Alexa, berbeda sekali jika di kantor para karyawan sering kali merasa takut saat berdekatan dengan Dimas, sifat Dimas begitu berbeda saat di kantor menjadi pria yang dingin dan tak berperasaan.
Dimas berjalan mendekat ke arah Alexa, lalu memeluk bagian pinggang sang istri wajah mereka berdua terlihat begitu mirip, sehingga kebanyakan orang menganggap mereka seperti adik dan kakak.
Dimas tersenyum memandang pantulan wajah sang istri dan pantulan wajahnya sendiri di cermin besar itu.
"Ada apa?" Tanya Alexa membuka suara.
"Nggak ada, aku cuman lagi mengingat kembali kejadian dulu, saat kita pertama ketemu dan sampai hari ini, mungkin pria lain nggak persis ya kaya aku, perjuangan aku untuk dapetin kamu itu susah banget dari awal aku udah suka sama kamu tapi kamu adalah wanita yang paling cuek dan nggak sama sekali ngelirik ke aku, ehh.. tapi nggak taunya kita malah jodoh dan sampai hari ini sudah terbukti bahwa perjuangan ku selama ini nggak sia-sia." Bisik Dimas tepat di telinga Alexa.
Alexa mencerna semua ucapan Dimas, Alexa juga kembali mengingat kejadian dulu saat ia sama sekali tidak berniat untuk menyukai pria seperti Dimas apalagi umur mereka lumayan berjarak jauh.
Alexa menyentuh dagu Dimas lalu Alexa mengusap lembut bagian dagu Dimas dengan sayang.
"Kita kan nggak tahu Dim, kalau ternyata jodoh kita sesungguhnya itu ada tepat di samping kita, waktu itu aku nggak pernah negerasain perasaan cinta sama kamu tapi nggak taunya berjalannya waktu kita malah di persatuankan sama tuhan." Ucap Alexa.
Dimas tersenyum lalu mengecup puncak kepala sang istri.
"Kita memang sudah di takdirkan bersama sayang, jadi ini sudah saatnya untuk kita membentuk keluarga kecil dimana kebahagiaan kita nanti akan datang." Ucap Dimas.
__ADS_1
Alexa terdiam sejenak mendengar penuturan Dimas dan saat itu juga ia baru sadar jika ia sama sekali belum menyentuh pil yang di berikan oleh Fanesa.
"Astaga aku lupa kalau aku belum meminum pil itu bagaimana jika aku hamil, aku belum siap untuk mengandung karena aku ingin tetap melanjutkan sekolahku." Batin Alexa.
Dimas memperhatikan raut wajah Alexa yang tiba-tiba berubah dan tidak menjawab ucapannya sedikitpun.
"Sayang." Panggil Dimas sambil menyentuh pundak Alexa pelan.
Alexa tersadar dari lamunannya lalu tersenyum samar ke arah pantulan dirinya di cermin itu.
"Dim, sebaiknya kamu berpakaian aku nanti bisa telat." Ucap Alexa.
"Jadi aku boleh mengantarmu?" Tanya Dimas senang.
"Iya Dim boleh, ya udah sana gih pakai bajunya." Ucap Alexa.
"Oke aku pakai baju dulu tungguin aku ya." Ucap Dimas antusias.
Alexa terus menatap punggung Dimas yang sudah mulai menjauh.
"Sebaiknya aku minum pil ini sekarang saja." Gumam Alexa.
Alexa berjalan ke arah dapur hendak mencari air minum.
"Semoga Dimas masih pakai baju." Ucap Alexa.
Alexa mengambil air dingin di dalam kulkas lalu ia mengeluarkan beberapa pil dari botol plastik itu.
Saat Alexa meminum pil tersebut tiba-tiba Dimas sudah muncul di belakang Alexa hendak mengagetkan sang istri namun siapa sangka mata Dimas tertuju pada obat-obatan yang sedang di minum oleh Alexa.
"Alexa." Bentak Dimas.
Alexa langsung menjatuhkan pil-pil itu karena terkesiap dengan suara bariton Dimas.
"Dim.. Dimas." Ucap Alexa terbata-bata.
Dimas merebut botol obat itu lalu membaca tulisan yang tertera pada botol plastik itu.
"Oh jadi kamu berniat untuk meminum ini hanya karena tidak ingin mengandung anak ku?" Tanya Dimas.
__ADS_1
Alexa langsung gelagapan saat mendengar ucapan Dimas.
"Nggak Dim, kamu salah paham." Ucap Alexa.
"Salah paham apa? ini apa buktinya, kamu jangan bohong lagi Lex aku baru sadar jika kamu selama ini hanya berpura-pura menjadi istri yang baik di depanku namun di belakang kamu memang sama persis seperti wanita lain hanya ingin menjaga bagian tubuhmu agar tetap terlihat muda dan langsing, bilang saja dari awal jika kamu tidak ingin mengandung anakku maka aku tak susah-susah menghabiskan waktuku bersamamu." Ucap Dimas marah.
Alexa terkesiap dengan ucapan Dimas, ia tak menyangka jika Dimas menjadi marah seperti ini.
"Dim aku minta maaf bukan begitu maksud ku, aku ngak.." Belum selesai berbicara Dimas sudah lebih dulu mencegah pembicara Alexa.
"Udahlah, aku memang pria bodoh selama ini sudah di butakan oleh cinta." Ucap Dimas.
Dimas langsung melempar botol obat itu ke arah tembok sehingga pil yang berada di dalam botol itu terjatuh dan berceceran ke lantai.
Alexa menahan tangisnya, hatinya terasa sakit saat melihat Dimas yang sedang marah.
Dimas berbalik dan berjalan meninggalkan Alexa sendiri, Alexa jatuh terduduk memungguti pil-pil yang berceceran di lantai itu.
"Aku terlalu naif, kenapa aku nggak mikirin perasaan Dimas sebenarnya apa yang sudah aku lakukan." Ucap Alexa sambil meneteskan air mata.
Alexa bingung harus menjelaskan apa lagi kepada Dimas.
Dimas begitu marah besar ia berjalan menuju kamar lalu membanting pintu dengan cukup keras.
"Alexa kenapa kamu bersikap begini." Ucap Dimas lalu memukul tembok dengan begitu keras.
Bughh....
Darah bercucuran di punggung tangan Dimas, Dimas merasa marah saat mengetahui jika Alexa ternyata menolak untuk mengandung anak darinya.
Dimas terduduk di lantai sambil menarik rambutnya, ia begitu pusing hanya karena memikirkan hal ini.
Dimas menghapus sisa air matanya lalu bengkit dan berjalan ke arah lemari untuk mengemasi beberapa pakaian.
"Yah dengan begini Alexa bisa merenungkan kesalahannya itu, aku ingin tahu bagaimana cara Alexa merubah sikapnya itu." Gumam Dimas.
Dimas mengambil koper di dalam lemari lalu memasukan semua pakaiannya kedalam koper.
"Lebih baik aku kembali ke Paris untuk sementara waktu, aku tidak ingin berdebat dengan dia." Gumam Dimas.
__ADS_1