Kisah Cinta Alexa

Kisah Cinta Alexa
Merasa kehilangan.


__ADS_3

Alexa berjalan ke arah ranjang lalu mendaratkan bokongnya di sana.


"Apa dia kemabli ke Paris, mungkin dia sudah benar-benar kecewa namun kenapa dia meninggalkan aku seperti ini." Batin Alexa.


Alexa sampai lupa untuk mencharge hpnya, ia langsung bangkit dan berjalan ke arah lemari untuk mengambil charger untuk hpnya itu.


Beberapa menit kemudian Alexa sudah keluar dari dalam kamar dengan menggunakan baju tank top dan celana pendek jins berwarna hitam.


Alexa hari ini akan mengerjakan skripsi untuk ia kumpulkan besok, masalah hari ini Alexa lupakan sejenak karena bagi Alexa mungkin Dimas hanya marah sebentar.


Alexa berjalan sambil membawa laptop di tangannya, ia mendaratkan bokongnya tepat di sofa king yang terletak di ruang tamu.


Dengan kaca mata yang bertengger di hidung Alexa nampak cantik layaknya wanita dewasa.


Di tempat lain Dimas sudah sampai di bandara, dengan menenteng koper di tangannya ia membawa masuk koper tersebut ke dalam mobil dan melajukan mobilnya itu dengan kecepatan tinggi.


Dimas memijit sedikit pelipisnya merasa pening karena pikirannya sedari tadi terus tertuju pada Alexa.


"Kenapa sampai sekarang dia belum juga menelpon atau mengirim pesan kepadaku, apa dia benar-benar menginginkan aku pergi." Gumam Dimas.


Dimas memukul stir kemudinya, lalu tanpa sadar mobil milik Dimas hendak menabrak seorang wanita yang tengah di hadang dua pria.


Dimas mengumpat kesal, namun ia juga tidak mungkin pergi begitu saja melihat wanita yang sedang di lecehkan oleh para pria.


Dengan cepat Dimas keluar dari dalam mobil dan berjalan mendekat ke arah dua pria itu.


"Lepaskan wanita itu, kenapa kalian melecehkan wanita yang tidak berdaya." Ucap Dimas tegas.


Wanita yang menangis tadi langsung menoleh ke arah Dimas, namun saat itu juga Dimas terkejut karena wanita yang hendak ia tolong itu adalah Clarisa.


"Dimas... syukurlah kamu datang membantuku, tolong aku Dim mereka semua ingin melecehkan aku." Ucap Clarisa memohon sambil meneteskan air mata.


Dimas menahan marah, karena bisa-bisanya ia di pertemukan oleh wanita ini lagi, namun saat ini Clarisa butuh bantuan Dimas jadi bimbang antara menolong Clarisa atau malah meninggalkan Clarisa begitu saja.


Dimas menatap dua pria itu dengan tatapan yang sulit di artikan, sedangkan Calrisa hanya bisa memelas meminta pertolongan oleh Dimas.


"Dim, ku mohon tolong bantu aku." Ucap Calrisa memohon.

__ADS_1


Dua pria itu hanya tertawa mendengar suara Clarisa yang sudah memohon belas kasih namun pria yang ada di hadapannya malah diam saja.


"Hei wanita kau tidak akan di bantu oleh pria itu, kamu harus bersyukur karena kami mau membelimu, uang kami sia-sia hanya karena mu, lebih baik kau menurut dan layani kami." Ucap pria bertubuh tinggi.


Dimas hanya menatap kearah dua pria itu, namun ia sungguh berat jika menolong wanita yang pernah menyakiti hatinya itu.


"Dimas tolong aku, aku mohon." Ucap Clarisa sekali lagi.


Dimas mengeram frustasi, sambil menutup mata lalu dengan cepat Dimas menarik tangan Calrisa dan menyembunyikan Clarisa tepat di belakang tubuhnya.


"Hai, jangan asal narik ya dia itu sudah kami beli." Ucap pria bertubuh gempal.


Dimas hanya tersenyum meremehkan kedua orang pria itu.


"Lalu kenapa? dia adalah temanku jadi aku berhak membantunya." Ucap Dimas tegas.


"Jangan sombong kamu, bos kami bisa saja menghabisi kamu." Ucap pria tinggi.


"Cobalah, pergilah kalian mengadu kepada bos besar kalian." Ucap Dimas.


Dan di sanalah terjadi perkelahian di mana kedua pria tadi tersungkur lemah di atas trotoar dengan luka lebam di sekujur tubuh dan wajahnya.


"Sudah ku bilang jangan berani melawanku, apa kalian tidak tahu aku siapa?" Tanya Dimas sombong.


"Maafkan kami, kami tidak tahu kalau anda CEO dari perusahan terbesar itu, tolong ampuni kami tuan." Ucap kedua pria itu.


Dimas berjalan mendekat ke arah mereka, berjongkok tepat di depan salah satu pria itu lalu menarik kerah salah satu pria tersebut.


"Ingat kata-kata ku jangan pernah kalian kembali melecehkan wanita jika aku sekali lagi bertemu dengan kalian maka kalian akan habis di tanganku." Ucap Dimas tegas.


Dimas langsung berdiri dan berjalan ke arah mobil, Clarisa dengan cepat memeluk tubuh Dimas dari belakang.


"Dimas maafkan aku, aku sungguh-sungguh berterimakasih kepadamu karena sudah membantuku, aku mohon Dim terima aku kembali, aku benar-benar mencintaimu aku sudah berhenti menjadi wanita simpanan pria, dulu aku melakukan itu karena aku ingin membantu keluarga ku Dim." Ucap Clarisa.


Dimas melepaskan tangan Clarisa yang memeluk tubuhnya itu, lalu mendorong tubuh Clarisa agar sedikit menjauh.


"Jangan bermimpi untuk bisa kembali bersamaku lagi, aku sudah memiliki istri dan satu lagi jika kamu ingin berterimakasih kepadaku maka kamu pergilah jauh-jauh jangan sampai aku melihat wajah busukmu lagi." Ucap Dimas.

__ADS_1


Dimas lalu kembali melangkahkan kakinya dan memasuki mobil, setelah itu mobil Dimas pergi meninggalkan Clarisa sendiri.


Clarisa mengepalkan kedua tangannya, ia begitu mencintai Dimas tapi saat mendengar ucapan Dimas tadi Clarisa malah semakin yakin jika ia bisa kembali mendapatkan cinta Dimas seutuhnya.


"Jika aku tak bisa mendapatkan Dimas, maka wanita itu juga tidak bisa." Gumam Clarisa.


Dimas mengambil tissue dari laci mobilnya lalu mengeluarkan tissue basah itu untuk membersihkan tangan dan bagian bajunya.


Dimas benar-benar merasa jijik jika berdekatan dengan Clarisa, ia juga merasa muak dengan sandiwara yang sering kali di perankan Clarisa.


Dimas merogoh kantung celananya lalu mengambil benda pipih yang sedari tadi ingin ia mainkan.


Dengan satu tangan memegang stir mobil dan satu tangan lagi ia gunakan untuk memainkan hp.


"Bahkan sampai jam segini Alexa bahkan tidak mengabariku, dasar wanita bodoh." Ucap Dimas kesal.


Dimas meremas hpnya merasa marah dan sakit hati, pikiran Dimas sudah bercabang kemana-mana, Dimas takut jika istri kecilnya itu sedang asik bersama pria lain.


Alexa begitu mengantuk karena sedari tadi ia sudah lelah berkutat dengan laptopnya itu, bahkan skripsi yang akan ia kumpulkan besok belum juga selesai di buat.


"Aduh mataku sudah mengantuk, tapi tugas ini belum juga kelar." Gumam Alexa.


Alexa manaruh laptopnya itu tepat di atas meja, lalu ia bangkit dan berjalan ke arah dapur sekedar untuk mengambil air dingin agar tenggorokannya tidak terasa kering.


Pintu kulkas di buka lebar oleh Alexa, mata Alexa tertuju pada salad buah yang terletak tidak jauh dari es cream.


"Siapa yang membuat ini." Batin Alexa.


Alexa menyentuh kotak salad tersebut lalu mencicip sedikit rasa salad buah itu.


"Hmm enak banget." Gumam Alexa.


Alexa terus memperhatikan salad buah itu, ia baru teringat akan Dimas.


"Pasti ini Dimas yang buat." Gumam Alexa.


Alexa mengehela nafas panjang merasa bersalah dan sedih karena Dimas.

__ADS_1


__ADS_2