Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin

Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin
Air Terjun Panas


__ADS_3

Sruuuk!


"Kyaaa!"


Sruuuk!


"Aahhh!"


Besi berkilap yang telah di pahat secara sempurna berhasil menusuk dua kali ke dalam perut Yosida hingga menembus ke punggung. membuat darah mengucur deras. Pria itu jatuh tersungkur di tanah dengan tubuh berlumur darah.


"Sepertinya dia sudah mati."


"Kau benar Kida. Kejar wanita itu, jangan sampai dia lolos. Bunuh dan pastikan dia benar-benar mati."


"Baiklah!"


Pria bernama Kida itu berlari menyusuri hutan rimbun, sesekali betisnya tersandung akar pepohonan yang menjalar. Langkahnya mantap berlari mengejar Kirana, indra keenamnya mendengkus tajam, melacak jejak sang wanita.


"Ckk .. sial, sepertinya aku telah kehilangan jejak!" gumamnya.


Langkah pria itu akhirnya terhenti. Diayunnya untuk memutar kembali menyusuri jalan yang sebelumnya Ia lewati.


Kirana masih berdiam di balik batu besar diantara semak belukar. Tubuhnya bergetar ketakutan. Dikepalnya kelima jari, sedang sebelahnya menggenggam erat baju kotor dengan noda darah yang sempat menyiprat.


Hingga beberapa saat, Kirana tak lagi mendengar langkah para pembunuh kiriman itu yang mengejarnya.


Gadis itu mengendap perlahan, mengintip dari balik semak, memastikan mereka sudah pergi dan tak lagi mengejar.


Kembali ia menyusuri jalan untuk menemui Yosida. Semangatnya masih tinggi, Ia sangat yakin Yosida masih hidup.


'Yosida tak akan meninggalkanku.' Kirana membatin.

__ADS_1


Napas Kirana tersenga saat berlari menyusuri jalan dengan telanjang kaki. Sesekali ia terjatuh, terinjak duri yang tumbuh liar disekitar hutan.


"Arrrrhhhhhh," jeritnya saat mencoba mencabut duri kecil yang menancap di telapak kaki.


Semangat untuk menemui Yosida tak membuatnya goyah. Ia terus menyusuri jalan, setengah tenaga sudah mulai terkuras. Lalu, dikejauhan, tampak pria yang tadi ditusuk pedang, tersungkur dengan bersimbah darah. Segera ia berlari, menghampiri dan meletakkan kepala pria itu di atas pangkuannya.


"Yosida! Yosida!" serunya. Namun, tak ada jawaban.


Diletakkannya jari telunjuk pada lubang indera pencium sang pria.


"Aku tau kau masih hidup," gumamnya.


Sreeekkk! sreekkk!


Kirana menyeret tubuh Yosida, membawanya ke dalam mulut gua di balik bukit kecil.


Bagai pahlawan yang tak kenal lelah, wanita itu menyeretnya tanpa mengistirahatkan diri. Disusurinya gua makin gelap dan semakin gelap.


Gadis itu tak hentinya melangkah. Hingga nampak di kejauhan sebuah cahaya terang memancar.


Gadis itu akhirnya sampai di ujung gua, tanpa diduga, ternyata ujung gua itu menembus sebuah air terjun dengan pemandangan yang sangat indah.


Beberapa bunga tumbuh diantara batu-batu tinggi. Gemuruh air terjun terdengar mengucur begitu derasnya. Begitu sejuk, menuntun pikiran Kirana untuk membersihkan diri sejenak.


Dieletakkannya Yosida diatas tumpukan batu yang tertutup rumput.


Kirana lantas melepas pakaiannya helai demi helai hingga tiada tersisa. Lalu mulai menuruni sungai. Memandikan diri dan berendam untuk beberapa saat.


Nerta Yosida mengerjap, pria itu terbangun untuk beberapa saat.


Terlihat samar punggung Kirana yang mulus, kedua tangannya tampak menyirami tubuh dengan air. Namun, selang beberapa saat, kembali sang pria tak sadarkan diri.

__ADS_1


Malam telah berlabuh. Kembali sang pria terbangun, tapi kali ini Yosida mendapati Kirana tengah terbaring lelap diatas tubuhnya. Sepertinya, Kirana berusaha menghangatkan tubuh Yosida yang mulai menggigil.


Diliriknya tubuhnya yang telanjang dada. Tampak beberapa kain yang membaluti luka tusukan di tubuhnya.


Wajah sang pria pucat, tubuh kekar itu terluka dan mengeluarkan banyak darah sesaat setelah tertusuk pedang Kida sang pembunuh kiriman. Bibirnya bahkan berwarna kebiruan. Namun, hal itu tak mengubah sifat dinginnya yang sudah tertanam dalam tubuhnya. Sorot matanya bahkan tajam menatap Kirana.


"Kau sudah sadar?" tanya Kirana, seketika terbangun.


"Dimana aku?" tanya Yosida datar.


"Jangan tanyakan itu sekarang!" Gadis itu lantas mengambil sesuatu yang diletakkannya di atas batu.


"Kau harus makan, tadi kau kehabisan banyak darah!" Kirana menawarkan ikan bakar yang Ia tangkap tadi siang.


Yosida tak menolak, dan memakan semua yang Kirana berikan padanya. Ia melakukannya hanya untuk bertahan hidup. Kalau tidak, tak mungkin ia mau menerima makanan yang disuapi oleh seorang gadis.


"Hari sudah malam, kau harus istirahat," tutur Kirana padanya.


"Kenapa kau mau menolongku?" tanyanya dengan raut yang tetap datar.


"Aku tak punya pilihan, saat ini aku tak memiliki siapa-siapa!"


"Aku tak bepergian untuk membawa seorang wanita!"


"Tapi aku telah menyelamatkan nyawamu, kau harus membayarnya. Paling tidak, kau harus mengantarku hingga ke desa."


Kembali Yosida menatapnya tajam. Wanita itu membalas tatapannya, sesaat kemudian berpaling.


"Baiklah, hanya sampai desa saja. Setelah itu, kau tak boleh mengekor padaku lagi,"


"Hmmm," sahut Kirana sebagai isyarat bahwa Ia setuju.

__ADS_1


Yosida melipat kedua tangannya dibawah kepala, menjadikannya alas bantal.


Matanya masih terbuka menatap Bintang yang berkilauan dilangit, sesekali ia melirik Kirana yang kembali tidur dengan membelakanginya, kali ini wanita itu tak lagi berbaring di atas dada Yosida, melainkan disebelahnya, tepat samping api unggun.


__ADS_2