Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin

Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin
Festival Rakyat Musim Salju


__ADS_3

Kirana telah siap dengan kimono merah dan mantel kulit berlapis bulu beruang. Rambut yang ia kuncir menambah pesona anggun wanita itu, sedang sebagian lainnya dibiarkan terurai. Dan sedikit aksesoris di atas kepala menambah kesan keragaman budaya desa sakura.


Yosida menggenggam jemari di atas tulang ekornya. Mondar-mandir di depan pintu menunggu sang kekasih yang masih bersiap dalam bilik sejak satu jam yang lalu. Sebab malam itu mereka memang tengah bersiap menyambangi festival rakyat musim salju yang diadakan satu tahun sekali.


Kriiieeeet!


Terdengar jelas suara gang pintu saat diputar. Sosok wanita cantik dan mempesona hadir di hadapan sang pangeran, senyumnya terukir sempurna, membuat wajah sang pangeran merona berseri.


Wanita yang kini menjadi kekasihnya itu kemudian disambut oleh sang pangeran yang telah siap berkencan di moment pertama.


"Wahai putri, kau sudah siap?" rayu Yosida.


"Hmm, tentu." Kirana mengangguk. Yosida mengulurkan tangan, dengan ramah sang gadis menyambutnya.


Mereka langsung berjalan dengan bergandengan tangan. Sesekali mata itu saling pandang lalu tertawa bersama.


Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya tiba di festival rakyat musim salju. Begitu banyak pemandangan menarik yang dapat mereka saksikan.


Beraneka ragam monster salju telah terpasang di sepanjang jalan, kostum unik khas negara mereka pun tak luput menjadi incaran warga, juga jutaan lampion-lampion cantik yang menghias di setiap bangunan seluruh penduduk desa sakura. Semua tampak indah memeriahkan festival musim salju.


Beraneka ragam jajanan pun siap memanjakan lidah mereka.


Takjub dengan keindahan festival itu, Kirana lantas menarik lengan Yosida. Mengajaknya berlari ke sana kemari, mencicipi beragam kuliner yang tersedia, mencoba berbagai macam kostum, juga memakai topeng dan aksesoris yang ada di pameran.


Ramai para rakyat yang ikut merayakan festival malam itu. Hebatnya, tak satupun yang menyadari keberadaan Yosida sebagai buronan. Hingga larut malam setelah pesta lampion selesai, keduanya bersandar di bawah pohon besar yang telah di sapu bersih dari tumpukan salju.


"Kau suka?" tanya Yosida.


"Ya, aku sangat suka," sahut Kirana.


Gadis itu menghela napas, puas menyaksikan dan bermain di festival. Sang gadis kemudian menyandarkan kepala pada bahu Yosida.


"Yosida, aku sangat senang bisa bersamamu!" ungkapnya.


Pria itu tak menyahut. Hanya senyuman yang ia lontarkan sebagai balasan untuk ungkapan Kirana. Sedang tangannya memegang pucuk kepala sang gadis, membuat rambut Kirana agak teracak. Lalu memegang bahu Kirana.


"Yosida."


"Hmm."


"Kurasa, ibumu benar."


"Maksudmu?"

__ADS_1


"Kemarin, saat kau membawaku pergi dari bukit Choi Be, aku sempat mendengar jika ibumu memintamu untuk kembali ke istana melawan pamanmu, Kaisar Zhou."


Mendengar penuturan Kirana, seketika Yosida melepas lengannya yang memegang bahu Kirana. Membuat sang gadis mengangkat kepala dari sandarannya.


"Aku tak mau!" sahut Yosida. Jawaban yang membuat mata sipit Kirana seketika membulat.


"Tapi ... kurasa itu yang terbaik untukmu, Yosida. Aku tak ingin kau selamanya menjadi buronan. Selama ini kau sangat sulit untuk bertahan, nyawamu selalu menjadi incaran di setiap desa!"


Yosida terdiam.


"Yosida! Percayalah. Kau pasti mampu melawan Kaisar Zhou." Kirana berusaha meyakinkan kekasihnya itu.


Yosida masih diam. Sementara pandangannya fokus ke depan.


"Pikirkanlah, Yosida. Aku selalu berada di belakangmu, aku akan mendukungmu!"


Yosida menatap lekat mata Kirana, lalu memeluk sang gadis tanpa berbicara sepatahkata.


*****


"Kirana!" panggil Yosida pada sang gadis yang terlihat sibuk membuat sup, membuat kekasihnya tersentak kaget.


"Kau ini, mengagetkanku saja!" tukasnya kesal.


"Ahaha." Yosida tertawa kecil. "Apa kau sedang marah!"


"Dasar kau! Si kecil penggoda!"


"Hahaa! Aku tak sedang menggodamu! Kau jangan terlalu berprasangka!"


"Jadi .. kau tak ingin menggodaku, meski sekarang aku adalah kekasihmu!"


"Yaa!"


"Baiklah! Aku pergi saja!" ungkapnya berpura-pura merajuk.


"Ahh! Sebenarnya ... tidak begituu ...."


"Jadi .. kau mau mengakui bahwa kau merindukanku!"


"Ya! Aku merindukanmu!"


"Hahahha! Baiklah! Aku tak jadi pergi!"

__ADS_1


Ungkapan Yosida membuat Kirana tertawa tipis.


"Oh iya! Ada perlu apa kau menemuiku di saat begini?" tanya Kirana tak luput dengan senyuman manisnya.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu!"


"Sesuatu seperti apa??"


"Aku akan kembali ke istana!"


"Benarkah??"


"Yaa! Tapi dengan satu syarat ... hanya jika kau pergi bersamaku!" turur Yosida.


Kirana terdiam sejenak. "Benarkah? sayaratnya hanyan itu?"


"Ya hanya itu??"


"Kau yakin?"


"Hmm ... sebenarnya masih ada satu lagi!"


"Apa ituu???"


"Aku ingin kau yang menjadi permaisuriku!"


"Hahaha! Baiklah! Untuk hal itu, aku tak akan menolak!"


"Tapi, kau harus berjanji tak akan pernah meninggalkanku, apapun yang terjadi?"


"Ya, aku janji!"


"Mesk .. itu artinya kau harus berhadapan dengan Ibu Suri?" Kirana diam sejenak.


"Ya, akan kuterima risikonya!"


"Baiklah! Mulai sekarang kau adalah Ratuku! Dan aku akan memegang erat janjimu!" tukas Yosida.


Sang gadis kemudian tersenyum melihat semangat yang telah bangkit dari rasa keterpurukan kekasihnya itu. Meski ada sedikit rasa gelisah dihatinya.


'Menghadapi ibu suri,' sang gadis membatin.


*****

__ADS_1


Bersambung ....


Yang berkenan silahkan beri komentar dan like dan votenya 😊


__ADS_2