Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin

Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin
Pernikahan yang tak diharapkan


__ADS_3

Tirai putih mengitari ranjang berukir pahatan indah. Terkibas angin terpaan semilar yang masuk lewat celah jendela kamar Kirana.


Ia duduk di atas ranjang, tangan lentiknya bermain anyaman bergambar wajah seorang pria yang ia cintai. Bibirnya tersenyum tulus saat jari jemari memasukan benang helai demi helai.


Suara gesekan roda kecil dan besi saat seseorang masuk menggeser pintu kamar Kirana.


Bola matanya diputar, memperhatikan dua orang wanita dengan wajah arogan, tangan yang memegang gaun agar tak menyeret, masuk menghampirinya. Berhenti menganyam, tangan Kirana bersembunyi di balik punggung.


"Cih!" Ia tertawa lirih pada Kirana. "Kau pikir siapa dirimu dengan lancangnya bermain dengan putraku! Apa kau tak sadar siapa dirimu! Apa perlu aku membawakan cermin yang besar padamu, agar kau dapat berkaca!" makinya.


Kirana menunduk, kedua tangannya memegang erat benda yang tersembunyi di punggungnya.


"Apa yang kau sembunyikan di belakang punggungmu!"


"Ahh ... ini ...!"


"Sini! Berikan padaku!"


"Jangan ibu suri!" Tangan Kirana berusaha menahan anyaman yang mulai direbut Ying Hyen.


"Hah! Kau ingin membuat anyaman wajah putraku!" Mereka berdua tertawa lepas.


Ibu dan anak itu asik meledek Kirana.


"Dengar ya wanita ******. Jangan pernah berkhayal kau bisa hidup tenang dengan putraku. Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi. Segera batalkan rencana kalian sebelum aku yang bertindak. Jika kau masih mau hidup dengan tenang. Kau harus bisa menjauhkan dirimu dari Yosida!" tuturnya.


"Jika uang yang kau inginkan, maka akan aku berikan. Kau tinggal bilang saja. Berapa yang kau butuhkan!"


"Maaf ibu suri. Aku memutuskan menikah dengan Yosida bukan karena harta, tapi ...."


Plaaak!


"Dasar wanita serakah! Sudah baik aku menawarkanmu imbalan, tapi lancangnya kau berani menolak!" pekiknya. "Ingat ya! Aku tak akan pernah berhenti sampai kau benar-benar pergi dari kehidupan putraku!" Wajahnya merah padam. Ia dan putri bungsunya pergi meninggalkan Kirana yang mulai membanjiri pipi dengan air mata.


*****


Mentari memancar menembus di antara pohon bunga sakura. Musim telah berganti. Kirana duduk di bawah pohon. Aroma bunga semerbak terbawa oleh sepoian angin. Kedua tangannya dilipat dan disanggah di atas pagar tembok setinggi dada wanita dewasa. Matanya menatap lekat ke depan. Menunggu seseorang yang sudah berjanji akan menemuinya di taman istana itu. Sepasang tangan pria ikut menyanggah tepat di sebelah Kirana. Mata Kirana melirik dan terkejut. Sontak menjauhinya sejarak satu meter.


"Ada apa?" tanya Yosida.


"Ahh ... aku ...."


Yosida senyum lalu mendekatinya.


"Tolong jaga jarakmu, Tuan!" ucap Kirana pelan sembari melangkah mundur.

__ADS_1


Yosida mengernyitkan dahi. "Apa yang terjadi padamu Kirana. Mengapa kau tiba-tiba dingin padaku!"


"Maafkan aku, Tuan!" Bibirnya sedikit bergetar akibat menahan tangis.


"Kirana, apa yang terjadi? Mengapa kau seperti ini?"


"Tuan, sebaiknya kau tak usah terlalu sering menemuiku!"


"Tapi kenapa? Ohh ... aku tahu! Ini pasti perbuatan ibu suri. Apa yang sudah dia lakukan padamu?"


"Tidak, Tuan! Ini bukan karena ibu suri. Tapi ini karena diriku!"


Yosida mengernyit, menatapnya heran.


"Aku mulai menyadari, bahwa aku memang tak pantas untukmu! Aku bukanlah dari kalangan terpandang, aku tak memiliki silsilah dari keluarga bangwasan."


"Lantas mengapa?"


"Sebaiknya kita batalkan saja rencana pernikahan kita. Carilah wanita yang lebih pantas untukmu, Yosida!" ucap Kirana. Matanya merah akibat menahan tangis.


"Jadi, sekarang kau mau menyerah?" pekiknya. "Tidak! Aku tidak akan membatalkan pernikahan kita!" sambungnya.


"Tapi ... Yosida .... "


"Aku sudah mengatakan padamu sebelumnya, jika kau sudah masuk dalam kehidupanku, maka kau tak akan bisa keluar selamanya!" tuturnya. "Aku sudah memberikan kesempatan padamu dulu, tapi kau sendiri yang memilih untuk tetap bersamaku!" sambungnya.


"Sudahlah! Jangan membantah! Aku tidak sedang ingin berdebat." Berjalan meninggalkan Kirana di ikuti oleh beberapa pengawal yang sejak tadi bersamanya.


"Tuan, Tuaaan!" pekik Kirana meski Yosida terus menjauh tak mengindahkannya.


Kirana terdiam meratapi dirinya. Entah takdir seperti apa yang akan ia lewati nanti. Ia hanya pasrah dan berusaha menerima keadaan.


*****


Beberapa makanan tersaji di atas meja. Pelayan sibuk mondar mandir mengisi bagian meja yang masih kosong. Ia duduk bersama putrinya menikmati makan siang mereka.


"Kau tidak ikut makan putraku?" tanyanya pada Yosida yang terus diam tak menyentuh hidangan hangat di hadapannya.


"Aku tidak sedang berselera." ucap Yosida.


"Cobalah kue ini!" Tangannya mengulur ke mulut Yosida.


Memalingkan wajah. "Aku minta kau untuk berhenti mengganggu Kirana!" ucap Yosida.


Ying Hyen melanjutkan makannya, mengambil beberapa potong daging dengan sumpitnya.

__ADS_1


"Aku tak suka kau mengganggunya!" ucap Yosida.


"Dia tak pantas untukmu, Yosida! Sadarlah!"


"Kenapa? Karena perbedaan kasta?"


"Ya! Mengapa kau tak paham juga!" pekiknya. "Para tetinggi dan bangsawan akan menggunjing keluarga kita!"


"Itu bukan urusanku!"


"Yosida! Jangan bertindak bodoh! Ingat siapa dirimu sekarang! Kau bukanlah lagi seorang pangeran biasa! Kau seorang Kaisar. Jaga wibawamu!" Yosida diam tak membantah.


"Wanita seperti Kirana itu banyak! Kalau kau mau, aku bisa mencarikan sejuta yang sama seperti dia untukmu dari keluarga terpandang!"


"Tidak akan ada yang sama seperti dia!"


"Kenapa tidak!"


"Aku sudah berhutang nyawa padanya! Apa kau yakin, kau bisa mencarikan wanita yang sama yang juga berhutang nyawa padaku!"


"Cih! Dia itu hanya wanita dari rakyat biasa. Dia tak lebih dari seorang pengemis. Berikan saja beberapa uang pada keluarganya, mereka pasti akan kegirangan!"


Berdiri dan menggeser mundur kursi, kaki Yosida melangkah pergi.


"Kau mau ke mana?" tanya Ying Hyen.


"Pergi! Aku muak di sini!" ucap Yosida.


"Jangan terus membelanya, kau akan menyesal jika tak mau melepasnya!"


"Apa yang kau rencanakan!" gertak Yosida.


"Tidak ada!"


Yosida menatap lekat wajah ibunya. Sorot matanya tajam penuh amarah.


Ying Hyen tersenyum menyeringai.


"Aku akan mempercepat pernikahanku!" tutur Yosida lalu pergi meninggalkan Ying Hyen.


"Yosida jangan bertindak gegabah! YOSIDAAA ...."


Yosida terus berlalu tak mengindahkannya.


Ying Hyen menghentakkan sumpitnya di atas meja. Nafasnya mulai tak beraturan. Sesaat kemudian ia mulai mengamuk dan membanting-banting makanan yang tersaji di hadapannya.

__ADS_1


"Arrrhhh ...."


Bersambung ....


__ADS_2