
Part 23
Para prajurit dan Kaisar Thai Pan memacu kuda dengan cepat. Membelah bukit dan gunung-gunung, menyeberangi sungai melalui jalan pintas agar cepat sampai ke istana.
"Hiyyah!" hentak Kiasar Thai Pan pada kuda yang ditungganginya agar berlari lebih cepat, diikuti dengan gema ketukan kaki sembilan ekor kuda yang terdengar serempak.
Kirana mengerjap sesaat, tampak samar ia melihat setelan jubah tebal berlapis baja dan lengan besar yang menyanggah kepalanya. Mendongak, dagu lancip dengan rambut terurai sedikit memutih, sorot mata yang fokus menatap kedepan sambil sesekali mengatur pacuan kuda.
"Hiyyah!" seru Thai Pan. Kirana kembali tak sadarkan diri.
Jarak Thai Pan dan prajuritnya dengan istana tinggal lima ratus meter. Terdengar lonceng dibunyikan, pertanda kedatangan Kaisar agar penjaga pintu gerbang bersiap menyambutnya. Mereka masuk melalui pintu gerbang, diiringi suara decitan pagar tembok yang ditutup perlahan.
Thai Pan memarkir kuda di lapangan istana, ditunggu oleh beberapa prajurit yang sudah berjaga untuk menuntun kuda-kuda kembali ke kamp. Turun lalu mengangkat tubuh Kirana, menggendong di dadanya membawa masuk ke istana.
Segera tabib, kasim dan para pelayan menyambutnya. Kaisar Thai Pan menyerahkan Kirana pada mereka.
"Tolong segera obati wanita ini, rawat dia, sampai tersadar!" perintahnya.
"Baik, Yang mulia!" sahut mereka mematuhi.
Thai Pan beranjak menuju pemandian istana, disusul oleh beberapa pelayan wanita yang kemudian membantu melucuti pakaiannya. Ia masuk ke dalam kolam air hangat yang selalu siap. Berendam, merentangkan tangan dan menyanggahkan kepala dengan mata tertutup.
Seorang wanita berparas cantik, berusia hampir setengah abad datang menghampiri dengan wajah ditekuk.
"Ada apa? Mengapa kau menggangguku disaat aku lelah dan ingin beristirahat!" tukas Thai Pan datar dengan mata yang masih memejam.
"Cih!" Ia berdesis. "Kau terlalu sibuk menikmati perburuanmu!" tuturnya.
Thai Pan memicingkan mata, melirik ke arah wanita yang sudah bersamanya selama lima belas tahun. "Lalu mengapa?"
"Siapa wanita yang kau bawa itu?" tanyanya kesal, melipat tangan di dada dengan memalingkan wajah.
Thai Pan berdesis. "Aku menemukannya di bawah jurang dengan kondisi terluka!"
"Lalu, untuk apa kau membawanya ke istana?" gertaknya.
Membuka mata lebar, Thai Pan menatapnya dengan sorot tajam tanpa berkedip. "Memangnya kenapa!" ucapnya setengah membentak. Berdecak lalu keluar dari area pemandian, berdiri seraya merentangkan tangan. Sigap para pelayan wanita memasukkan baju mandi pada kedua tangannya. Mengibas lalu mengikat kedua tali untuk menutup baju handuknya. Berlalu dari hadapan wanita itu.
"Ada satu hal yang harus kau ketahui!" tutur wanita yang menjadi istrinya itu.
Thai Pan menghentikan langkah, lalu memutar badan, menunggu penjelasan yang hendak disampaikan padanya tanpa bertanya.
"Jika kau ingin tahu, datanglah ke kuil istana!" tutur Azuma kemudian beranjak untuk pergi terlebih dahulu.
Matanya menatap istrinya hingga tak lagi tampak. Setelah tinggal bayangan, Thai Pan berlalu meninggalkan pemandian.
Berganti dengan pakaian khas seorang Kaisar. Berjalan menuju ruang pengobatan dan pengolahan bahan-bahan berbagai ramuan, diiringi oleh seorang penasehat pribadinya dan beberapa prajurit yang mengawalnya. Terlihat ramai beragam tabib yang sibuk mengolah bahan-bahan untuk dijadikan obat persediaan. Salah seorang tabib segera menghampirinya setibanya di sana.
"Yang mulia," hormatnya.
__ADS_1
"Hmm," Thai Pan menyahut singkat. "Apa wanita itu sudah sadar?" tanyanya.
"Ya, Yang mulia,"
Segera masuk setelah sampai di salah satu kamar perawatan pasien di istananya.
Tampak seorang gadis yang tengah duduk di atas sebuah ranjang, matanya sayu dengan wajah sedikit lesu.
"Kau sudah sadar?" tanya Kiasar Thai Pan.
Ia mengangguk pelan. Thai Pan juga ikut mengangguk. "Di mana asalmu?"
Kirana menggeleng. "Aku tak tahu?"
Thai Pan sedikit mengernyit. Tabib itu menjelaskan padanya dengan sedikit berbisik. "Benarkah?" tanyanya sedikit terkejut.
"Jadi ... kau tak ingat siapa namamu?" tanya Thai Pan pada Kirana.
Kirana hanya membalas dengan sedikit anggukan. Tabib kembali berbisik di dekat Thai Pan. Tampak Thai Pan mengangguk paham.
"Baiklah, kau jangan takut. Kau boleh tinggal di sini sampai kau benar-benar pulih," tuturnya. "Jangan sungkan, jika kau memerlukan sesuatu, kau bisa meminta pada beberapa pelayan di istanaku ini!" ucapnya lembut, tampak senyum menghiasi bibir Thai Pan.
Kirana kembali mengangguk. "Terima kasih, Tuan!" ucap Kirana.
Ia kemudian beranjak meninggalkan Kirana yang masih tampak bingung di atas ranjang. Berjalan keluar diiringi beberapa pasukan prajurit penjaga dan penasehat pribadinya.
"Tuan? Apa yang ingin tuan lakukan pada wanita itu?" tanya penasehatnya.
"Lalu?"
"Wanita itu cukup manis. Aku akan menjadikannya selirku!" Sedikit tertawa kecil.
"Tapi, Tuan! Dia baru saja mengalami keguguran, Tuan sendiri bahkan tak tahu dia istri siapa? Di mana asal usulnya, dan mengapa dia sampai terjatuh dari atas jurang!"
"Apa kau sedang meremehkanku! Atau kau menghinaku! Atau kau meragukan kekuasaanku!"
"Tidak, Tuan! Kau selalu benar!" ucapnya sedikit terbata dengan kepala menunduk
"Hmm bagus, jika kau sudah paham dengan posisimu," tuturnya lalu kembali melanjutkan langkahnya.
*****
"Apa maksudmu, Thai Pan, Kau ingin menjadikan wanita asing itu sebagai selirmu?" hardik Azumi yang menjabat sebagai ibu suri di dinasti Kaisar Thai Pan.
"Ya, kenapa! Kau ingin membantahku?" tegasnya.
Ia mendengkus kesal. Terdengar napasnya tak beraturan. Tampak ia sangat emosi. Namun, ia tak cukup berani membantah Thai Pan.
Thai Pan tertawa puas. Beranjak dari atas ranjang mendekat ke arah Azumi tangannya menepuk-nepuk pundak Azumi "Kau jangan terlalu banyak tingkah, cukup jalankan saja kehidupanmu, aku sudah memberimu kenyamanan dengan menjadikanmu sebagai permaisuriku!" tuturnya, membuat Azumi sedikit bergetar ketakutan.
__ADS_1
"Jangan lupa, kau dulu hanyalah wanita hina yang kini kuangkat menjadi permaisuriku, kalau saja parasmu itu tak menawan, aku sudah menghabisi nyawamu karena telah membunuh istriku!" gertaknya.
Glek! Azuma menelan saliva.
Azuma memberanikan diri berbicara. "Kemarin aku menyuruhmu untuk datang ke kuil. Kau belum kesana!" ucapnya.
"Beraninya kau mengatur-aturku!" gertaknya. Spontan tangannya mencengkeram leher Azumi.
"Ahhh," pekiknya. "Putrimu!" tuturnya.
Segera Thai Pan melepas cengkeramannya. "Katakan! Ada apa dengan Kiera!" tanyanya.
"Itulah yang kuingin untuk kau ketahui!"
"Maksudmu!"
"Datanglah ke kuil istana, jika kau ingin tahu lebih jelas!"
Segera Thai Pan berlalu meninggalkan Azuma menuju kuil istana. Dengan perasaan gusar, ia melangkah secepat mungkin. Segera memasuki kuil begitu ia sampai di sana.
Beberapa bunga memadati seisi kuil, tampak satu buah kendi yang terpampang di hadapan patung budha. Thai Pan mendekat, menatap lekat tulisan yang tertera pada kendi yang sering digunakan untuk menyimpan abu sisa pembakaran jasad manusia.
Tertera nama, 'Kiera \= Putri Kaisar Thai Pan'. Seketika Thai Pan shok, seluruh organ tubuhnya mendadak lemas. Ia tersandar pada dinding tembok, memeluk kendi abu putrinya dengan tatapan kosong.
Hingga beberapa saat kesedihannya mulai berubah menjadi kemurkaan. Mengepal tangan dan menggertakkan gigi. "Kau harus mendapatkan balasan setimpal!" Ia berucap seorang diri, ucapan yang ia tujukan pada Yosida.
Beranjak keluar lalu bertanya pada para penjaga dan penasehatnya. "Siapa yang telah melakukan hal ini pada putriku?"
Semua terdiam, tak ada yang berani bersuara.
Sriiing!
Thai Pan menghunus pedang dan meletakkan pada leher penasehatnya.
Sontak penasehatnya menegang, dengan susah ia menelan saliva.
"Cepat, katakan! Siapa yang melakukan hal ini pada putriku?"
"Ampun, Tuan. Putri Kiera dikirim dalam keadaan tak bernyawa?"
"Siapa yang mengutus?"
"Pasukan Kaisar Yosida, Tuan."
"Di mana para pasukan pengutus itu?"
"Mereka ada di sel tahanan bawah istana."
"Mengapa tak ada yang memberitahukan padaku sejak awal!" bentaknya dengan intonasi tinggi, seraya mengedarkan pedangnya pada beberapa prajurit yang berada di hadapannya. Semua tertunduk, tak ada yang menjawab.
__ADS_1
"Kami takut, hal itu membuat yang mulia bersedih," sahut penasehatnya sedikit gemetar, kepalanya terus menunduk.
Thai Pan menatap penasehatnya yang terlihat kaku ketakutan. Lalu beranjak pergi setelah beberapa saat mengedarkan pandangan pada para prajuritnya. Segera mereka menyusul mengikuti langkah Thai Pan di belakang. Melangkahkan kaki menuju sel tahanan bawah istana.