
Kirana tertidur lelap setelah melahap habis potongan daging panggang dari Yosida.
Disandarkannya punggung mungil itu pada pohon besar, dengan tangan melipat di atas dada.
Udara malam itu cukup dingin, baju yang ia kenakan tak lagi dapat menyelimuti raga. Sebagian sudah terkoyak, sengaja di sobek untuk menutupi luka tusuk di tubuh Yosida kemarin malam.
Pria itu lantas menutup tubuh sang gadis yang tampak meringkik kedinginan dengan jubah beruang miliknya. Lalu kembali duduk berjaga di depan api unggun.
*****
"Kiranaaa! banguuun! Kiranaaa!!"
Terdengar samar suara seseorang berteriak memanggil namanya. Antara mimpi dan sadar, Kirana melihat Yosida berdiri dengan posisi siaga, seakan sedang melawan musuh.
'Apa yang terjadi? mimpikah aku?' Kirana membatin.
Sesaat kemudian netranya mengerjap, samar ia melihat Yosida tengah menghalau sesuatu di hadapannya. Wajahnya terlihat tegang.
Kembali Kirana mendengar seruan dari Yosida yang meneriakinya.
"Kiranaaa! cepat lariii!" Suara itu kini terdengar jelas. Kirana terbangun setelah menyadari ada sesuatu yang salah.
Seekor beruang madu tengah beradu dengan Yosida. Sepertinya, beruang itu sudah mengincar Kirana sejak Ia mencium aroma daging yang dimasak.
"Aaahhh ..." Sang gadis terkejut, lalu menjerit histeris, mengagetkan si beruang madu yang tengah beradu dengan Yosida.
"Grrr"
Seketika beruang madu itu menyambar Kirana. Nyaris mengenai bagian tubuh sang gadis. Namun, dengan cepat Yosida menangkisnya menggunakan kayu panjang berukuran satu meter.
"Arrrhhhh!" Yosida berusaha mempertahankan diri dari serangan beruang, mendorongnya sekuat tenaga hingga sang beruang terpental.
Segera Kirana lari dan bersembunyi di balik punggung Yosida.
"Lari Kirana! jangan berlindung di belakangku! Di sini tak aman!" perintah Yosida padanya.
"Ta-tapi! Bagaimana denganmu?" tegas Kirana.
"Jangan merisaukanku! Cepatlah! Aku tidak sedang mengajakmu kompromi!" pintanya dengan nada tegas pada Kirana.
Gadis itu mengangguk, menuruti perintah Yosida. Ia kemudian berlari sejauh duapuluh meter, bersembunyi di balik batu besar.
Sesekali Ia mengintip dari balik batu. Berharap pertarungan itu dimenangkan oleh Yosida.
__ADS_1
Jantungnya berdebar kencang karena rasa takut. Kawatir, jika saja Yosida kalah, maka Ia juga harus siap menjadi santapan si beruang madu.
Kirana menutup rapat mata dan telinga, tak sanggup mendengar pertarungan antara Yosida dan beruang itu. Hingga tak lama kemudian ia mendengar suara teriakan dari Yosida.
"Aaaaahhhhhhhhh!"
Deg!
Air mata Kirana jatuh secara tiba-tiba, mengalir membasahi kedua pipi halusnya.
"Srek! srek! srek!"
Terdengar jelas langkah sesuatu sedang mendekat ke arah Kirana. Gadis itu merunduk dengan tangan yang terus menutup telinga.
Jantungnya semakin berdebar kencang. Ia mulai menangis sesenggukan.
"Hei, bangunlah, aku belum mati!!" ucap Yosida yang berhasil mengagetkan Kirana.
Gadis itu mengangkat kepala dan menemukan Yosida tengah berdiri dihadapannya dengan berlumur darah beruang. Segera Kirana bangkit dan langsung memeluk erat tubuh Yosida.
Yosida terdiam mematung, matanya terbelalak. Cukup lama Ia membiarkan Kirana memeluk tubuhnya.
"Ehmm ... Tolong lepaskan, aku merasa tidak nyaman!" ungkapnya dengan nada pelan.
"Apa? Hahaha." Yosida tertawa kecil. "Tenang saja, aku takkan mati! Kau akan tetap sampai di desa bersamaku dengan aman!" ungkapnya.
"Benarkah?"
"Hmm!"
"Terima kasih!" Tanpa sadar, kembali sang gadis memeluknya. Namun, seketika Yosida melepaskan paksa.
"Tolong jangan lakukan hal itu berulang kali, karena aku tak suka!" ungkapan Yosida membuat Kirana tertunduk.
"Maaf! aku tak sengaja!"
Pria itu tak menjawab. Hanya mimik datar yang menjadi balasan atas ucapan maaf Kirana. Kemudian, ia pun duduk dan mulai menguliti beruang yang baru saja mati ditangan.
"Kau sebaiknya tidur lagi, perjalanan besok masih panjang," tutur Yosida.
Untuk sesaat, Kirana masih terdiam. Antara malu dan kesal.
Gadis itu akhirnya merebahkan tubuh di samping pohon besar. Sedetik Yosida menatapnya. Namun, tak ada kekesalan yang terpancar dari wajah sang gadis. Sebaliknya, ia memasang wajah semanis madu dengan senyum mengembang.
__ADS_1
"Terima kasih!" ucapnya.
Yosida hanya menatapnya, sedetik kemudian kembali menguliti beruang di hadapannya.
"Mau kau apakan bangkai beruang itu?" tanya Kirana berusaha memulai percakapan.
"Akan kujual kulitnya nanti sesampainya di desa. Dagingnya bisa kita gunakan untuk stok makanan selama perjalanan."
"Oohhhh, begitu!" tukasnya. Namun, tak ada tanda-tanda respon dari Yosida.
"Yosida?" panggilnya.
"Hmm?"
"Apa kau sudah punya pasangan?"
"Tidak punya!"
"Tak punya, ya?"
"Hmm!"
"Apa mungkin, kau pernah berpikir untuk menikah dan punya anak? seperti manusia normal pada umumnya?"
Seketika Yosida menghentikan pengerjaannya menguliti beruang. Netranya menatap dengan tatapan tajam pada sang gadis. Membuat Kirana tegang.
Glek!
Berat rasanya saat Kirana mencoba meneggak saliva. Tatapan itu berhasil membuatnya gugup.
Sedetik kemudian, Yosida kembali menguliti.
Tak ada kehangatan, hanya darah dingin yang terpancar dari aura Yosida. Penasaran, kembali Kirana mencoba bertanya.
"Yosida, sampai berapa lama kau akan hidup seperti ini?" Kirana mulai memberanikan diri berbicara terus terang pada Yosida. Namun, Yosida masih tak menghiraukan.
"Apa kau tak ingin hidup menua bersama anak dan istri?"
"Sekali lagi kau bertanya, maka aku tak segan untuk meninggalkanmu sendiri di sini!" hardiknya yang berhasil membuat Kirana terkejut.
Gadis itu akhirnya kecewa akan sikap Yosida. Pria itu ternyata benar-benar tak punya rasa kasih sayang. Ia benar-benar tak peka terhadap isi hati Kirana.
'Apa ia diciptakan tanpa hati!' rutuk sang gadis dalam hati.
__ADS_1
Kirana kemudian membalik tubuhnya, tidur dengan posisi membelakangi Yosida.