
Ying Hyen menyatukan kedua telapak tangan di depan patung budha. Matanya memejam dengan bibir komat kamit berdoa. Sudah hampir enam jam ia terus melakukannya.
Hari itu Ying Hyen pergi diam-diam menggunakan kereta istana bersama putri bungsu dan lima pelayan setia ke sebuah kuil dengan jubah yang menutup ke bagian kepala. Ia sengaja tak menghadiri acara penobatan Kirana sebagai istri sah Kaisar Yosida. Sebaliknya, ia justru berdoa di depan patung budha, berharap pernikahan mereka tak berjalan lancar.
Sementara di istana, Kirana merasa gugup yang teramat saat penobatan dimulai. Menteri tertinggi membuka gulungan yang berisi aturan dan pengesahan calon istri Kaisar. Membaca kemudian meletakkan sebuah mahkota pada kepala teratas Kirana. Seisi istana hening, sesaat kemudian terdengar sorak gembira para menteri yang menyaksikan penobatan sah Kirana sebagai istri sah Kaisar Yosida. Namun, beberapa menteri merasa ada sesuatu yang cukup janggal. Setelah memeriksa, mereka tersadar bahwa sejak awal sosok ibu suri tak hadir dalam acara penobatan itu.
Tiga hari berlalu, belum ada tanda-tanda ibu suri kembali ke istana. Beberapa menteri pendukung Ying Hyen mulai gelisah. Mereka mengirim sebagian pasukan istana untuk mencari tahu keberadaan ibu suri.
Selang beberapa saat terlihat kereta kuda milik dinasti Gaozu berjalan mendekat ke pintu gerbang. Para penjaga mulai memeriksa dan memastikan yang datang bukanlah musuh atau perampok yang dapat mengganggu ketentraman wilayah istana. Dan benar saja, kereta kuda itu membawa ibu suri, putri bubgsu dan kelima pelayan setia.
*****
Taburan bunga mawar masih menghiasi ranjang kamar pengantin Kaisar Yosida. Meski pernikahan mereka sudah berjalan tiga hari, tak lantas membuat suasana pengantin baru lenyap begitu saja.
Kirana melepas habis kimono yang ia kenakan, masuk dan berendam pada satu kolam kecil yang airnya penuh tertutup bunga. Hamparan lilin menghias mengitari area pemandian dinasti Gaozu. Setangkai bunga mawar menempel pada daun telinga Kirana. Matanya memejam, menenggelamkan raga ke dalam air hingga tersisa pundak dan kepala. Harum semerbak bunga tercium hingga ke luar area pemandian.
Seorang pria berbadan besar tinggi datang lalu berdiri tepat di depan Kirana. Kedua tangan di kepal di balik punggung. Baju tebal khas seorang kaisar menempel di tubuhnya.
"Hmm." Ia berdehem. Kirana membuka mata perlahan tersenyum.
"Sampai kapan kau terus berada di sana?" tanya Yosida.
Kirana tersenyum kecil. "Sampai kau lelah menunggu," godanya.
Merengut, Yosida memasang wajah masam, berpura-pura merajuk.
"Baiklah, Rajaku! Aku akan segera bangkit dan melayanimu," tuturnya menggoda.
"Baguslah kalau kau peka!"
Tersenyum tipis. "Tapi aku tidak bersungguh-sungguh!"
"Ohhh ... kau mau meledekku." Yosida membelalakkan matanya, seolah hendak menerjang Kirana yang tengah lengah dalam perlawanan.
"Kalau kau tak beranjak juga, aku yang akan mengangkatmu, mengeluarkanmu dari pemandian tanpa sehelai kain," bisiknya di dekat Kirana.
"Baiklah! Coba saja!"goda Kirana, membuat Yosida tak dapat menahan diri, lantas mendekat, tertawa licik pada Kirana. Berjongkok dengan posisi kaki sebelah di tengkuk, dan sebelah lagi menyentuh lantai. Kirana pun tak kalah, senyumnya menyeringai licik. Yosida mengernyit melihat ekspresi Kirana.
__ADS_1
Byuuur!
Tangan Yosida di tarik hingga terseret ke dalam kolam. Seluruh tubuhnya basah. Kirana tertawa puas.
Kedua tangannya menyimburkan air ke wajah Yosida tanpa ampun. Yosida tak mau kalah, ia membalas Kirana dengan bertubi-tubi semburan. Mereka tertawa riang bersama dalam satu kolam pemandian.
*****
"Ibu suri datang menghadap!" pekik seorang penjaga dari luar kamar Kirana.
Kirana yang tengah duduk lesehan di depan satu meja setinggi lutut wanita dewasa, segera menghentikan pengerjaannya menganyam sepotong kain dengan wajah Kaisar Yosida. Matanya membelalak. Ia berusaha menelan saliva.
Glek!
Ying Hyen datang bersama empat pelayan menemui Kirana di kamarnya.
"Boleh aku berkunjung?" tanyanya. Kali ini ia tak menampakkan wajah garang. Justru sebaliknya, senyum merekah tercipta di bibir mungilnya.
"Yah ... tentu saja," sahut Kirana sedikit terbata.
"Ahhh ... kau tak perlu canggung begitu," ucapnya. "Walau bagaimanapun, sekarang aku ini kan ibu mertuamu," ucapnya masih dengan senyuman ramah.
"Ahhh ... iya." sahut Kirana juga dengan senyuman, meski sedikit canggung, ia merasa sikap ibu suri cukup aneh.
"Hamura, tolong letakkan nampan itu di meja putri Kirana!" pinta ibu suri pada salah satu pelayan yang membawa nampan berisi berbagai makanan basah.
"Baik, yang Mulia!" Segera ia meletakkannya di atas meja Kirana.
Kirana diam dan hanya memperhatikan semua yang dilakukan ibu suri.
"Nah, ayo, makanlah!" tawarnya. Kirana diam tak menyentuh makanan di hadapannya.
Ibu suri tertawa kecil. "Apa kau mengira aku meracunimu?"
Glek! Kirana menelan saliva.
"Baiklah, aku akan menyicipinya terlebih dahulu!" ucap ibu suri kemudian mengambil sepotong kue dan melahapnya. "Hmm ... ini sangat enak, cobalah!" tawarnya.
__ADS_1
Kirana masih diam tak berbicara atau pun memakan kue pemberian ibu suri.
"Apa kau masih tak yakin?"
"Ahh ... anuu ... baiklah aku akan makan satu," ucap Kirana kemudian ******* satu potong kue di hadapannya. "Hmm ... ini sangat enak!" pujinya setelah memakan satu potong kue dari ibu suri.
"Nah, benarkan! Kalau begitu makanlah!"
"Hmm," ucap Kirana tersenyum.
"Aku memang sengaja membuatkan kue ini khusus untukmu!"
"Benarkah? Ibu suri sendiri yang membuatkannya untukku?" tanya Kirana sumeringah.
"Yaa, tentu saja! Aku membuat ini sebagai ucapan selamat untukmu atas penobatanmu menjadi istri sah Kaisar Yosida, Putraku!"
Kirana terlihat malu di hadapan ibu suri, walau tingkah ibu suri cukup aneh, Kirana tak begitu menanggapinya. Ia justru merasa bahagia. Entah perasaan seperti apa yang dapat ia ungkapkan. Mungkin ini adalah awal sebuah kebangkitan Kirana dari keterpurukannya.
"Mulai sekarang, panggil saja aku ibu," tuturnya. "Karena walau bagaimanapun juga, sekarang kau sudah menjadi menantuku!"
Kirana semakin tersipu. "Ya, Ibu," ucapnya pelan. Wajahnya sedikit merona.
"Nah, begitu. Baiklah! Jika boleh, aku akan mengunjungimu lagi lain waktu."
"Oh, tentu saja boleh, Ibu."
Ying Hyen tersenyum lalu beranjak keluar kamar Kirana bersama keempat pelayannya. Ia berjalan perlahan, dan menjauh. Sepanjang perjalanan wajahnya datar, tak tampak sedikit pun rasa bahagia.
"Cih! Menjijikkan." ketusnya setelah dirasa cukup jauh dari kamar Kirana.
"Dia pikir aku bersungguh-sungguh menganggapnya sebagai menantuku! Cih!" ocehnya.
"Dasar wanita murahan, lihat saja! Ini baru awal. Nikmati saja kesenanganmu untuk sesaat."
Hahaha! Ia tertawa lepas bersama keempat pelayannya yang terus mengikuti langkahnya.
Bersambung ....
__ADS_1