
Cinta Pria Berdarah Dingin
Part 20
Suasana hening beberapa saat. Semua terdiam kaku menatap Kirana.
"Hukum dia! Dia harus mendapat hukuman yang setimpal!" tukas pelayan itu dengan wajah geram.
"Tidak. Aku tidak melakukannya. Sungguh!" elak Kirana.
"Tapi kau yang telah mengantar sajian pada Putri kami Kiera. Kau meracuninya! Dia keracunan setelah memakan sajian yang kau berikan!"
"Tidak! Sungguh! Aku tak memberikan apa pun pada makanan itu!"
"Bohong!"
"Cukup!" bentak Yosida. "Jangan lancang kau pada Putri Kirana! Ingatlah! Kau masih seorang pelayan! Kau tak pantas berteriak memaki istri Kaisar!" Yosida mulai tersurut emosi. Ia berdiri, matanya melirik ke sekitar dengan sorot yang tajam, spontan menarik pedang yang terselip di pinggul salah satu penjaga istana. Lalu mengedarkannya.
Siapa lagi yang berani menuduh putri Kirana!" hardiknya.
Hening. Semua terdiam. Termasuk pelayan setia Putri Kiera yang tadi memaki Kirana, pun kini hanya menunduk. Tak ada yang berani bersuara.
Tanpa menunggu lama, Yosida menarik pergelangan Kirana, membawanya keluar menuju aula istana, mempercepat langkah kakinya.
Kirana berusaha mengikuti setengah berlari.
"Yosida!" panggilnya. Ia terus menyeret dengan memegang pergelangan Kirana.
"Yosida hentikan!" pekik Kirana.
Menghentikan langkahnya lalu menghempas pegangannya.
Kirana menatapnya lekat, berusaha mengatur napas.
"Tak ada waktu untuk berdiskusi sekarang!" pekik Yosida.
"Yosida kau harus mendengarkanku!" tutur Kirana.
"Sudahlah! Aku tahu, bukan kau pelakunya. Kau tak akan melakukan hal itu!"
"Itulah yang ingin kukatakan padamu, Yosida!" tuturnya. "Tapi kau harus tahu bahwa ibu suri ...."
Spontan Yosida menatapnya sedikit mengernyit. "Apa maksudmu? Ibu suri? Apa hubungannya ini semua dengan ibu suri?"
"Ibu suri yang mengirim jamuan itu untuk Kiera. Dia memintaku mengantarkannya!" tutur Kirana. Sorot mata Kirana cukup serius. Membuat Yosida melemah sekejap, ia lemas mendengar pernyataan Kirana bahwa ibunya yang melakukan hal itu.
"Bohong!" pekik seseorang dari arah belakang. Yosida dan Kirana menoleh. Tampak seorang wanita yang tak asing mendekat.
"Kirana, teganya kau lemparkan tuduhan itu padaku! Inikah balasanmu atas kebaikan yang selama ini kuberikan padamu?" tutur Ying Hyen.
"Yosida percayalah! Aku mengatakan yang sesungguhnya! ucap Kirana gemetar. "Bu, bukankah Ibu yang memintaku mengantar sajian itu pada putri Kiera?"
Ying Hyen melotot. "Kurang ajar! Kau?" Melayangkan tangannya ke wajah Kirana. Spontan Yosida menangkisnya.
__ADS_1
"Cukup, Bu!" gertaknya. Ia menghempas tangan Ying Hyen yang hampir mendarat di wajah Kirana. Membuat mata Ying Hyen membelalak. "Yosida, apa-apain kau! Mengapa kau memilih membelanya!" bentaknya.
Yosida tak menghiraukannya, ia justru menatap lekat Kirana yang matanya mulai berkaca, lalu berbicara setengah berbisik. "Aku percaya padamu, kembalilah ke kamarmu saat ini juga, tunggu aku di sana. Jangan biarkan siapapun masuk selain diriku." Ia kemudian memerintahkan beberapa pelayan setia Kirana untuk mengantarkan kembali ke kamar dan menemaninya.
Kirana mengangguk seraya bergegas menuju kediamannya bersama para pelayan.
"Yosida! Keterlaluan kau! Apa yang kau lakukan!" bentak Ying Hyen.
"Aku hanya melakukan sesuatu yang benar! Bertindak sepatutnya seorang Kaisar!"
"Maksudmu? Dengan mempercayainya bahwa aku pelakunya!"
"Aku percaya pada Kirana!"
"Yosida, keterlaluan kau!"
"Maaf! Aku tak punya waktu untuk berdebat denganmu saat ini!" sambung Yosida yang kemudian berlalu dari hadapan ibunya, Ying Hyen.
"Yosida! Yosida!" panggilnya. Yosida terus berlalu dengan langkah tergesa.
*****
Ying Hyen kembali ke kediamannya. Emosinya memuncak. Ia begitu panik. Dilangkahkannya kaki ke sana kemari.
"Arrrhhh" erangnya.
Ia tak kuasa menahan emosi. Namun rasa gelisah dan takut juga mulai menghantuinya. Ia mengamuk lantas membanting barang-barang yang ada dalam ruang kamarnya. Suara pecahan benda antik dan beragam aksesoris pun tak terelakkan.
"Semua ini karena kau, Hamura!" hardiknya pada Hamura yang mulai terlihat pucat ketakutan.
Para pelayannya berteriak histeris, berusaha menghentikannya. Hamura meringis seraya memohon ampun karena hantaman yang terus merajam bertubi-tubi dibeberapa bagian tubuhnya.
"Dasar bodoh! Hanya membedakan obat penggugur kandungan dengan racun saja kau tak bisa!" hardiknya yang masih mengayun cambuk ke tubuh Hamura.
"Ampun, Yang mulia. Ampuuun! Hu hu hu!" rengeknya sesenggukan, meminta belas kasih dari Ying Hyen.
"Ampun katamu! Apa kau bisa memikirkan apa yang akan terjadi pada kita setelah kejadian ini?"
"Tuan, tenanglah!" bujuk salah seorang pelayan setianya. "Mari kita pikirkan bersama jalan keluarnya!" Tangisnya pecah sebab tak kuasa melihat Hamura yang mulai terkulai lemah.
Ying Hyen mulai mengatur napas. Berusaha mengendalikan emosi. "Baiklah! Apa ada yang punya ide sekarang?" Matanya mengedar ke semua pelayan. Tampak mereka pun sedang kesusahan dalam berpikir.
Braaak!
Ying Hyen dan kelima pelayannya dikejutkan dengan kedatangan beberapa pasukan penjaga istana yang mendobrak paksa pintu kamar Ying Hyen.
"Apa-apaan ini!" pekik Ying Hyen.
"Ringkus mereka sekarang!" perintah seseorang yang mengagetkan Ying Hyen.
"Yosida? ta-tapi, ini semua tak seperti yang ...."
"Sudah cukup, Bu! Kau tak perlu menjelaskannya lagi. Aku sudah mendengar semuanya!" ucap Yosida. "Cepat kurung mereka di sel tahanan bawah istana," perintah Yosida pada beberapa pasukan penjaga istana.
__ADS_1
"Yosida! Tunggu, Yosida. Apa kau tega melakukan hal ini pada ibumu?"
"Kriminal tetaplah kriminal. Sekalipun kau ibuku, kau tetap harus dihukum atas perbuatanmu! Biarlah sidang nanti yang akan menentukan nasibmu!" tutur Yosida.
"Yosida! Biadab kau! Beraninya kau melakukan hal ini pada ibumu! Yosidaaa!"
*****
Ying Hyen berjalan mondar-mandir di dalam sel tahanan bawah istana. Ia berusaha berpikir keras, memikirkan cara untuk dapat terbebas dari hukuman. Ying Hyen tahu persis bahwa hukuman yang akan jatuh padanya adalah hukuman gantung.
Sementara para pelayannya hanya dapat menangis di sudut ruang di balik sel besi. Pun tak terkecuali Hamura yang tampak lesu akibat luka lebam di sebagian tubuhnya. Tatapannya kosong, ia tampak hanyut dalam lamunan.
"Pssttt! Pssttt!" desis Ying Hyen memanggil salah seorang penjaga sel bawah.
"Ada apa?" tanyanya.
"Kemari!" bisik Ying Hyen.
"Maaf, aku tak berani berbincang dengan Anda! Aku hanya menjalankan perintah Kaisar Yosida."
"Ckk, apa kau lupa siapa aku, hah! Jangan membantah! Cepat kemari" gerutunya.
"Maaf, Ibu suri. Tapi saat ini kau adalah seorang tahanan!
"Kauuu!" tunjuknya pada penjaga itu. "Beraninya kau menolak perintahku!" hardiknya. "Awas saja, tunggu saja sampai aku terbebas nanti!"
Penjaga itu pergi sembari tertawa menyeringai.
"Kurang ajar! Arrrhh!" Ying Hyen kemudian duduk dengan tangan merentang di atas lutut.
"Ibu suri, seseorang ingin menemuimu!" pekik penjaga tadi.
Berdiri dan langsung memegang besi yang menjadi pagar penghalang dirinya untuk bebas.
"Menteri Zheng!" ucapnya antusias. "Tolong aku! Kau harus membantuku terbebas dari hukuman ini!" pintanya
"Sabar, Ibu suri. Aku dan para menteri lainnya masih terus mengusahakan bagaimana cara untuk membebaskanmu!"
tuturnya pelan.
"Bagus!" ucapnya. "Oh, iya! Ada satu hal lagi yang harus kau lakukan!"
"Apa itu, Ibu suri!"
"Buatlah agar Kirana menjadi tahanan sepertiku. Jika berhasil, ada kemungkinan aku bisa terbebas dari hukumanku!"
"Baiklah, akan kuusahakan!"
"Bagus!"
"Tapi apa bagianku jika berhasil?"
"Tenang saja! Aku akan berikan jabatan tertinggi untukmu!"
__ADS_1
Menteri Zheng tersenyum puas! "Baiklah, Ibu suri. Kau hanya perlu sabar menunggu!"
Bersambung ....