
Sudah terhitung dua bulan semenjak pernikahan Yosida dan Kirana. Namun, Kirana masih belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
"Bagaimana hasilnya tabib?" tanya Yosida dan Kirana saat memeriksakan Kirana pada seorang tabib.
Ia menggeleng. "Nihil," ucapnya.
"Maksudnya?"
"Dia masih belum hamil."
Yosida menatap sayu Kirana. Terlihat wajah Kirana yang kusut tertunduk, ia sedih karena masih belum bisa memberikan keturunan pada kekasihnya, Yosida.
"Hai, tenanglah. Jangan bersedih," ungkap Yosida seraya mengangkat pelan dagu Kirana. Memaksanya menatap mata Yosida.
Terlihat buliran air mulai menumpuk pada pelupuk Kirana. Segera Yosida memeluk tubuh istrinya itu.
"Sudah, tak apa sayangku. Ini masih awal, wajar saja jika kau belum hamil," tuturnya seraya menepuk pundak Kirana.
"Maafkan aku, Yosida ... maafkan aku! Kirana menangis tersedu di pelukan Yosida.
"Sudah! Tak apa! Kita masih bisa mencoba, kita akan periksakan lagi satu bulan kedepan," ungkapnya sembari menatap mata istrinya. Kedua tangannya menghapus buliran yang keluar dari mata Kirana.
Kirana mengangguk pelan.
*****
"Bagaimana hasilnya?" tanya Ying Hyen pada putranya.
"Masih belum ada tanda-tanda, Bu!" ucap Yosida.
"Padahal sudah dua bulan. Mengapa Kirana belum hamil juga?"
"Entahlah, Bu!"
Ying Hyen memasang wajah prihatin di hadapan putranya. Kau bersabarlah menunggu sebentar. Mungkin belum sekarang," tuturnya seraya menepuk pundak putranya.
"Hmm." Yosida mengangguk.
"Aku akan menemui Kirana terlebih dahulu," ucap Ying Hyen seraya berjalan keluar meninggalkan Yosida yang masih duduk diam di atas ranjangnya.
Sepanjang perjalanan Ying Hyen terus menggerutu di depan para pelayan setia dan seorang penasehatnya.
"Aku sudah muak, sampai kapan aku harus bersandiwara!" ocehnya pada penasehat dan para pelayannya.
"Sabar, yang Mulia! Yang Mulia harus menunggu sebentar lagi.
"Iya, tapi sampai kapan?"
"Sampai empat bulan kedepan!" ucap penasehat Ying Hyen.
Ying Hyen memutar kepala, menoleh ke arah penasehatnya.
"Maksudnya? Apa hubungannya dengan empat bulan kedepan?" tanyanya.
"Jadi, Tuan belum tahu?"
__ADS_1
"Ya! Maka dari itu aku bertanya!" bentaknya.
"Kalau yang Mulia menunggu sampai empat bulan kedepan, berarti pernikahan Tuan Yosida dengan Kirana sudah berjalan selama enam bulan!" tuturnya.
"Lalu? Hubungannya?"
"Bukankah dalam peraturan dinasti Gaozu tertulis jika istri sah Kaisar belum memberi keturunan dalam waktu enam bulan setelah pernikahan, maka Kaisar harus menambah selir baru!" tuturnya lagi.
Seketika mata Ying Hyen melotot. "Wah, kau hebat sekali! Jadi ini alasanmu selama ini menyuruhku untuk berakting?"
"Ya! Bukan itu saja, yang Mulia harus terus memberikan obat mandul pada si putri murahan itu. Jangan sampai lengah, Tuan!"
"Ya, kau benar! Obat mandul itu!" ucapnya penuh semangat teringat akan makanan yang terus ia antar ke kamar Kirana. "Apa harus aku memberikannya lagi sekarang?" tanyanya penuh antusias.
"Ya, ide bagus!" sahutnya seraya manggut.
Ying Hyen kembali tersenyum menyeringai. Tatapannya menyiratkan sesuatu. Lalu tertawa seorang diri.
*****
Sebulan berlalu, Yosida pergi menghadiri undangan dari Kaisar Thai Pan, ia diundang untuk membuat kesepakatan kerja sama antar sesama pemimpin negara. Menjalin hubungan erat, serta memperkuat benteng pertahanan.
Yosida berangkat dari istana untuk waktu kurang lebih satu minggu.
*****
Huueek huueek!
Kirana berlari ke kamar kecil. Ia terus muntah tak henti-henti.
"Aku tak tahu, Yuki! Sejak tadi pagi perutku terus saja mual."
Huueek!
"Tuan, sebaiknya anda periksakan diri dulu. Mari saya bantu, Tuan!" ajaknya seraya meletakkan tangan Kirana di pundaknya.
"Tuan duduklah dulu. Saya akan segera memanggil tabib!"
"Iya, cepatlah!" pinta Kirana. Ia mulai berbaring di ranjang. Tangannya terus memegangi perut sambil berusaha menahan mual.
Tak berapa lama Yuki pelayan Kirana kembali datang membawa seorang tabib. Mereka datang setengah berlari.
"Tolong segera periksa yang mulia, Tuan Kirana," pintanya pada tabib.
Terlihat Kirana yang masih memegangi perut dengan wajah sedikit pucat.
"Apa yang anda makan sebelumnya? tanyanya.
"Hanya beberapa potong kue," sahut Kirana.
Tabib mengambil tangan Kirana dan mulai meletakkan dua jarinya pada pergelangan Kirana hingga beberapa menit. Matanya memejam berusaha merasakan, kedua jarinya terus menekan pergelangan Kirana.
Selang beberapa saat ia mengangkat jarinya perlahan dan mulai membuka mata.
"Bagaimana tabib? Apa yang terjadi dengan saya?" tanya Kirana.
__ADS_1
"Yang mulia baik-baik saja. Hanya saja, yang mulia harus menjaga kesehatan, jangan terlalu lelah," tuturnya.
"Karena sekarang yang mulia sedang mengandung janin yang masih muda." ungkapnya lagi.
"Benarkah?" tanya Kirana berusaha bangkit dari tidurnya.
"Tuan! Tetaplah baring!" bujuk sang pelayan.
"Hmm." Kirana manggut lalu kembali berbaring. Terlihat senyum lebar di bibirnya.
"Selamat ya, Tuan!" ucap pelayan lain memberi dukungan.
Salah seorang pelayan tiba-tiba berdiri dan berucap. "Tuan, saya akan segera memberikan kabar gembira ini pada ibu suri," tuturnya.
Belum sempat Kirana mengatakan apa pun, segera ia berbalik badan dan bergerak cepat keluar kamar.
"Tunggu!" panggil Kirana. Namun ia sudah terlanjur jauh hingga tak lagi mendengar panggilan Kirana.
Pelayan itu berlari menuju ke kediaman Ying Hyen. Ia segera mengetuk setelah sampai di depan pintu kamar Ying Hyen.
"Yang mulia, Ibu suri! Ada berita penting untukmu!" pekiknya dari luar.
"Ya! Masuklah!" sahutnya.
"Tuanku, ada sesuatu yang tidak beres!" ungkapnya sedikit terbata.
"Sudahlah, jangan bertele-tele. Memangnya apa yang membuatmu begitu gelisah!" ucap Ying Hyen sembari menengguk segelas arak.
"Kirana, Tuan, Kirana!"
"Yaa! Ada apa dengan Kirana, cepatlah katakan!"
"Dia hamil, Tuan!"
Bruuush!
Ying Hyen tersedak dan menyemburkan minuman yang terlanjur masuk ke mulutnya.
Membuat basah wajah pelayan itu.
"Apa katamu! Kirana hamil" pekiknya.
"Ya, Tuan!"
"Bagaimana bisa? Siapa yang mengatakannya? Kau yakin sudah memastikannya?"
"Yaa, Tuan!" ucapnya lirih. "Sejak pagi tadi dia terus saja mual dan muntah. Yuki membawakannya seorang tabib dan memeriksakannya. Tabib itu bilang, mualnya hanya efek kelelahan karena dia sedang hamil muda!"
"Apa?"
"Ahhh sial!"
Ying Hyen membanting gelas minumannya hingga pecah berkeping-keping. "Arrrhhh!"
Bersambung ....
__ADS_1