
Yosida dan Kirana akhirnya tiba di desa setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh kurang lebih tiga hari.
Mereka langsung menuju pasar rakyat, segera Yosida mencari pengrajin kulit untuk menjual hasil buruannya dua malam yang lalu. Harga yang diberikanpun cukup mahal. Mereka akhirnya memborong berbagai macam makanan, sayuran dan daging.
Rasa lelah terbayar ketika mereka sampai pada sebuah penginapan.
"Ahhh!" Kirana menghela napas lega, kemudian menghempaskan tubuh di atas ranjang empuk berlapis bulu.
"Kau istirahat saja dulu," tawar Yosida.
"Kau mau kemana?" tanya Kirana sedikit heran.
"Aku hanya ingin menyegarkan diri di luar," sahutnya yang kemudian berlalu.
Gadis itu duduk menatap pintu kamar yang telah tertutup rapat. Meski sang pria sudah tak nampak di hadapan, tetapi bayangannya masih bersemayam dalam benak Kirana.
Kembali dibaringkannya punggung di atas ranjang, seketika gadis itu melamun, ingatannya melayang pada kejadian dua hari yang lalu, membuatnya tersenyum seorang diri.
Cukup lama sang gadis menunggu Yosida untuk kembali ke dalam bilik kamar penginapan. Rasa rindu menuntunnya keluar untuk sekadar bercakap dengan Yosida. Pria berparas tampan itu terlihat santai berdiri pada sebuah jembatan di atas sungai. Di bawah sinar rembulan.
Cuaca malam itu cukup indah. Cahaya rembulan memberi efek pantulan di atas air, tampak jutaan bintang bertabur menghiasi langit, menambah indah suasana pada malam itu. ditambah dengan suara jangkrik yang meramaikan suasana hening antara dua insan.
"Hai, apa yang kau lakukan?" tanya Kirana membuyarkan lamunan Yosida.
Yosida menoleh, menatap wajah sang gadis. Lalu kembali pandangannya mengarah ke depan.
Kirana berdiri tepat di sebelah Yosida. Ia tak lagi canggung berada di dekat pria yang sebelumnya terlihat dingin dan menakutkan.
Lalu, seketika Yosida mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong jubahnya. Sebuah gelang dengan permata berwarna hijau, indah dan berkilau. Diraihnya tangan Kirana, memasang pada pergelangannya.
"Untukku?" tanya Kirana, wajahnya berseri. Gadis itu tampak bahagia.
"Ya!" sahut Yosida pelan.
"Sekarang sudah malam, kau istirahatlah dahulu. Angin malam tak baik untuk kesehatan," tukas Yosida.
Kirana diam tak menjawab.
"Besok aku akan pergi, pertemuan kita cukup sampai disini!" ungkap Yosida.
Seketika Kirana terkejut, ditatapnya lekat wajah Yosida, masih percaya dengan apa yang ia dengar.
__ADS_1
Namun, Yosida tak membalas tatapannya. Pandangannya hanya fokus ke depan.
"Aku tak mau!" ungkap Kirana dengan raut yang ditekuk. Ia merajuk.
Seketika Yosida menatapnya lekat. Tatapan yang hampir menembus ke dalam mata Kirana.
"Aku akan ikut denganmu, ke manapun kau pergi!" tegas Kirana.
"Kirana, dengarkan aku! Aku bukanlah pria baik seperti yang kau bayangkan! Kau tak aman bersamaku!"
"Tapi aku mencintaimu, apapun masalahmu, aku tak perduli. Aku hanya ingin bersamamu!" ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Cukup lama Yosida diam menatap sang gadis yang nekat menyatakan perasaannya. Tak menyangka, jika gadis itu telah jatuh hati padanya.
Pun dengan Kirana yang juga menatapnya lekat.
"Jangan berharap apapun padaku! Karena aku tak pernah menaruh rasa padamu. Bagiku, kau tak lebih dari sekadar beban!" ucapan Yosida itu berhasil menghancur leburkan hati Kirana.
"Apa kau bilang?" tukasnya. Hampir saja air mata itu tumpah. Namun, sang pria tak memberi respon apapun.
"Lalu? Bagaimana dengan hubungan yang pernah kita lakukan sewaktu kau tertimpa dahan, apa itu tak ada artinya bagimu?"
"Ya! Aku hanya mempermainkanmu!" tutur Yosida penuh penegasan.
Kirana melayangkan tamparan di wajah Yosida. Seketika air mata Kirana tumpah. Hancurlah sudah benteng pertahanan yang sedari tadi ia pertahankan. Dengan wajah yang merah padam. Ia sangat kecewa dengan sikap Yosida.
Kirana kemudian berlalu meninggalkan Yosida yang masih terus mematung di bawah sinar bulan.
*****
Kirana terbangun, Netranya menyipit, sinar mentari berhasil menyilaukan penglihatannya. Sinar yang masuk melalui celah-celah lubang kecil.
Ia duduk, lalu sejenak melamun. Sadar bahwa sang pria yang membuatnya patah hati sudah tak lagi ada di desa pagi itu. Gadis itu berusaha untuk tak memedulikan, Ia masih kecewa dengan sikap Yosida. Betapa tega pria itu menghancurkan perasaannya.
Ia mulai keluar untuk membersihkan diri. Namun, diluar dugaan. Terlihat pemandangan yang sedikit aneh, warga heboh beramai-ramai memperbincangkan sesuatu, entah apa yang baru saja terjadi.
Kirana mencoba bertanya pada salah seorang warga perihal kerbutan yang sedang terjadi? Mengapa warga begitu heboh?
"Barusan, ada satu kelompok pembunuh bayaran melintas di desa ini. Mereka bilang sedang mencari seorang pria." jawab seorang pria tambun yang ditanyai Kirana.
"Ahh iya! Ini ..." Pria itu kemudian memberikan selembar kertas berlukiskan wajah seorang lelaki.
__ADS_1
Kirana memperhatikan dengan seksama wajah yang terlukis di kertas itu. Namun, sepertinya wajah itu tak terlihat asing.
"Mereka bilang, pria itu seorang buronan, dan nyawanya seharga seratus keping emas!" sambung pria tambun itu setengah girang.
"Oh ya! Kata mereka, pria itu bepergian dengan seorang gadis!" sambungnya.
'Bepergian dengan seorang gadis?' Sedetik kemudian Kirana membatin.
Seketika Kirana teringat pada Yosida. Lalu kembali ia menatap lekat kertas yang berlukiskan wajah pria itu. Dan benar saja, lukisan itu mirip dengan wajah Yosida.
'Apa mungkin? Yosida ... !' batin Kirana.
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar ricuh beberapa warga berteriak.
"Itu dia! ... itu wanitanya! Itu wanita yang tadi malam bersama pria ini!" Lelaki asing itu menunjuk pada sebuah kertas lukisan di tangannya. Sedang jari telunjuk mereka mengarah pada Kirana.
Kirana terkejut mendapati dirinya seakan berubah menjadi buronan.
Sedang di gjadpannya, terlihat beberapa pria bertubuh besar dengan senyum menyeringai.
Wajah mereka bringas, pakaian mereka tebal tetapi lusuh.
'Ohh tidak! Mereka pria yang mengejarku saat itu! Mereka para pembunuh kiriman itu!' batin Kirana.
Tanpa pikir panjang, segera sang gadis berlari dan langsung disusul oleh mereka yang seketika mengejar dari jarak dua puluh lima meter.
Mereka mengejar Kirana di kawasan rumah padat penduduk. Beberapa dagangan pasar pun terhambur akibat tertabrak oleh para pembunuh itu.
Kirana terus berlari hingga menemukan sebuah pabrik tak berpenghuni. Ia masuk dan menutup kembali pintu lalu bersembunyi di balik bongkahan papan yang ditumpuk tinggi.
Para pembunuh itu berhenti berlari tepat di depan pabrik tempat Kirana bersembunyi.
"Ayo berpencar! Kalian cari kesebelah sana! Kali ini jangan biarkan Ia lolos!" tukas salah seorang dari mereka.
Kirana mengintip mereka dari balik celah lubang kecil.
Braaak!
Salah seorang mendobrak pintu pabrik. Kirana merunduk, tangannya bergetar lalu menyenggol salah satu papan kecil di hadapannya, tentu saja menghasilkan bunyi. Bunyi yang dapat mengundang telinga siapapun yang mendengarnya
Kirana makin merunduk. Sedetik kemudian seseorang menarik pelan selendang Kirana dari arah belakang. Kirana menoleh perlahan.
__ADS_1
Nampak seorang pria dengan sorot mata tajam sedang menatapnya, senyum menyeringai terpancar dari kedua bibir itu.
Bersambung .....