
Cinta Pria Berdarah Dingin
Part 19
Kirana masih duduk manis sembari berbincang dengan Ying Hyen.
"Baiklah, akan kubawakan jamuan dari ibu untuknya!" sambung Kirana.
Ying Hyen tersenyum palsu. "Hmm," sahutnya. "Kapan kau berniat menemuinya?"
"Sebenarnya aku ingin menemuinya saat ini juga."
"Sebaiknya jangan!"
"Kenapa?"
"Dia juga baru saja mengetahui bahwa dirinya tengah hamil, jadi ... biarkan dia sendiri untuk sesaat."
"Baiklah kalau begitu, aku akan menemuinya esok saja!"
"Ide bagus, sekalian ibu mempersiapkan jamuannya."
"Hmm." Kirana mengangguk. "Baiklah, Bu. Kalau begitu, akan kutunggu jamuan ibu untuknya besok."
Ying Hyen mengangguk seraya tersenyum.
*****
"Hamura, kau sudah menambahkan ramuan penggugur kandungan dalam jamuan itu?" bisik Ying Hyen pagi itu.
"Ya, Tuan!" sambungnya.
"Cepat! Antarkan jamuan itu ke kamar Kirana!"
"Hmm!" Ia mengangguk lalu berjalan mengendap-endap keluar dari ruang gudang milik ibu suri menuju kamar Kirana.
Sesampainya di depan pintu kamar, ia mengatakan pada beberapa penjaga untuk mengantarkan jamuan pada Putri Kirana. Dengan segera para penjaga memberitahukan hal itu. Kirana menyambutnya dengan ramah. Tak butuh waktu lama, setelah selesai mengantar, Hamura bergegas pergi dari kediaman Putri Kirana.
Kirana tengah bersiap dengan kimono khas seorang istri Kaisar. Berdandan dibantu oleh beberapa pelayan setianya. Ia sengaja menggunakan riasan untuk menutupi wajahnya yang pucat. Meski terlihat pulih, Kirana sebenarnya belum sembuh total. Untuk beberapa saat, ia masih sering merasakan sakit di bagian kepala, perut, dan luka bekas goresan di pergelangan tangannya. Namun ia berusaha menyembunyikan hal itu dari orang sekitarnya. Termasuk ibu suri dan Yosida.
__ADS_1
"Selamat Kiera, sebentar lagi kau akan menjadi seorang ibu," tutur Kirana pada Kiera setelah sebelumnya mengetuk pintu dan masuk atas izin Putri Kiera.
Kiera memberi senyum sedikit tertahan. "Hmm," ujarnya. "Maafkan aku, Kirana, maaf aku telah merebut posisimu!" tuturnya.
"Kau tak perlu meminta maaf, ini semua salahku, karena aku belum bisa memberi keturunan pada Kaisar Yosida.
Kiera lantas merangkul Kirana. "Hatimu benar-benar mulia. Kau lebih pantas berada di samping Yosida ketimbang diriku. Pantas saja jika Kaisar Yosida jatuh hati padamu."
"Ahh, kau terlalu berlebihan memujiku!" Wajah Kirana tampak sedikit merona. Lalu melepas pelan pelukan Kiera.
"Tidak! Aku serius! Selama aku bersamanya, hanya namamu yang selalu diingat olehnya." ucap Kiera.
"Maksudmu?"
"Iya ... dia lebih sering memanggilku dengan nama Kirana. Jujur saja, aku sedikit iri padamu."
"Benarkah?"
"Hmm!"
Kirana terdiam untuk beberapa saat. "Ahh iya, ini ada sedikit jamuan dari ibu suri. Dia memintaku mengantarkannya padamu!" Tangannya menyodorkan satu nampan berisi penuh dengan berbagai sajian makanan dan kue.
"Waaah, sepertinya enak! Tapi ... mengapa bukan ibu suri sendiri yang mengantarkannya?"
"Oh begitu, terima kasih Kirana."
"Hmm. Cobalah!" tawar Kirana.
Kiera menyantap beberapa makanan yang tersaji di hadapannya. "Hmm, ini enak!" pujinya.
"Kalau begitu, makanlah!" ucap Kirana lembut. "Sebelumnya, Ibu suri juga sering mengantarkan makanan padaku. Dan rasanya memang selalu enak."
"Benarkah?"
"Hmm." sahutnya. Kirana memegang tangan Kiera. "Baiklah, aku akan mengunjungimu lagi lain waktu. Jaga kesehatanmu ya!" tuturnya seraya melepas pegangan pada tangan Kiera. Ia hanya mengangguk disusul dengan Kirana yang kemudian beranjak meninggalkan kamar kediaman Kiera.
*****
Beberapa pelayan dan kasim berlari berhamburan. Entah apa yang terjadi. Tampak mereka ricuh memperbincangkan sesuatu di seluruh sudut kediaman Putri Kiera.
__ADS_1
Kirana yang mendengar keributan lantas ikut keluar, mencari tahu penyebab berkumpulnya para pelayan dan kasim
Di kejauhan, tampak Ying Hyen datang dengan setengah berlari.
"Ada apa?" tanya Ying Hyen panik.
"Anu ... yang mulia, Ibu suri! Itu ...."
"Itu apa? Cepat katakan!"
"Putri Kiera, sepertinya beliau mengalami keracunan makanan, mulutnya terus mengeluarkan busa!"
"Apa?" Ying Hyen terkejut. Seketika wajahnya berubah pucat. Dilangkahkan kakinya dengan cepat masuk ke kamar Kiera. Jantungnya berdegub kencang akibat rasa takut saat melihat secara langsung kondisi Kiera. 'Jangan-jangan!' batinnya.
Beberapa tabib berusaha memasukkan obat penangkal racun ke dalam mulut Kiera. Namun sia-sia. Ia terus saja menyemburkan busa dari mulutnya yang mulai kebiruan.
'Apa mungkin karena jamuan yang kukirim untuknya? Ahh tidak mungkin! Hamura tak mungkin salah mencampurkan obat.' batinnya terus berkecamuk.
Para pelayan setia Kiera terus menangis tak henti-henti. Duduk dengan posisi bersimpuh.
Yosida yang saat itu sedang berada di istana, segera bergegas mendatangi kediaman Putri Kiera setelah mendapat kabar dari beberapa penjaga. Ia lantas duduk di dekat Kiera. Memegang erat tangannya.
"Kiera, kumohon! Jangan pergi," pintanya pada Kiera yang terlihat mulai sekarat.
Para tabib terus mencoba berbagai cara untuk menyelamatkan nyawa Kiera. Namun sepertinya mereka tak cukup mampu melawan takdir. Kiera menghembuskan nafasnya pada saat itu juga. Para pelayan setia Kiera semakin histeris. Mereka menangis sejadi-jadinya.
Kirana masuk perlahan dengan wajah sendu, hatinya pilu menyaksikan para pelayan setia Kiera yang yang terus menangis.
Salah seorang dari mereka mendongak, matanya membelalak mendapati Kirana yang tengah berada di kamar Kiera.
"Itu dia! Dia pelakunya!" pekiknya. Jari telunjuknya mengarah pada Kirana.
Seketika seisi ruang menoleh ke arah Kirana. Kirana menjadi panik.
"Apa maksudmu?" pekik Kirana.
"Kaulah orang terakhir yang mengantar makanan pada Putri Kiera, sebelum akhirnya dia keracunan! Kaulah pelakunya!"
Glek!
__ADS_1
Kirana menelan saliva.
Bersambung ....