
"Kalau boleh tahu, apa tujuan Tuan Muda kemari?"
Yosida memutar bola matanya, menatap lekat sang mantan pelayan kaisar itu.
"Aku sedang membutuhkan bantuanmu!" sahutnya mantap.
"Apa yang bisa aku lakukan untuk anda, Tuan?"
"Aku ingin beberapa pasukan, kirimkan pasukan setiaku dari istana?"
Sang kasim mengernyit. "Baiklah! Akan aku sampaikan pada mereka nanti. Apakah Tuan ingin aku sampaikan salam pada ibu suri?"
"Tidak! Aku tidak ingin ibu suri mengetahui keberadaanku!"
"Tapi ... kenapa? Ibu suri merindukanmu, Tuan!"
"Tidak! Ia tak pernah merindukanku!"
Kasim terdiam sejenak.
"Baiklah, apapun demi Tuanku! Akan aku lakukan sebisaku!"
Yosida tersenyum tipis. "Aku mempercayaimu!" ucapnya seraya menepuk pundak kasim.
*****
Sanh pria kembali melanjutkan perjalanannya setelah hampir dua hari lamanya ia menumpang pada sang kasim, pria tua yang menjadi kawan lamanya.
Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, ia akhirnya sampai di salah satu perbukitan bernama Choi be. Dari berita yang disampaikan kasim, pasukan Kida akan melintas di kawasan itu.
Ia lantas duduk pada sebatang pohon tumbang, memejamkan mata sejenak, merasakan sedikit kehangatan sinar mentari. Bayangannya merindukan seorang wanita, wanita yang telah mengisi hatinya yang sudah lama hampa. Wanita yang pertama kalinya membuat Yosida merasakan belaian hangat.
Sesuatu menyentuh pundaknya. Yosida mengerjap. Sebuah pedang tajam dan mengkilap mengarah ke leher. Terlihat seorang pria berandal sedang berdiri di hadapannya. Tangan kanannya memegang erat pedang yang mengarah ke leher Yosida. Sementara tangan kirinya sibuk menggaruk alat penciumnya, jarinya asik bermain di sela lubang penghirup itu, menggali emas di dalamnya kemudian menjentikkan jarinya.
"Cih!" Yosida tertawa tipis. Pria itu menyeringai membalas tawa Yosida.
"Kurasa mitos itu benar! Sepertinya kau memang pria tangguh yang memiliki puluhan nyawa!" ucapnya. "Mari kita lihat, seberapa banyak nyawa yang kau miliki!"
Yosida tak membalas. Netranya menyorot tajam, menyiratkan kemurkaan.
Whuuus!
Yosida mengayunkan kaki bagai kilat, menyambar tangan si pria berandal, membuat pedangnya terlempar ke atas.
Reflek, tubuh Yosida berputar menangkapnya lalu kembali berdiri dengan posisi siaga.
__ADS_1
Pria berandal itu tak mau kalah, segera ia menghunus pedang yang terpasang di pinggul salah satu kelompoknya. Dibantu oleh kawanan kelompok berandal lainnya. Namun, tak lantas membuat Yosida terlengah.
Satu-persatu musuh mulai terjatuh, merintih. Sebagian terluka karena tertusuk, sebagian lainnya mendapat luka koyak. Darah segar bersimbah di mana-mana.
Di sela sengitnya pertempuran, mendadak tiga sosok keluar dari dalam tandu. Dua lelaki dan sisanya wanita yang tak lain adalah Kirana.
Tangan Kirana diikat lalu diseret paksa untuk berjalan. Gadis itu tertatih, kedua pria kemudian menghentikan langkahnya, membuat si gadis duduk tersungkur. Wajahnya pucat dan terlihat sangat lemah.
Sontak Yosida menghentikan pertempurannya.
"Biadab kau, Kida!" gertaknya. Tampak jelas rautnya yang kemerahan menahan amarah. "Lepaskan wanitaku!"
"Hahaha! Wanitamu?" sang berandal tertawa lepas.
"Akhirnya! Sekarang kau tunjukkan pada dunia kalau kau benar seorang pria!" ledeknya.
"Ohh, jadi seperti inilah wanita pilihan si pangeran terkutuk!" hinanya pada Yosida.
"Hmm ... kurasa seleramu cukup baik! Cantik dan pemberani!" pujinya pada si gadis. Sementara tangannya mengangkat paksa wajah sang gadis.
"Jangan sentuh dia!" hardik Yosida. Sorotnya benar-benar menunjukkan kemurkaan.
"Aw aw aw ... santai sedikit! Kau ingin aku melepaskan wanitamu? Itu mudah. Cukup serahkan dirimu dan jangan melawan."
Yosida tertawa menyeringai. "Kau pikir aku mempercayaimu?"
"Lepaskan dia! aku akan menyerahkan diriku!"
"Hmm ... anak pintar! Tak kusangka, ternyata mudah untuk menjinakkanmu. Baiklah! Lepaskan dia!" perintah si berandal pada salah satu bawahannya.
"Tidak Yosida! Jangan lakukan! Tak mengapa jika aku harus mati," tutur Kirana.
"Hahaha ...."
"Lihatlah wanita ini! Sungguh dramatis!" sang berandal tertawa lepas. "Dia bahkan rela mati demi pengkhianat terkutuk sepertimu, Yosida!"
Yosida tak menjawab. Sorot matanya tajam tak berkedip menatap Kida, matanya seolah berbicara dan membalas ucapan Kida.
"Ikat dia!" perintah Kida pada bawahannya.
Para berandal itu mulai mengikat tangan Yosida.
Yosida tak memberi perlawanan, hanya matanya yang terus menatap Kida tanpa henti. Mereka mendorong paksa Yosida agar menunduk, dan berhasil membuat kedua lututnya menyentuh tanah.
sang berandal mendekat lalu menepuk-nepuk bahu Yosida.
__ADS_1
"Aku ingin tahu, apakah luka tusukan itu masih ada?" Bisiknya di telinga Yosida.
Berandal itu kemudian berpaling, lalu dengan cepat memutar badan, tangannya mengepal, mendarat pada bagian dada Yosida.
Buuug!
"Aaaah." Yosida mengerang, menyemburkan darah dari mulutnya.
"Tidaaak!" teriak Kirana. Mendadak si berandal menendang tubuh Kirana, membuatnya jatuh tersungkur di tanah.
Mata Yosida membelalak. Tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Si berandal menghunuskan pedangnya, dan mulai mengangkat di atas kepala Yosida.
Shuuut!
Satu buah anak panah mendarat tepat mengenai punggung sang berandal Kida, anak panah itu bahkan menembus ke perut.
Bruush!
Ia menyemburkan darah dari mulutnya.
Pedangnya terjatuh, tangannya bergetar meraba bagian perut yang mulai mengalirkan darah segar. Sedetik ia menatap Yosida, lalu perlahan tubuhnya jatuh tergeletak di atas tanah.
Shut shut shut!
Kembali puluhan anak panah beterbangan mengenai seluruh pasukan Kida yang tengah berada di bukit itu. Dan tak menyisakan satu pun dari mereka.
Hanya Yosida yang masih terdiam mematung, menyaksikan Kirana yang tergeletak di tanah.
Para prajurit setia kiriman kasim telah mengepung area perbukitan Choi be.
"Tuan muda, kau baik-baik saja! Maaf aku hampir terlambat." Kasim menghampiri Yosida setelah sebelumnya berlari ke arahnya. Disusul oleh puluhan prajurit setia Yosida. segera Kasim melepas ikatan di tangan Yosida.
"Tidak apa, terima kasih, aku tau kau bisa dipercaya!" ucapnya, kemudian berlari menghampiri Kirana, tangan kekarnya mengangkat tubuh mungil itu.
"Kirana! Kirana bangun!"
Sang gadis membuka mata. Dalam keadaan setengah sadar ia tersenyum. "Terima kasih, karena sudah mengatakan aku wanitamu!" bisiknya perlahan.
"Ckk Bodoh!" Yosida berdecak kesal.
Segera Yosida mengangkat tubuh Kirana, meletakkannya di dalam tandu yang sudah dipersiapkan oleh kasim dan prajurit kirimannya.
"Mengapa kau ada di sini?" Yosida dikejutkan dengan hadirnya ibu selir yang ternyata sedari tadi telah menunggunya di dalam tandu.
__ADS_1
Bersambung ....