Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin

Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin
Di Bawah Pendopo Musim Salju


__ADS_3

Ying Hyen menatap lekat putranya itu.


"Yosida, aku ini ibumu! Apa kau sama sekali tidak merindukanku?"


"Tidak! Kenapa aku harus merindukanmu?"


Yosida lantas memanggil kasim. "Antarkan Ibu Suri kembali ke istana!"


Sang Kasim hanya diam membisu.


"Kasim! Apa kau tak mendengar perintahku!"


"Tapi, Tuan ... !"


"Yosida! Dengarkan ibu! Kembalilah ke istana, aku dan para Menteri sudah mempersiapkan rencana matang untuk melakukan pemberotakan pada Kaisar Zhou. Kita akan membalas perbuatan pamanmu. Dan sebagai hadiah, kau akan menggantikan posisinya, menjadi Kaisar yang baru." ungkap ibu suri.


"Tidak! Aku tak mau! Aku tak menginginkan jabatan itu. Kau .. berjuanglah sendiri untuk mencapai tujuanmu!"


Plaaak!


Sebuah tamparan mendarat di wajah tirus Yosida.


"Apa yang kau pikirkan, Yosida! Sampai kapan kau akan hidup melarat seperti ini?" hardim ibu suri.


Yosida memasang lekat wajahnya di depan Ying Hyen.


"Kehidupanku yang melarat ini, jauh lebih baik dari kehidupanku di istana." tuturnya.


Ia kemudian turun dari tandu, beranjak dengan tangan yang masih menggendong Kirana di dada.


"Kau mau kemana, Yosida!" panggil ibu suri yang juga ikut turun mengejar putranya.


"Itu bukan urusanmu!"


"Siapa wanita yang kau bawa itu!"


"Itu juga bukan urusanmu!"


"Yosida! Jangan bergaul dengan orang yang tak sepadan dengan kita. Lepaskan wanita itu! Dia tak pantas bersanding denganmu!"


"Cih" Yosida meledek dengan tertawa geli.


"Apa kau lupa siapa dirimu sebelum menjadi Ibu Suri? Jangan lupa, kau dulunya hanya seorang Selir!" tukas Yosida kemudian berpaling meninggalkan Ying Hyen.


"Yosidaaa!"


Pria itu tak menghiraukannya, ia terus berjalan tanpa menoleh kembali pada ibunya. Terdengar teriakan Ying Hyen mengamuk. Namun, sang pria tetap berlalu tak menggubris.


*****


Dengan menunggangi seekor kuda, meletakkan Kirana di posisi depan, kedua tangannya menahan tubuh mungil Kirana agar tak terjatuh.


Yosida akhirnya sampai pada sebuah penginapan milik dinasti Kaisar Gaozu di desa Sakura.


Ia turun dengan menggunakan jubah besar menutup identitasnya agar tak dikenali oleh warga sekitar. Sebab, lukisan wajah sang pangeran terpampang jelas di setiap tiang bangunan di desa itu.

__ADS_1


Yosida menggendong Kirana masuk ke tempat penginapan yang terbuat dari kayu.


Bangunan itu cukup mewah juga bertingkat. Terdapat taman yang luas di area belakang yang masih tertutup salju. Beberapa pelayan wanita terlihat sibuk menyapu sebagian salju yang mulai menebal. Terdengar jelas tawa riang mereka sembari bermain lempar bola.


Seorang pria yang memang sudah menunggu kedatangan Yosida, menyambutnya dengan ramah.


"Apakah anda tuan Yosida?"


"Ya."


"Mari, ikut saya .. sebelah sini!" ucapnya. Pria itu mengarahkan Yosida menuju ruang yang sudah dipersiapkan.


"Ini kamar untuk sang wanita, dan sebelah sini kamar anda!" tuturnya ramah, seraya mengarahkan Yosida. Kamar yang cukup hangat, nyaman dan pas.


"Terima kasih!" sahut Yosida setengah menundukkan kepala. Ia balas menunduk, kemudian pergi meninggalkan Yosida.


Pria itu lantas masuk dan meletakkan Kirana di atas ranjang yang serba beralaskan warna putih. Lalu berjalan keluar, menutup pintu kamar secara perlahan. Beberapa pelayan wanita berdiri menunggunya dari luar kamar.


"Masuklah! Tolong rawat dia sebaik mungkin!" perintah Yosida pada mereka. Kemudian berlalu. mereka mengangguk meski Yosida sudah tak lagi berada dihadapan.


Yosida menghangatkan diri dengan berendam di sebuah bak yang dirancang khusus untuk pria dewasa. Netranya memejam, menikmati sensasi rileks air hangat.


Cukup lama sang pria berada di pemandian, ia akhirnya keluar setelah selesai berias dengan pakaian khas bangsawan. Berjalan menyusuri lorong kembali ke kamar. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar Kirana. Ia penasaran, bagaimana keadaan Kirana? Sudahkah ia sadar?


Perlahan ia membuka pintu kamar, terlihat Kirana sedang mengganti pakaian.


Tampak tubuhnya yang mungil itu, bug*l secara sempurna. Segera Yosida kembali menutup pintu dengan perlahan. Sehingga Kirana tak menyadari jika Yosida berkunjung ke kamarnya tanpa mengetuk terlebih dahulu.


Tak ingin melewatkan saat-saat musim salju, sang pangeran menyusuri taman belakang yang masih tertutup salju. Kristal-kristal dari salju menggantung di beberapa pohon yang tak berdaun. Ia duduk di atas pendopo yang sudah di sapu oleh beberapa pelayan sebelumnya. Secangkir susu jahe hangat menemaninya. Sang pangeran lantas berebah memejamkan mata, menikmati suasana musim salju.


"Hai," sapa Kirana.


Yosida hanya membalasnya dengan sedikit senyuman. Kemudian melipat kedua tangannya di bawah kepala, lalu kembali pandangannya ke arah langit.


Kirana kemudian menyampingkan tubuhnya, menghadap Yosida.


"Terima kasih sudah menyelamatkanku!" ungkapnya.


"Hmm," sahut Yosida singkat.


"Kau .. tak merindukanku?"


"Aku?"


"Hmm!"


"Ya! sedikit."


Kirana mengernyit. "Hanya sedikit?? Tapi walau sedikit, mengapa kau tak mau menatapku?"


"Sengaja! Takut kau akan terlena dengan ketampananku!" tuturnya.


Ungkapannya berhasil membuat sang gadis tertawa tipis. "Jadi ternyata, kau itu seorang pangeran!" ungkap Kirana.


"Hmm ... lalu? Apa itu artinya kau tak mau menerimaku?" tanya Yosida.

__ADS_1


Kirana kembali tersenyum, mengangkat setengah tubuhnya dan merapatkan pada tubuh sang pangeran.


Sementara netranya menatap lekat wajah pria di hadapannya. Tentu saja hal itu cukup membuat jantung Yosida berdegub.


"Sejak kapan kau mulai menyukaiku!" tanya Kirana.


"Sejak kau menyeretku ke ujung gua, dan melepas pakaianmu di pinggir sungai."


Kirana mengernyit. "Bukankah saat itu kau masih tak sadarkan diri!"


"Entahlah! Mungkin karena kau melucuti pakaianmu di depan pria perjaka."


Kirana tertawa lepas. "Begitukah?"


"Hmm."


"Yosida!"


"Hmm."


"Aku mencintaimu!" ucap Kirana


Yosida menoleh ke arah Kirana, spontan Kirana menciumnya. membuat sang pangeran terdiam tak berkutik. Dadanya berdegub kencang hingga beberapa saat, mereka kembali saling bertatap.


"Kirana ... maafkan aku. Seharusnya dari awal kau tak menemuiku. Sekarang kau sudah terlanjur jauh masuk dalam kehidupanku." ungkap Yosida. "Aku mencintaimu! Dan tak akan melepaskanmu! Jika sekali saja kai masuk dalam keluargaku, maka kau tak lahi dapat keluar!" tutur Yosida.


"Apa kau sedang mengancamku!"


"Tidak Kirana! Itu adalah aturan tetap di istana!"


"Aturan itu kita sendiri yang menciptakan!"


"Tidak jika kau anggota keluarga di istana!"


"Begitukah?"


"Yaa!"


Kirana tersenyum. "Jadi! Apakah sekarang aku telah resmi menjadi anggota istana!"


"Tergantung!"


"Tergantung??"


"Ya! Jika kau sanggup menerima resikonya!"


"Aku siap menerima apa pun risikonya, asal aku bisa terus bersamamu," sambung Kirana.


"Kau yakin?"


"Ya!"


Yosida menatap lekat kedua bola mata Kirana. Lalu kembali mencium keningnya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2