Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin

Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin
Pertarungan Gladiator


__ADS_3

Gaeeess! CPBD kembali hadiiir! Maaf yaa sudah membuat kalian menunggu lama😚


#Cinta_Pria_Berdarah_Dingin


#CPBD


Oleh : Maria Ramzz


Part 29


Para tamu undangan tampak hadir dari berbagai kalangan bangsawan. Mereka duduk di kursi penonton terdepan arena gladiator. Terlihat anggun dengan memakai pakaian yang dijahit khusus dengan bahan kwalitas terbaik. Beberapa asik berbincang, berkenalan antara sesama bangsawan, saling unjuk harta.


Cuaca langit saat itu cukup mendukung. Awan tebal yang menutup sinar mentari menciptakan suasana mendung. Tampak beberapa kasim terus sibuk membersihkan salju di arena gladiator yang turun sedikit demi sedikit.


Lonceng dinasti Thai Pan dibunyikan pertanda pertunjukkan akan segera dimulai. Thai Pan tampak hadir di kursi teratas, kursi takhta Kaisar milik dinasti itu.


Matanya mengitari penonton yang tampak penuh sembari tersenyum puas.


*****


Yosida berdiri di barisan tengah di sel tahanan. Gerbang yang menuju pintu masuk arena gladiator. Memejam seraya mengepal tangan berdoa.


Perlahan terdengar keras gesekan pagar penutup gerbang sel yang berujung runcing dibuka. Suaranya cukup membuat tegang para petarung. Pun dengan para penonton yang mulai hening memasang bola mata tanpa berkedip, menunggu dimulainya pertarungan.


Keringat dingin mulai bercucur membasahi dahi para pejuang. Berdiri tegap memantapkan diri. Mereka siap mempertaruhkan nyawa demi meraih kebebasan.


Pejuang pertama yang berada dibarisan terdepan tampak menoleh ke arah kawanannya dengan wajah cemas. Tampak petarung lainnya mengangguk, memberi semangat agar tak gentar menghadapi lawan.


Dengan berbekal satu bilah pedang dan sebuah perisai baja, pejuang pertama akhirnya melangkah keluar. Sesaat kemudian terdengar riuh sorakan dari para penonton. Para tahanan berusaha mengintip dari balik gerbang.


Selang beberapa menit ....


Tingtingtingting!


Lonceng akhirnya dibunyikan, pertanda salah satu lawan telah gugur. Tampak pejuang tahanan tadi di seret keluar dari arena, dengan luka di beberapa bagian tubuhnya. Pria malang itu tewas berlumur darah. Membuat sorakan penonton semakin riuh. Beberapa pejuang tahanan meremas tangan geram.


Jelas saja ia kalah, sebab lawannya tak sepadan. Yaitu, satu berbanding lima. Hal itu membuat beberapa penonton ikut geram. Mereka menyoraki Kaisar Thai Pan dan para penghuni istananya.


Thai Pan menjadi emosi dengan sorakan para penonton yang tak terima dengan mengatakan pertunjukannya tak adil. Namun, beberapa dari mereka mulai memaksa, meminta kembali uang tiket yang mereka berikan lantaran tak puas dengan pertunjukan yang diadakan oleh dinasti itu. Akhirnya dngan berat hati, Thai Pan membuat kesepakan baru pada pertunjukan gladiator diistananya itu. Dengan pertarungan lima banding tiga.


Meski sedikit kecewa, tetapi para penonton akhirnya pasrah dengan keputusan yang dibuat oleh Kaisar Thai Pan.


*****


"Yang mulia, Selir Kiera. Pertunjukkan sudah berlangsung selama dua jam. Mohon untuk segera hadir. Anda sudah dinantikan oleh Kaisar Thai Pan," seru salah seorang prajurit yang berjaga di istana kediaman selir kaisar.


"Ya, katakan padanya, sebentar lagi aku akan menyusul," tukas Kirana. "Ying Hyen! Aku ingin kau yang ikut menemaniku di pertunjukkan itu. Kau bersedia?"


Glek!

__ADS_1


Ying Hyen terkejut dengan permintaan Kirana saat itu. Matanya membelalak. Entah kenapa wanita yang dianggapnya ****** itu justru memilihnya dan bukan pelayan lain. "T-tapi, Yang mulia." Ia mulai berucap sedikit gagap.


"Ada apa? Apa ada masalah bagimu?"


Tampak Ying Hyen yang mulai gugup. "A-anu."


"Apaa?"


"Ah. Tak apa! Yang mulia."


"Kalau begitu, cepatlah! Aku tak ingin kaisar Thai Pan menungguku lebih lama."


Kirana segera berlalu keluar menuju pintu kamar kediamannya. Tampak Yuki, pelayannya tersenyum meledek Ying Hyen.


Ying Hyen melotot ke arah Yuki, membuat Yuki menghentikan senyumnya sembari memalingkan wajah.


Kirana dan beberapa pelayannya mulai berjalan setengah berlari, disusul Ying Hyen yang ikut berlari dari arah belakang.


*****


Beberapa petarung sudah gugur di arena gladiator. Hanya tinggal beberapa lagi yang masih tersisa. Salah satunya ialah Yosida yang sebentar lagi akan ikut masuk ke dalam arena gladiator.


Tingtingtingtingting!


Lonceng kembali terdengar. Kini saatnya Yosida keluar dari sel menuju arena bersama beberapa pejuang yang tersisa. Mereka keluar tanpa berbekal pedang ataupun perisai, hanya dapat menggunakan jika berhasil meraih senjata yang di gantung di tiang-tiang arena gladiator.


Thai Pan sengaja menampilkan Yosida sebagai pertunjukan terakhir. Sebab nantinya jika ia menang, ia masih harus melawan beberapa binatang buas yang akan dikeluarkan dari dalam sel yang berbeda.


Matanya mengitari para penonton yang asik menyorakinya. Tubuh Yosida yang kekar dengan wajah tampan membuat beberapa wanita melemparkan senyuman padanya, sembari memberi semangat.


Tiga gerbang yang berada dihadapan mereka mulai dibuka. Tampak jelas para petarung dari dinasti Thai Pan yang cukup bringas dengan pakaian dan sepatu besi. Beberapa dari mereka adalah para pembunuh bayaran juga para bandit yang tertangkap melakukan tindakan ilegal.


"Kyaaaa!"


Mereka mulai menyerang secara bersamaan. Yosida dan para pejuangnya membentuk barisan memutar. Siap dengan posisi kuda-kuda. "Khaaa!"


Mereka mulai bertarung satu lawan satu.


Salah seorang musuh menyerang Yosida dengan sebilah pedang. "Sriiing!"


Yosida merunduk, membuat pedang mengitar di atas pundaknya. Lalu kembali berdiri. Kakinya mengayun ke atas, menyentuh lengan musuhnya, membuat pedang musuh terpental sejarak satu meter. Segera musuh berlari untuk kembali meraih pedang miliknya. Namun ia kalah cepat dengan gerakan kaki spontan yang dilayangkan Yosida di pundak musuh. Ia jatuh tersungkur di atas arena.


Tubuhnya yang keras membuatnya tak kehabisan tenaga jika hanya terpental satu kali. Ia kembali bangkit dan menyerang Yosida.


Pertarungan terus berlanjut selama beberapa saat, hingga para musuh mulai berjatuhan. Namun hal itu tak membuat Yosida dan pejuangnya merasa iba. Tanpa belas kasih, mereka menghajar habis para musuh yang mulai lemah hingga tewas.


Segera Yosida dan para pejuangnya meraih senjata yang tergantung di tiang-tiang itu.


Sorakan para penonton semakin tak terelakkan. Riuh dan begitu memekik telinga. Membuat Thai Pan geram, dengan wajah merah, ia memerintahkan para algojonya untuk kembali melepas beberapa lawan terakhir. Yaitu para binatang buas yang sudah ia persiapkan. Lima ekor macan yang berukuran cukup besar tampak memasuki arena gladiator.

__ADS_1


Nyali para pejuang Yosida mulai menciut. Mereka bersatu di tengah arena, membentuk barisan melingkar.


Ggrrrrrr!


Hewan buas itu ikut memutar mengitari mereka.


"Bagaimana ini, Yang mulia?"


"Fokus saja!" sahut Yosida.


Para penonton mulai tegang. Seketika hening sesaat.


*****


Kirana akhirnya sampai di kursi penonton tepat bersebelahan dengan Azuma. "Dari mana saja, Kau?" desis Thai Pan.


Tampak Azuma menoleh ke arah Kirana. Juga beberapa selir lain yang sudah hadir sejak awal pertandingan.


"Ah. Maafkan keterlambatanku, Tuanku!"


"Cepat! Duduklah! Ini pertunjukkan terakhir. Pertunjukkan yang paling ditunggu," pintanya.


"Emm." Kirana mengangguk lalu segera mendaratkan tubuhnya di kursi selir di samping Azuma. Tampak mereka fokus kedepan, menyaksikan pertarungan terakhir yang terbilang cukup menegangkan.


Ying Hyen berdiri di pojok belakang, berusaha berlindung di balik para pelayan lain agar tak tertangkap mata oleh Thai Pan.


"Ying Hyen, berdirilah di sampingku! Aku ingin berlindung di balik tubuhmu saat para binatang itu menyerang mereka," pinta Kirana pada Ying Hyen.


'Brengsek!' batinnya. Ia mengangguk dan berjalan perlahan untuk kemudian berdiri di samping Kirana. Beruntung Thai Pan tak memerhatikannya.


"Psstt! Siapa pria yang kekar itu?" tanya salah seorang selir pada teman sesamanya di samping sembari menunjuk ke arah Yosida dengan wajah semringah.


Kirana menguping pembicaraan mereka.


"Apa kau tak tahu? Dia itu pangeran Yosida! Pangeran yang paling tampan," bisiknya genit.


"Benarkah?"


"Ya! Aku bahkan berharap bisa bercumbu dengannya, walau hanya sekali saja dalam mimpi." Tampak mereka tertawa senggol-senggolan.


Plak! Kirana melayangkan tamparan di wajah selir itu, lalu menatapnya dengan wajah murka. Membuat Thai Pan, Azuma dan selir lainnya menoleh ke arahnya.


"Hei. Apa-apaan kau ini!" pekiknya sembari memegang pipinya yang tampak memerah akibat tamparan keras yang dilayangkan Kirana. "Apa yang salah denganmu?"


Kirana melirik ke sekitar, terlihat beberapa pasang mata yang menatapnya heran.


"Ah- maafkan aku. Entahlah, aku juga tak tahu mengapa aku mendadak emosi!" ucap Kirana memelas dengan ekspresi bingung.


Tampak kedua selir tadi menatapnya sinis. "Dasar wanita aneh! Entah kenapa Kaisar mau meminangmu!" ledeknya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2