Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin

Kisah Cinta Pria Berdarah Dingin
Terjerumus


__ADS_3

#Cinta_Pria_Berdarah_Dingin


#CPBD


Oleh : Maria Ramzz


Part 16


Ying Hyen masih tersurut emosi. Berjalan mondar-mandir. Tangan kirinya menempel pada siku kanannya, sementara jari kanannya terus memegangi pelipis.


"Tenanglah, Tuan!" bujuk penasehatnya.


"Bagaimana aku bisa tenang!" bentaknya.


"Tuan harus tenang, agar kita bisa memikirkan solusinya!"


"Iya, tapi apa?" Ying Hyen terus saja gelisah.


"Tuan, Aku ada ide," seru Hamura.


"Apa itu?"


"Kita harus segera memberi obat penggugur kandungan sebelum Tuan Yosida sendiri yang memeriksanya dengan tabib?"


"Maksudmu?"


"Ya, jika berhasil, kita bisa mengatakan pada tuan Yosida bahwa Kirana telah berbohong!"


Tik!


Ying Hyen menjentikkan jari. "Hebat juga idemu! Berarti, kita bisa membuat Yosida perlahan tak mempercayai Kirana."


Hamura manggut sembari tersenyum licik.


Berita kehamilan Kirana segera diberitahukan pada Kaisar Yosida melalui beberapa pasukan yang dikirim dari istana kekaisaran dinasti gaozu pada Kaisar Yosida. Namun perjalanan yang menempuh satu hari penuh untuk sampai ke tempat tujuan, membuat Yosida hanya bisa kembali ke istana dalam kurun waktu tiga hari.


*****


"Kirana? Apa kau baik-baik saja?" tanya Ying Hyen dari luar kamar setelah sebelumnya mengetuk pintu terlebih dahulu.


Kirana sedikit tertatih saat mencoba bangkit dari tidurnya. "Yaa, Ibu!" sahutnya.


"Boleh aku masuk?"


"Ya."

__ADS_1


Terdengar decit roda kecil bergerak setelah pintu kamar di geser.


"Kau yakin baik-baik saja, Menantuku?"


Kirana tersenyum kecil. "Ya, aku baik-baik saja, Ibu. Hanya sedikit lelah."


"Jangan terlalu banyak gerak, kau harus banyak istirahat."


"Apa ibu sudah mendengar kabar dari Hamura."


"Ya, aku sudah mendengarnya. Selamat ya putriku." ucapnya kemudian merangkul Kirana. "Selamat! Sebentar lagi kau akan melahirkan seorang anak, anak keturunan seorang Kaisar."


Kirana tersenyum bahagia di pelukan Ying Hyen, mertuanya. Sementara Ying Hyen menekuk wajahnya karena kebenciannya hingga terlihat jelas sorot matanya yang tajam penuh amarah.


"Terima kasih, Bu!"


"Hmm."


Melepas pelukannya setelah beberapa saat.


"Ahh ... kebetulan aku membawakan ramuan khusus untukku. Ini ramuan penguat kandungan." ucap Ying Hyen, menyerahkan segelas minuman racikan pada Kirana. "Minumlah!" tawarnya.


"Baik!" sahut Kirana singkat.


"Habiskan!" pintanya lembut.


Ia tersenyum menyaksikannya. Sementara Kirana yang polos ikut tersenyum. Ia tak mengetahui jika dirinya telah masuk dalam perangkap ibu suri.


*****


Tiga hari berlalu, Kirana terus mengeluh sakit di bagian perut. Wajahnya pucat. Hingga akhirnya ia terjatuh tak sadarkan diri.


"Tuan ... tuan Kirana? Sadar, Tuan?"


Membuka mata perlahan. Terlihat samar beberapa pelayan telah mengitari dirinya, mereka terus memanggil nama Kirana yang tengah terbaring lemah di atas ranjang.


"Tuan Yosida! Putri Kirana sudah sadar!" panggil seorang pelayan.


Segera, pria bertubuh kekar itu datang setengah berlari menghampiri Kirana.


"Kau sudah sadar?" tanyanya.


"Apa yang terjadi padaku!"


"Kau baru saja pingsan dan mengalami pendarahan." tutur Yosida.

__ADS_1


Terlihat raut wajah Kirana berubah cemas.


"Benarkah? Bagaimana dengan janinku?" tanya Kirana.


"Tunggulah sebentar, tabib akan datang memeriksakanmu."


Kembali meremas perutnya yang terasa melilit. "Kapan kau kembali?" tanya Kirana.


"Baru beberapa saat yang lalu. Kau tak usah mencemaskanku, jangan bebankan pikiranmu, sayangku!"


"Hmm."


Langkah kaki terdengar mendekat ke arah kamar Kirana. Benar saja, seorang tabib dan seorang kasim datang menghampirinya.


"Tolong segera periksa kondisinya?"


Tabib itu mengangguk lalu duduk di sebelah ranjang. Kirana menatapnya sayu.


"Berikan tangan anda?" pintanya. Ia mengulur tangan perlahan. Tabib mencoba menekan pergelangan Kirana dengan menggunakan dua jari. Ia terus mengulanginya hingga beberapa kali.


"Maaf, yang mulia Tuan Yosida! Aku harus memeriksa bagian perut istri anda?"


"Ya, silahkan, Tabib!"


Tangan tabib menekan-nekan perut Kirana. Matanya memejam berusaha menerawang.


"Maaf yang mulia, saya tidak menemukan tanda-tanda janin dalam rahim istri anda?"


"Apa? Kau yakin sudah memeriksanya dengan benar?" tanya Yosida setengah membentak.


"Ya, Tuan! Saya sudah memeriksanya berulang-ulang. Tapi tetap saja hasilnya sama. Tidak ada janin dalam rahim istri anda!"


"Tidak! Tidak mungkin!" Yosida tampak shok mendengar penuturan tabib. Ia seperti tak terima dengan kenyataan bahwa istrinya tidak mengandung janin darinya. Rautnya tampak gelisah.


"Tenangkan dirimu, Rajaku!"


"Bagaimana aku bisa tenang! Aku pulang terburu-buru karena mendengar kabar bahwa istriku sedang mengandung! Dan sekarang, setelah aku kembali, tabib mengatakan di depanku kalau istriku tidak sedang mengandung!" pekiknya.


Seketika air mata Kirana tumpah. "Maafkan aku suamiku, maafkan aku!"


Kirana berusaha meraih pundak suaminya meski sedikit tertatih. Betapa terpukul hatinya melihat Yosida yang lemah duduk dengan kepala menunduk. Beberapa pelayan berusaha menahannya agar tetap berdiam di atas ranjang. Namun, ia tak mengindahkannya. Hingga tangan mungilnya berhasil meraih pundak Yosida. Segera raganya yang lemah memeluk suaminya yang sedang menangis kecewa.


Yosida terus menangis dalam pelukan Kirana.


"Maafkan aku sayang, maafkan aku!" tangisnya terisak di dekat Yosida.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2